Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Sistem Informasi Belmawa (Simbelmawa).
Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dari berbagai latar belakang disiplin ilmu berkolaborasi menciptakan sebuah inovasi bertajuk “Intergrasi Panel Surya dan Atmospheric Water Generator Guna Mengatasi Krisis Air, Pangan dan Energi” melalui gagasan bernama AURORA (Autonomous Utility for Renewable Resources).
Tim pengembang AURORA ini diketuai oleh Orva Linnisa Husaina (S1 Teknik Fisika), bersama keempat rekan lintas jurusannya, yakni Rayhana Azzahra Kusmana (S1 Farmasi), Arfa Fadilah Ramadhan (S1 Teknik Kimia), Nayaka Sandya Kesuma (D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan kontrol), dan Faqih Zulfikar Alkaha (S1 Teknik Elektro). Keberhasilan tim menembus ketatnya persaingan program kreativitas mahasiswa tingkat nasional yang tahun ini mencatat sebanyak 21.237 proposal masuk ke Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) mendapatkan apresiasi tinggi dari dosen pembimbing yaitu Budi Sumanto, S.Si, M.Eng dan Universitas Gadjah Mada.
“Sangat bangga melihat semangat dan kepedulian para mahasiswa ini. Di tengah persaingan seleksi nasional yang sangat ketat dengan puluhan ribu proposal dari seluruh Indonesia, mereka mampu menghadirkan solusi komprehensif yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ungkapnya bangga.
Ide besar di balik pengembangan AURORA bermula dari keprihatinan mendalam atas paradoks yang kerap ditemui dalam sektor pertanian modern saat ini. Meskipun praktik pertanian vertikal dan hidroponik telah mampu mengefisiensikan penggunaan ruang di tengah maraknya alih fungsi lahan yang menurut data Kementerian ATR/BPN mencapai 100 ribu hektar per tahun. Sistem yang ada masih memiliki celah besar, sebagian besar pertanian urban saat ini masih sangat bergantung pada pasokan eksternal, baik untuk sumber air (seperti PDAM atau air tanah) maupun pasokan listrik konvensional.
Selain itu, pengelolaan parameter penting seperti pH, nutrisi, suhu, kualitas air, hingga kondisi tanaman di berbagai sistem pertanian vertikal konvensional umumnya masih dihitung dan dikontrol secara manual.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal dan terintegrasi. Padahal, jika kita bicara soal pertanian masa depan, kuncinya ada pada pada pencapaian kemandirian air, pangan, dan energi dalam satu kesatuan,” ujar Orva selaku ketua TIM.
Menjawab tantangan dan memanfaatkan potensi yang ada, tim mahasiswa UGM merancang AURORA sebagai ekosistem utilitas cerdas yang mengintegrasikan berbagai teknologi dalam satu sistem otonom yang menyeluruh.
Inovasi ini bekerja mulai dari penyediaan energi terbarukan melalui panel surya bifacial berdaya guna tinggi, produksi air mandiri lewat Atmospheric Water Generator (AWG) berbasis kondensasi, hingga pemanfaatan struktur bangunan melalui konsep green passive building guna mengoptimalkan ruang di tengah menjamurnya gedung-gedung pencakar langit. Tidak hanya itu, distribusi energi dan irigasi dikelola secara real-time berbasis AI-IoT, lengkap dengan kontrol otomatis untuk kapasitas, nutrisi, pH, suhu air, hingga kesehatan tanaman.
Lebih lanjut, Rayhana memaparkan bahwa inovasi ini dikemas dan disampaikan melalui sebuah Video Gagasan Konstruktif. Format visual ini dipilih agar konsep gagasan dapat divisualisasikan dengan lebih mudah dan menarik bagi masyarakat luas maupun dewan juri.
“Menyampaikan gagasan inovasi tentu memiliki tantangan tersendiri agar menarik dan mudah dipahami. Oleh karena itu, dalam video tersebut kami memadukan teknik sinematografi dan storytelling yang kuat, serta didukung oleh visualisasi animasi 3D dan tracking augmented reality (AR) game user interface (UI). Melalui perpaduan ini, penonton bisa melihat cara kerja AURORA secara visual,” ujar Rayhana.
Lebih dari sekadar inovasi, AURORA secara langsung turut serta mendukung visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam mengimplementasikan Misi 5: Ketahanan Sosial Budaya dan Ekologi, dengan fokus pada poin Berketahanan Energi, Air, and Kemandirian Pangan.
Melalui kolaborasi lintas disiplin ini, tim UGM berharap AURORA tidak berhenti sekadar sebagai sebuah gagasan kompetisi, melainkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk terus menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. Sebab, masa depan ketahanan pangan, air, dan energi Indonesia kelak berada di tangan inovasi-inovasi yang inklusif dan berkelanjutan. (Penulis: Tim Aurora)
