KATGAMA TALK #9 kembali digelar dengan mengangkat tajuk “Engineering Your Future: Karier di Era Artificial Intelligence dan Transisi Energi” di Auditorium SGLC Fakultas Teknik UGM, Jumat (14/8). Kegiatan ini menghadirkan Ratih Prima Nugroho, alumni Teknik Nuklir UGM yang kini berkarier sebagai Vice President Surface Engineering, ExxonMobil Cepu Ltd., dengan Mahditia Paramita, alumni Teknik Arsitektur UGM sekaligus Founder and Chief Executive Officer Caritra Indonesia, sebagai moderator.
KATGAMA TALK selama ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan wawasan bagi para wisudawan yang tengah mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Namun, KATGAMA TALK #9 memiliki suasana yang sedikit berbeda. Selain dihadiri para wisudawan Agustus, sejumlah Gamada 2026 turut hadir untuk menyimak pembahasan mengenai arah perkembangan dunia kerja dan kompetensi engineer di masa depan.
Artificial Intelligence (AI) dan transisi energi menjadi dua isu yang semakin kuat memengaruhi dunia engineering. Perkembangan teknologi AI memunculkan kekhawatiran mengenai peran manusia di dunia kerja, sementara transisi energi menghadirkan tuntutan baru terhadap kemampuan dan keahlian engineer.
Menjawab kekhawatiran tersebut, Ratih menekankan bahwa perkembangan AI dan transisi energi bukan berarti menghilangkan kebutuhan terhadap engineer. Sebaliknya, keduanya menghadirkan tuntutan terhadap value baru yang harus dimiliki seorang engineer.
“AI dan transisi energi tidak mengurangi kebutuhan akan engineer, tetapi membutuhkan value baru dari diri seorang engineer,” ujar Ratih.
Dalam paparannya, Ratih memperkenalkan career value matrix yang menggambarkan hubungan antara tingkat keahlian atau expertise dengan kemampuan memanfaatkan AI (AI capability). Ia menjelaskan beberapa posisi yang dapat muncul dalam perkembangan karier, termasuk trusted expert, yaitu engineer dengan expertise tinggi tetapi AI capability rendah, serta fast but fragile, yakni mereka yang memiliki AI capability tinggi tetapi expertise yang masih rendah.
Menurut Ratih, posisi yang paling kuat di tengah perubahan tersebut adalah engineer yang mampu menggabungkan keduanya.
“The most valuable engineers combine deep expertise with AI capability,” jelas Ratih.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena transisi energi tidak hanya membutuhkan pemahaman teknologi baru, tetapi juga keahlian teknis yang spesifik dari berbagai bidang engineering. Ratih mencontohkan kebutuhan terhadap smart grid dalam bidang teknik elektro, thermal system pada teknik mesin, serta AI-driven energy optimization dalam bidang teknologi informasi.
Hal ini menunjukkan bahwa setiap bidang keilmuan memiliki peran dalam menghadapi perubahan menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Karena itu, engineer tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga perlu memahami bagaimana keahliannya dapat menjawab kebutuhan industri yang terus berubah.
Ia kemudian mengajak peserta melihat karier bukan sebagai perjalanan untuk mencapai posisi yang sepenuhnya aman dari perubahan. Di dunia profesional, seorang engineer harus menyadari bahwa kompetensinya selalu dapat digantikan jika tidak terus berkembang.
“That’s the hard truth. Di mata company, kita akan selalu bisa digantikan.”
Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk berhenti berkembang. Justru, engineer perlu membangun kompetensi, memperluas jejaring, dan menunjukkan kontribusi nyata di tempat kerja.
“That’s why we networking,” ujar Ratih.
Menurutnya, tidak ada keberhasilan yang dibangun seorang diri. Perkembangan karier juga dipengaruhi oleh kemampuan seseorang membangun hubungan profesional dan terus menunjukkan kemauan untuk belajar.
Ratih menambahkan bahwa perusahaan yang baik akan melihat perkembangan seseorang. Ketika seorang engineer mampu memberikan kontribusi nyata sekaligus menunjukkan keinginan untuk terus berkembang, peluang baru akan selalu terbuka.
Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi para wisudawan dan mahasiswa yang hadir. Memasuki dunia kerja di tengah perkembangan AI dan transisi energi bukan berarti engineer harus bersaing melawan teknologi, melainkan belajar memanfaatkannya untuk memperkuat keahlian yang telah dimiliki.
Melalui KATGAMA TALK #9, Fakultas Teknik UGM tidak hanya memperkenalkan tantangan dunia kerja kepada calon engineer, tetapi juga mengajak Gamada untuk melihat perubahan sebagai bagian dari perjalanan karier. Keahlian teknis, kemampuan memanfaatkan AI, kemauan untuk terus berkembang, serta kemampuan membangun jejaring menjadi bekal penting bagi engineer untuk tetap relevan di masa depan.