Yogyakarta, 12 Agustus 2026—Perubahan di bumi berlangsung jauh lebih cepat daripada yang sering kita sadari. Es mencair di Puncak Jayawijaya, iklim berubah, ekosistem mengalami tekanan, sementara eksploitasi sumber daya terus berjalan mengikuti laju pertumbuhan peradaban. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, melainkan seberapa cepat kita membiarkannya terjadi.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan utama dalam Sosialisasi Kriteria dan Implementasi Visi Perlambatan Entropi yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Perlambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) di Auditorium SGLC FT UGM, Rabu (12/8). Kegiatan yang diikuti 15 dosen muda ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali spirit perlambatan entropi kepada para pionir baru FT UGM.
Dalam sambutannya, Ketua PKPE FT UGM, Prof. Alva E. Tontowi, menggambarkan perubahan bumi melalui fenomena yang tampak bertolak belakang. “Di beberapa tempat di daerah kita, terjadi musim salju, musim es. Tetapi, di tempat lain, contohnya di Puncak Jayawijaya sana itu justru esnya mencair,” ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut, FT UGM menghadirkan tiga narasumber yang juga sekaligus dosen senior FT UGM yang memiliki spirit perlambatan entropi. Ketiga narasumber tersebut adalah, Prof. Sudaryono, Prof. Andang Widi Harto, dan Prof. Agus Prasetya.
Akankah Sarjana Teknik Menyuburkan Arah ‘Kepunahan Keenam’?
Dalam pemaparannya, Prof. Sudaryono menyoroti pentingnya perlambatan entropi sekaligus tanggung jawab besar sarjana teknik untuk berkontribusi di dalamnya. Sepanjang sejarahnya, bumi telah mengalami lima kepunahan massal. Kepunahan kelima yang terjadi sekitar 66 juta tahun lalu menjadi salah satu yang paling dikenal karena mengakhiri dominasi dinosaurus dan menyebabkan hilangnya sebagian besar spesies pada masa tersebut.
Menurut Prof. Sudaryono, meskipun kelima kepunahan tersebut berlangsung secara alamiah, terdapat kesamaan yang perlu diperhatikan: peningkatan entropi ekstrem. Peningkatan tersebut turut memengaruhi iklim dan lingkungan sehingga banyak spesies tidak mampu beradaptasi.
Kini, persoalan serupa kembali dihadapi manusia, tetapi dengan satu perbedaan mendasar. Peningkatan entropi yang berlangsung saat ini tidak semata-mata berasal dari proses alamiah, melainkan dipengaruhi oleh aktivitas manusia sejak revolusi industri.
Sejak revolusi industri, sarjana teknik berada di garis depan perkembangan peradaban. Infrastruktur dibangun, industri dikembangkan, sistem energi diperluas, dan berbagai teknologi diciptakan melalui kemampuan manusia untuk merekayasa alam. Kontribusi tersebut telah membawa kemajuan yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama meninggalkan konsekuensi ekologis yang tidak dapat diabaikan.
“Akankah sarjana teknik saat ini menyuburkan arah ‘kepunahan keenam’ yang kecenderungannya telah dimulai sejak revolusi industri?” ujar Prof. Sudaryono menekankan tanggung jawab sarjana teknik terhadap kondisi bumi saat ini.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar kritik terhadap perkembangan teknologi, melainkan refleksi atas tanggung jawab ilmu teknik. Ketika teknologi memiliki kemampuan untuk mengubah lingkungan dalam skala besar, maka sarjana teknik juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa perubahan tersebut tidak justru mempercepat kerusakan sistem bumi.
Tekanan tersebut semakin nyata dalam dua abad terakhir. Aktivitas manusia sejak revolusi industri telah mengubah komposisi atmosfer dan berbagai sistem alam secara signifikan. Bahkan, menurut Prof. Sudaryono, lebih dari separuh karbon yang dilepaskan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil dilepaskan hanya dalam sekitar tiga dekade terakhir, sejak awal 1990-an.
Artinya, persoalan lingkungan hari ini bukan sekadar warisan masa lalu. Sebagian besar percepatannya justru berlangsung dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Entropi: Hukum Alam yang Tak Bisa Dihentikan
Dalam sesi selanjutnya, Prof. Andang mengangkat topik “Entropi, Proses Alam, Peradaban Manusia, dan Sustainability”. Ia mengajak peserta memahami entropi bukan sekadar sebagai istilah dalam fisika, tetapi sebagai konsep yang dapat membantu menjelaskan bagaimana alam, teknologi, dan peradaban manusia saling berinteraksi.
“Secara umum entropi dapat diartikan sebagai tingkat ketidakteraturan. Akan tetapi dalam pandangan fisika, tingkat ketidakteraturan dikaitkan dengan intensitas gerakan random dalam suatu sistem,” jelas Prof. Andang.
