Jumat, 14 Agustus 2026—Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menerima kunjungan benchmarking dari Fakultas Pendidikan Teknik dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kegiatan yang berlangsung di Multifunction Room 2 (MR 2) SGLC FT UGM tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman dan praktik baik dalam penguatan sistem jaminan mutu dan kualitas pendidikan tinggi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Ir. M. Waziz Wildan, Dosen FT UGM sekaligus Dekan FT UGM periode 2016–2021, serta Tommi Hariyadi selaku Ketua Satuan Kendali Mutu FPTI UPI bersama jajaran yang memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan jaminan mutu di masing-masing institusi.
Manajer Layanan Pendidikan dan Jaminan Mutu FT UGM, Ir. Salahuddin, turut mengikuti kegiatan secara daring. Dalam sambutannya, Salahuddin menyampaikan apresiasi atas kunjungan FPTI UPI ke FT UGM.
“Kami menyambut baik dan hangat atas kehadiran Pak Tommy dan rekan-rekan UPI,” ujar Salahuddin.
Sebelum memasuki sesi utama, kegiatan diawali dengan penyerahan plakat secara simbolis dari FT UGM kepada FPTI UPI sebagai bentuk apresiasi dan penanda kerja sama dalam kegiatan benchmarking tersebut.
Memasuki sesi diskusi, FPTI UPI terlebih dahulu memaparkan profil singkat fakultas, standar yang diterapkan, serta sistem penjaminan mutu yang berjalan di lingkungan FPTI UPI. Paparan tersebut kemudian menjadi dasar diskusi dua arah antara kedua institusi.
Berbagai aspek penjaminan mutu dibahas dalam sesi tersebut, mulai dari lembaga akreditasi, mekanisme sistem penjaminan mutu internal, pendanaan dan alokasi sumber daya, hingga pengelolaan program studi. Pertukaran pengalaman ini memberikan gambaran mengenai pendekatan yang diterapkan masing-masing fakultas dalam memastikan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam diskusi adalah penerapan Audit Mutu Internal (AMI) di lingkungan mahasiswa UGM. Selain diterapkan pada program studi, mekanisme evaluasi mutu juga telah menyentuh unit kegiatan mahasiswa (UKM), meskipun dengan mekanisme yang lebih sederhana.
“Di FT UGM, UKM mahasiswa juga terdapat AMI, walau tidak serumit AMI prodi,” ungkap Waziz dalam sesi diskusi.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa budaya mutu tidak hanya ditempatkan pada aspek akademik dan program studi, tetapi juga mulai dibangun dalam berbagai unit dan aktivitas di lingkungan fakultas. Dengan demikian, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dapat menjadi bagian dari tata kelola di berbagai lini.
Melalui kegiatan benchmarking ini, FT UGM dan FPTI UPI tidak hanya memperoleh gambaran mengenai sistem penjaminan mutu yang diterapkan masing-masing institusi, tetapi juga dapat mengidentifikasi praktik baik yang berpotensi diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing fakultas.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya mutu sekaligus membuka ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antara FT UGM dan FPTI UPI dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkelanjutan. (Humas FT: Radaeva)