Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Gadjah Mada memasuki periode kepengurusan baru dengan Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. sebagai ketua untuk masa jabatan 2026–2031. Guru Besar Fakultas Teknik UGM sekaligus mantan Rektor UGM tersebut terpilih dalam pemilihan yang digelar di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Jumat (7/8).
Kepemimpinan Panut akan berlangsung di tengah dinamika perguruan tinggi yang terus berkembang. Karena itu, keberlanjutan program yang telah berjalan sekaligus penguatan kontribusi DGB menjadi salah satu perhatian dalam kepengurusan lima tahun ke depan.
Usai serah terima jabatan dengan pengurus DGB periode sebelumnya, Panut menyampaikan bahwa kepengurusan baru akan mengusung semangat continuous improvement. Menurutnya, berbagai capaian yang telah dirintis sebelumnya perlu dipertahankan dan dikembangkan agar DGB dapat memberikan kontribusi yang semakin luas.
“Dengan motto continuous improvement, kami ingin melanjutkan langkah-langkah sukses yang telah dijalankan oleh kepengurusan sebelumnya. Mudah-mudahan kita semua bisa berkontribusi lebih besar dan lebih kuat untuk pembangunan bangsa ini,” ungkap Panut.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun hubungan kerja yang kuat di antaranggota DGB. Kolaborasi, menurut Panut, diperlukan agar berbagai gagasan dan pengalaman para guru besar dapat dihimpun menjadi kekuatan bersama untuk mendukung perkembangan UGM.
“Mari kita bekerja bersama-sama secara bersinergi, saling asah, saling asih, saling asuh,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. menilai pergantian kepemimpinan DGB dan Senat Akademik berlangsung ketika perguruan tinggi menghadapi perubahan yang semakin kompleks. Perkembangan masyarakat dan lingkungan pendidikan menuntut universitas untuk mampu merespons perubahan secara cepat sekaligus tetap menjaga kualitas institusi.
Ova menekankan bahwa kondisi tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mampu membawa organisasi beradaptasi dan menghasilkan perubahan. “Situasi tersebut memerlukan organisasi yang tanggap, inovatif, dan adaptif, serta memerlukan transformational leadership,” jelasnya.
Menurut Ova, kepemimpinan transformasional tidak hanya berkaitan dengan penciptaan inovasi, tetapi juga dengan upaya memperkuat karakter dan martabat institusi. Dengan arah kepemimpinan tersebut, setiap unsur di lingkungan UGM diharapkan dapat bekerja menuju tujuan yang sama.
Sejumlah agenda strategis juga perlu menjadi perhatian bersama dalam periode mendatang. Penguatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dari agenda tersebut. Selain itu, tata kelola program studi dan pusat studi serta pengembangan ekosistem inovasi juga perlu terus diperkuat.
Dengan kepengurusan baru ini, DGB UGM diharapkan tidak hanya menjaga capaian yang telah diraih, tetapi juga mampu memperluas peran guru besar dalam merespons tantangan akademik, kelembagaan, dan pembangunan bangsa.