Untuk memahami konsep ini secara lebih sederhana, entropi juga perlu dilihat dalam kaitannya dengan energi. Entropi bukanlah energi, tetapi keduanya memiliki hubungan. Energi yang tersedia tidak seluruhnya memiliki kemampuan yang sama untuk dimanfaatkan. Sebagian energi masih dapat digunakan untuk melakukan kerja (exergy), sementara sebagian lainnya tidak lagi dapat dimanfaatkan (anergy). Semakin tinggi kandungan entropi, semakin besar pula bagian energi yang berada dalam bentuk yang tidak dapat digunakan.
Kondisi tersebut berkaitan dengan sifat berbagai proses yang berlangsung di alam. Proses nyata pada dasarnya bersifat irreversible, atau tidak dapat kembali persis ke keadaan semula tanpa adanya perubahan atau masukan energi dari luar. Dalam proses yang irreversible, entropi alam semesta bertambah.
Namun, Prof. Andang menekankan bahwa irreversibilitas tidak dapat begitu saja dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Justru sifat inilah yang memungkinkan alam berkembang melalui proses yang memiliki arah tertentu hingga membentuk kompleksitas seperti yang kita kenal saat ini. Jika seluruh proses di alam bersifat reversible, berbagai proses hanya akan berlangsung bolak-balik tanpa menghasilkan perkembangan menuju struktur yang semakin kompleks.
Dengan demikian, perlambatan entropi bukanlah upaya untuk melawan atau menghentikan hukum alam. Entropi tidak dapat dihentikan, yang dapat dilakukan manusia adalah menghindari proses-proses yang mempercepat peningkatan entropi secara tidak perlu, sekaligus merancang sistem yang menggunakan energi dan sumber daya secara lebih bijaksana.
Ketika Entropi Menjadi Persoalan Keberlanjutan
Sebagai pemapar penutup, Prof. Agus Prasetya membawa pembahasan pada topik “Entropi, Kompleksitas, dan Keberlanjutan”. Jika Prof. Andang menjelaskan entropi sebagai bagian dari proses alam, Prof. Agus membawa topik yang lebih dekat dengan kehidupan manusia, yaitu kapan entropi mulai menjadi persoalan bagi keberlanjutan.
Untuk menjelaskan konsep tersebut, Prof. Agus memperkenalkan empat pendekatan mengenai entropi yang dikembangkan oleh Rudolf Clausius, Ludwig Boltzmann, Josiah Willard Gibbs, dan Claude Shannon. Meskipun menggunakan formulasi yang berbeda, keempatnya membawa pesan yang serupa.
“Semakin acak suatu sistem, semakin tinggi nilai entropinya dan semakin tertata, semakin rendah nilai entropinya,” jelas Prof. Agus.
Namun, entropi sendiri tidak berbicara mengenai sesuatu yang baik atau buruk. Entropi menggambarkan keadaan faktual suatu sistem dan lingkungannya. Dalam hukum alam, total entropi semesta, yang mencakup sistem dan lingkungannya, akan terus meningkat.
Hal ini menjelaskan mengapa entropi tidak dapat begitu saja “dihilangkan” dari suatu sistem. Entropi suatu sistem memang dapat diturunkan, tetapi penurunan tersebut akan disertai peningkatan entropi yang lebih besar pada lingkungannya. Sistem pendingin ruangan menjadi contoh sederhana. Ruangan dapat dibuat lebih dingin, tetapi panas yang dikeluarkan justru berpindah ke lingkungan sehingga secara keseluruhan entropi tetap meningkat.
Dari sini, persoalannya bukan semata-mata seberapa besar entropi yang dihasilkan. Persoalan juga terletak pada seberapa cepat entropi meningkat, seberapa cepat terakumulasi, dan di mana akumulasi tersebut terjadi.
Entropi menjadi persoalan bagi kehidupan ketika kenaikannya berlangsung dengan laju yang tidak terkendali, terakumulasi dengan cepat, dan terjadi di ruang tempat manusia hidup, yaitu biosfer. Ketika kondisi tersebut menciptakan ketidakstabilan lingkungan hingga melampaui kemampuan alam untuk mengendalikannya dalam batas yang dapat ditoleransi manusia, persoalannya tidak lagi sekadar persoalan fisika. Ia menjadi persoalan keberlanjutan peradaban.
Kekhawatiran tersebut semakin nyata ketika Prof. Agus membahas batas-batas planet. Dari sembilan batas planet yang menjadi acuan agar bumi tetap berada dalam kondisi aman bagi kehidupan manusia, tujuh disebut telah dilampaui. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena sekitar dua dekade sebelumnya, baru tiga batas yang dilaporkan telah terlampaui.
Di tengah kondisi tersebut, sustainability menjadi penting dalam cara manusia membangun peradaban. Keberlanjutan bukan sekadar menghemat sumber daya, tetapi memastikan sumber daya dan lingkungan tetap mampu menopang kehidupan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, keberlanjutan bukan tentang menghentikan kemajuan, tetapi memastikan kemajuan tidak menghabiskan fondasi yang menopangnya. Sebab, peradaban tidak hanya membutuhkan masa depan untuk terus tumbuh, tetapi juga bumi yang mampu menopangnya.