Universitas Gadjah Mada (UGM) mengukuhkan Prof. Ir. Rochim Bakti Cahyono, S.T., M.Sc., Ph.D., IPM. sebagai Guru Besar dalam bidang Biomassa dan Sampah menjadi Energi (Waste to Energy) pada Selasa (11/8) di Balai Senat UGM. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Mengubah Limbah Menjadi Energi: Inovasi Teknologi Proses untuk Mendukung Transformasi Industri Nasional”, Prof. Rochim menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam memandang limbah, dari sekadar residu menjadi sumber daya yang dapat diolah menjadi energi dan produk bernilai tambah.
Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 52,8 juta ton. Rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan persentase sekitar 58%, sementara sampah organik, khususnya sisa makanan, menjadi salah satu komponen dominan. Dari jumlah tersebut, sekitar 75% sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan tingkat pengolahan dan pemanfaatan yang terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan baru yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan akhir, tetapi juga mengoptimalkan potensi energi dan material yang terkandung dalam limbah dan biomassa.
Prof. Rochim menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah dan biomassa memiliki manfaat ganda, tidak hanya sebagai sumber energi terbarukan, tetapi juga dalam mengurangi timbulan sampah, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, dan menekan emisi. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan inovasi, teknologi, dan rekayasa proses yang tepat agar dapat menghasilkan nilai tambah secara optimal.
Dalam pidatonya, Prof. Rochim memperkenalkan konsep Resource Transformation Engineering (RTE) sebagai pendekatan rekayasa yang menempatkan limbah dan biomassa sebagai sumber daya yang dapat ditransformasikan menjadi energi, material, maupun produk bernilai tambah. Konsep tersebut mengintegrasikan lima aspek utama, yaitu sumber daya (resource), teknologi dan informasi, produk bernilai tambah (value-added product), sistem industri berkelanjutan, serta dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, Waste to Energy menjadi salah satu pendekatan strategis karena mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yaitu meningkatnya timbulan sampah dan kebutuhan energi. Produk yang dihasilkan tidak terbatas pada energi, tetapi juga dapat berupa biogas, biochar, syngas, dan material berbasis karbon lainnya. Prof. Rochim menekankan bahwa tidak ada satu teknologi yang dapat mengolah seluruh jenis limbah dan biomassa. Oleh karena itu, inovasi perlu diarahkan pada integrasi berbagai teknologi dengan mempertimbangkan karakteristik limbah serta aspek teknis, ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Penerapan pendekatan tersebut antara lain terlihat melalui pemanfaatan biomassa sebagai reduktor dalam industri besi dan baja melalui teknologi Chemical Vapor Infiltration (CVI), yang berpotensi meningkatkan efisiensi proses sekaligus menekan emisi karbon. Pengembangan teknologi Waste to Energy dan biogas juga membuka peluang pemanfaatan limbah organik sebagai sumber energi terbarukan.
Salah satu implementasinya dilakukan melalui kolaborasi Pemerintah Swedia dan Waste Refinery Center Fakultas Teknik UGM dalam pembangunan biogas pilot plant di Pasar Buah Gamping. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 4–8 ton limbah organik per hari. Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui analisis tekno-ekonomi untuk mengkaji potensi pengembangan teknologi biogas di Indonesia.
Sebagai penutup, Prof. Rochim menegaskan bahwa di tengah pergeseran dunia menuju ekonomi rendah karbon, Indonesia perlu memandang limbah dan biomassa sebagai modal strategis, bukan sekadar residu pembangunan. Pemanfaatannya membutuhkan sinergi antara riset, inovasi teknologi, pemerintah, dan pelaku usaha agar hasil pengembangan teknologi dapat diterapkan secara nyata di masyarakat. (Humas FT: Syifa)