Indonesia masih menghadapi persoalan strategis dalam pengelolaan sampah. Indonesia masih menghadapi persoalan strategis dalam pengelolaan sampah. Produksi sampah nasional yang mencapai sekitar 70 juta ton per tahun (CNBB, 2025) tidak hanya menjadi isu kebersihan semata, tetapi juga mencerminkan urgensi perbaikan dalam sistem pengelolaan lingkungan dan sumber daya.
“Krisis sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi bagaimana cara kita membangun peradaban,” ungkap Dr. Eng. Ir. Mohammad Kholid Ridwan, ST, M.Sc., IPU. ASEAN Eng., dosen Fakultas Teknik UGM sekaligus penggagas riset inovatif, “Pengembangan RDF (Refuse-Derived Fuel) dengan Keterlibatan Masyarakat Tingkat Desa.”
Di balik ancaman tersebut, tersimpan peluang besar untuk mengubah sampah menjadi sumber daya energi. Melalui pengembangan Refuse-Derived Fuel (RDF) berbasis desa, Dr. Ridwan menawarkan solusi berkelanjutan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Sistem ini mengandalkan teknologi pengering hibrid yang memanfaatkan energi surya untuk efisiensi dan pembakaran biomassa untuk menjaga kontinuitas proses. Hasilnya, Tak hanya ramah lingkungan, sistem ini mampu menghilangkan bau dan mempercepat pengeringan dalam waktu singkat, yaitu satu hari.
Namun, tantangan terbesar terletak pada bagaimana memastikan keterlibatan masyarakat sekaligus memenuhi kriteria Standar Nasional Indonesi (SNI). Melalui riset di UGM, Dr. Ridwan dan tim berhasil menemukan komposisi optimal sampah untuk menghasilkan bahan bakar, yaitu 70% anorganik dan 30% organik. Komposisi tersebut mampu menghasilkan pelet RDF dengan nilai kalor mencapai 4.724 Kal/g, yang telah mendekati standar SNI.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran masyarakat Desa Tubanan, Jepara, yang menjadi desa percontohan sekaligus mitra utama dalam penyediaan sampah dan implementasi sistem. Kolaborasi ini juga diperkuat melalui program KKN, kerja praktik, dan tugas akhir mahasiswa UGM.
“Visi kami adalah menduplikasi model ini di setiap desa sebagai unit penghasil energi,” tegas Dr. Ridwan. Melalui inovasi ini, Dr. Ridwan membuktikan bahwa solusi krisis sampah dapat diubah menjadi limbah menjadi energi, sekaligus membangun kemandirian berkelanjutan suatu desa.
Artikel ini disadur dari Konten 3 Minutes Talks dalam youtube resmi FT UGM