Yogyakarta, 12 Mei 2026 — Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) dan PT Geo Dipa Energi (Persero) resmi membuka co-working space sekaligus ruang riset geotermal di Gedung ERIC dan SGLC FT UGM. Langkah ini menandai babak baru kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri energi dalam mempercepat pemanfaatan potensi geotermal Indonesia yang selama ini belum tergarap optimal.
Indonesia menyimpan cadangan geotermal terbesar di dunia, namun konsumsi listrik nasional baru menyentuh 1.500 kWh per kapita—jauh di bawah potensi yang tersedia. Ruang riset bersama ini hadir sebagai jembatan antara riset akademik dan kebutuhan nyata industri: mempertemukan mahasiswa, peneliti, dan praktisi energi dalam satu ekosistem yang produktif.
Kepala Pusat Penelitian Panas Bumi FT UGM, Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM., memaparkan bahwa riset geotermal di FT UGM tidak berhenti pada persoalan teknis pengeboran semata. Ada delapan klaster riset yang berjalan secara paralel: Geothermal Everywhere, Geothermal Environment, Geothermal Industrial Material, Geothermal Energy Extraction and Utilization Technology, Geothermal-Food-Water Nexus, Geothermal Social Engineering, Geothermal Economics, dan Geothermal Regulations. Kedelapan klaster ini menunjukkan bahwa pengembangan geotermal menyentuh dimensi yang jauh lebih luas dari sekadar produksi energi—mulai dari dampak lingkungan, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan panas bumi. Riset-riset ini dijalankan bersama mitra dalam negeri dengan dukungan pemerintah, demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. “Besar harapan saya agar perusahaan-perusahaan geotermal dapat saling bekerja sama,” ujar Pri Utami. Upaya ini juga diperluas melalui program edukasi geotermal yang menggandeng guru dan jurnalis, sebagai langkah nyata menyebarluaskan informasi potensi panas bumi Indonesia kepada masyarakat luas.
PT Geo Dipa Energi bukan sekadar mitra baru bagi FT UGM. Berlokasi di Dieng, perusahaan BUMN ini merupakan pelopor pengeboran geotermal pertama di Indonesia, sebuah rekam jejak yang menjadikannya mitra industri paling relevan untuk menguji gagasan-gagasan riset kampus di kondisi lapangan yang sesungguhnya. Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Ir. Yudistian Yunis, M.Eng., menegaskan bahwa perusahaan membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin meneliti energi geotermal dan energi baru terbarukan. “Mudah-mudahan ini menjadi kerja sama yang berkelanjutan agar kita bisa bersama-sama mencapai transisi energi yang direncanakan pemerintah,” ujarnya.
Urgensi kolaborasi ini diperkuat oleh data yang disampaikan Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., Ketua ERIC (Engineering Research and Innovation Center) FT UGM. Konsumsi listrik Indonesia yang baru mencapai 1.500 kWh per kapita mencerminkan masih besarnya ruang tumbuh yang harus diisi—dan geotermal adalah salah satu jawaban paling realistis: stabil, bebas emisi karbon, dan beroperasi penuh 24 jam tanpa bergantung pada kondisi cuaca. Menurut Prof. Tumiran, kehadiran PT Geo Dipa Energi di lingkungan kampus akan memberikan manfaat langsung: mahasiswa UGM mendapat akses ke praktisi industri terdepan, sementara penelitian yang dihasilkan kampus dapat segera diuji relevansinya di lapangan.
Wakil Dekan FT UGM, Prof. Sugeng Sapto Surjono, menempatkan momen ini dalam konteks perjalanan panjang yang telah ditempuh. “Semoga kegiatan ini menjadi awal babak baru dalam studi geotermal ke depannya. Kolaborasi yang telah berlangsung selama 30 tahun ini dapat menjadi landasan kuat untuk akselerasi yang lebih besar di masa mendatang,” ujarnya.
Peresmian ditandai dengan serah terima co-working space secara simbolis, penyerahan paten inovasi geotermal, serta peluncuran buku The Future of Geothermal Indonesia oleh Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM. Rangkaian acara ditutup dengan kuliah tamu di Gedung SGLC—sebuah pengingat bahwa ruang baru ini bukan sekadar fasilitas, melainkan awal dari percakapan panjang antara kampus dan industri tentang masa depan energi Indonesia. (Humas FT: Haniifah Multivana)




