Ruteng dan Borong, Nusa Tenggara Timur – Fakultas Teknik UGM terus berkontribusi dalam mendukung percepatan pemulihan pascabencana gempa Flores 2026 melalui kegiatan rapid assessment bangunan terdampak di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membantu pemerintah daerah dalam memperoleh data awal mengenai kondisi bangunan terdampak gempa sekaligus memperkuat kapasitas daerah dalam melakukan penilaian kerusakan secara cepat, sistematis, dan terdokumentasi.
Di Kabupaten Manggarai, tim Fakultas Teknik UGM bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Manggarai melaksanakan inspeksi langsung terhadap sejumlah bangunan publik yang terdampak gempa dan belum pernah menjalani asesmen sebelumnya. Kegiatan tersebut melibatkan Dr. Angga Trisna Yudhistira, Dr. Cecep Pratama, dan Andika Monanta Emilidardi, M.Eng., bekerja sama dengan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Manggarai beserta jajaran teknis dan didukung relawan mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng. Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Timur, tim yang terdiri atas Dr. Ashar Saputra, Dr. Ardhya Nareswari, Iman Taufiqqurrahman, S.T., dan Maria Cornelya, S.T., melakukan rapid assessment terhadap sejumlah bangunan pendidikan di wilayah Pota, Dampek, dan Borong.
Kedua kegiatan tersebut memanfaatkan aplikasi digital rapid assessment yang sebelumnya telah diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada pemerintah daerah serta para pemangku kepentingan. Melalui aplikasi tersebut, kondisi bangunan dapat didokumentasikan secara langsung, kerusakan yang terlihat dapat diidentifikasi, dokumentasi visual dapat diunggah, dan hasil pemeriksaan dapat terintegrasi ke dalam basis data digital yang dapat dipantau secara real time. Pendekatan digital tersebut memungkinkan proses inventarisasi kerusakan dilakukan secara lebih cepat, terstandarisasi, efisien, dan terintegrasi. Data yang dihasilkan dapat memberikan gambaran awal mengenai tingkat kerusakan dan membantu pemerintah daerah dalam menentukan kebutuhan serta prioritas penanganan, termasuk sebagai bahan perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Pada kegiatan di Kabupaten Manggarai, rapid assessment juga dilengkapi dengan sejumlah pengujian teknis lapangan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi struktur bangunan. Tim melakukan pengukuran lebar retak menggunakan micro crack gauge sebagai salah satu indikator untuk mengetahui tingkat keparahan kerusakan pada elemen struktur. Selain itu, dilakukan pengujian mutu beton permukaan menggunakan Schmidt Hammer Test atau hammer test. Pengujian ini dimanfaatkan untuk memperoleh indikasi awal mengenai kualitas dan kondisi beton eksisting tanpa merusak elemen struktur yang diperiksa. Pada salah satu bangunan publik bertingkat tiga, tim juga melakukan pengukuran kemiringan bangunan menggunakan total station. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya pergeseran atau deformasi struktur akibat guncangan gempa yang dapat memengaruhi stabilitas bangunan. Untuk melengkapi dokumentasi, tim memanfaatkan drone guna memantau bagian bangunan yang sulit dijangkau melalui inspeksi konvensional. Pemotretan udara membantu mengidentifikasi kondisi atap, sambungan bangunan, serta bagian luar gedung secara lebih aman dan efisien.
Berbeda dengan kegiatan asesmen teknis di Manggarai yang dilengkapi dengan sejumlah pengujian lapangan, kegiatan di Manggarai Timur lebih berfokus pada rapid assessment menggunakan aplikasi digital. Pendekatan tersebut diarahkan untuk memperoleh gambaran awal kondisi sekolah terdampak sekaligus mendukung pemerintah daerah dalam penyusunan prioritas penanganan. Selain melakukan asesmen lapangan, tim Fakultas Teknik UGM juga melakukan diskusi dengan Dinas PUPR, Dinas PPO, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya mengenai strategi pemulihan pascabencana yang efektif dan berkelanjutan. Dalam diskusi tersebut, tim berbagi pengalaman penanganan bencana yang pernah dilakukan UGM di berbagai daerah di Indonesia, antara lain dalam penanganan tsunami Aceh, gempa Lombok, serta gempa dan tsunami Palu.
Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya pendekatan pemulihan yang melibatkan masyarakat. Menurut tim Fakultas Teknik UGM, rehabilitasi dan rekonstruksi tidak semata-mata bertujuan membangun kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga perlu memperhatikan pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak serta potensi penguatan perekonomian lokal. Pengalaman penanganan Gempa Yogyakarta 2006 menjadi salah satu bahan pembelajaran mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan kembali. Partisipasi masyarakat dinilai dapat memberikan manfaat tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan. Dalam diskusi mengenai pembangunan hunian sementara (huntara), tim fakultas juga memberikan masukan mengenai pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan mempertimbangkan kondisi geografis dan ketersediaan sumber daya di Nusa Tenggara Timur, material bambu disebut sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan karena relatif mudah diperoleh, memiliki biaya yang relatif rendah, waktu konstruksi yang cepat, serta memungkinkan keterlibatan tenaga kerja lokal.
Pemanfaatan material dan tenaga kerja lokal diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya dari luar daerah yang berpotensi membutuhkan biaya logistik dan waktu mobilisasi lebih besar. Pada saat yang sama, keterlibatan masyarakat dalam pembangunan huntara maupun rekonstruksi rumah tinggal dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga terdampak yang sedang berupaya memulihkan kehidupannya. Rangkaian kegiatan di Manggarai dan Manggarai Timur menunjukkan pentingnya kombinasi antara teknologi digital, inspeksi lapangan, pengujian teknis, dokumentasi visual, serta dialog dengan pemerintah dan masyarakat dalam mendukung proses pemulihan pascabencana. Data hasil rapid assessment tidak hanya diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan pada tahap tanggap darurat, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan data yang lebih sistematis dan terdokumentasi, pemerintah daerah diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Teknik UGM terus menjalankan peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendampingan kepada pemerintah daerah. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa Flores yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, ekonomi, partisipasi masyarakat, dan keberlanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga teknis, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kembali wilayah terdampak bencana agar lebih aman, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan (Penulis: Angga Trisna Yudhistira/ Editor: Mega).
