Sita Adishakti, dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) sekaligus seniman, menghadirkan 86 karya sketsa dalam pameran tunggal bertajuk Black and White Journey. Pameran yang berlangsung secara hybrid ini digelar di Galeri Seni Kawasan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, pada 30 Juli hingga 14 Agustus 2026.
Pameran tersebut tidak sekadar menampilkan karya visual, tetapi juga menjadi ruang bagi Sita untuk membagikan cerita di balik setiap goresan. Karya-karyanya lahir dari berbagai perjalanan yang ia lakukan, baik di Indonesia maupun sejumlah negara seperti Turki, Latvia, Swedia, Austria, Myanmar, Korea Selatan, Taiwan, hingga Amerika Serikat.
Keunikan Black and White Journey terletak pada metode on the spot drawing yang digunakan Sita. Sebagai seorang arsitek, ia merekam suasana, bangunan, dan lingkungan yang ditemuinya secara langsung melalui sketsa. Proses tersebut kemudian menjadi bagian dari pengalaman pameran, ketika pengunjung tidak hanya melihat hasil karya, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan Sita dan mendengarkan cerita serta filosofi di balik setiap gambar.
Sebanyak 86 sketsa yang dipamerkan merekam beragam lanskap dan arsitektur dari berbagai belahan dunia. Mulai dari keindahan Bali di Indonesia, karakter arsitektur di Milwaukee, Amerika Serikat, hingga suasana desa-desa di Korea Selatan menjadi bagian dari perjalanan visual yang dituangkan Sita dalam warna hitam dan putih.
“Dengan 86 gambar, yang dipamerkan tidak hanya secara luring seperti sekarang ini, tetapi juga dipamerkan secara digital,” ungkap Sita.
Konsep hybrid tersebut diwujudkan melalui sebuah platform website yang memungkinkan karya-karya Sita dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas, bahkan setelah pameran berakhir. Kehadiran platform digital ini sekaligus menjadi upaya untuk memperpanjang usia karya agar dapat terus diakses oleh publik.
Tidak berhenti sebagai ruang apresiasi, website tersebut juga memungkinkan pengunjung untuk memiliki karya yang dipamerkan. Dengan demikian, Black and White Journey tidak hanya menjadi catatan perjalanan Sita melalui sketsa, tetapi juga membuka ruang interaksi antara seniman, karya, dan penikmat seni melalui perpaduan pengalaman luring dan digital.
Dokumentasi milik tvonenews