Perkembangan kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan artifisial, hingga digitalisasi industri diproyeksikan membawa perubahan besar terhadap kebutuhan listrik Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Di tengah meningkatnya kebutuhan tersebut, sistem ketenagalistrikan dituntut tidak hanya mampu menyediakan energi dalam jumlah yang cukup, tetapi juga andal, terjangkau, dan semakin ramah lingkungan.
Tantangan tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas dalam ESDM Goes to Campus bertajuk “Power Up the Future: Mahasiswa untuk Masa Depan Ketenagalistrikan Indonesia” di Auditorium SGLC Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), Kamis (17/9). Kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah, PLN, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas arah transformasi sektor ketenagalistrikan sekaligus peluang kontribusi generasi muda.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komunikasi Publik dan Media, Dwi Anggia, mengatakan kebutuhan listrik ke depan akan semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan aktivitas ekonomi. Kendaraan listrik, pusat data, serta industri yang semakin terdigitalisasi akan membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan dengan tingkat keandalan yang tinggi.
“Ke depan, listrik harus semakin reliable, affordable, dan lebih green,” ujarnya.
Menurut Dwi, perubahan tersebut juga perlu diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia. Mahasiswa tidak harus menunggu hingga memasuki dunia kerja untuk berkontribusi. Laboratorium, penelitian, dan kegiatan edukasi publik dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mulai terlibat dalam isu ketenagalistrikan.
Menjaga Keseimbangan dalam Transisi Energi
Dari sisi kebijakan, Subkoordinator Penyiapan Kebijakan dan Perencanaan Ketenagalistrikan Nasional Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan ESDM, Rahadian Wahyu Pradipta, menjelaskan bahwa pengembangan ketenagalistrikan menghadapi apa yang disebut sebagai energy trilemma. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan, serta keterjangkauan dan keadilan akses energi.
Pilihan teknologi, menurutnya, selalu memiliki konsekuensi yang perlu diperhitungkan. Pembangkit surya dan baterai menawarkan sumber energi yang lebih bersih, tetapi karakter pembangkit energi terbarukan yang bergantung pada kondisi alam menghadirkan tantangan bagi keandalan sistem. Di sisi lain, pembangkit berbasis fosil dapat memberikan pasokan yang lebih stabil, tetapi menghadirkan persoalan emisi dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, transisi energi tidak cukup dilakukan dengan sekadar mengganti satu jenis pembangkit dengan pembangkit lainnya. Diperlukan perencanaan sistem, pengembangan teknologi, dukungan infrastruktur, pembiayaan, serta kebijakan yang mampu mengakomodasi berbagai kepentingan.
Rahadian menyebut pengembangan sistem ketenagalistrikan ke depan akan melibatkan porsi besar energi baru dan terbarukan. Seiring meningkatnya kebutuhan listrik, pengembangan pembangkit juga perlu diikuti dengan penguatan jaringan dan teknologi pendukung.
Salah satu tantangannya adalah ketidakseimbangan antara lokasi sumber energi dan pusat beban. Potensi energi terbarukan dalam jumlah besar berada di luar Jawa, sementara kebutuhan listrik masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan pengembangan supergrid yang mampu menghubungkan sumber energi antarpulau dengan pusat-pusat beban.
Bagi perguruan tinggi, kondisi tersebut sekaligus membuka ruang penelitian. Teknologi transmisi seperti apa yang paling efisien dan aman untuk menghubungkan sistem kelistrikan antarpulau menjadi salah satu persoalan yang dapat dikaji bersama oleh akademisi dan industri.
Dari Sistem Kelistrikan hingga Ekosistem Digital
Perspektif serupa disampaikan Executive Vice President Strategic Transmission Planning PT PLN (Persero), Nurdin Pabi. Menurutnya, perubahan sektor ketenagalistrikan telah membuat kebutuhan kompetensi di PLN berkembang jauh melampaui bidang elektro konvensional.
“Tidak lagi seperti sebelum-sebelumnya. Sekarang kita sudah harus menghadirkan apa yang menjadi tuntutan yang ada,” tuturnya.
Nurdin menjelaskan bahwa PLN mulai membangun pendekatan berbasis ekosistem untuk menghadapi munculnya kebutuhan baru, termasuk pertumbuhan pusat data. Data center dapat dilayani melalui sistem kelistrikan yang sudah ada maupun melalui sistem khusus dengan layanan yang lebih terdedikasi sesuai kebutuhan operasionalnya.
Dalam proyeksi PLN, kebutuhan listrik nasional pada 2034 mencapai sekitar 511 TWh, dengan lebih dari separuhnya berada di Jawa. Sementara itu, berbagai potensi energi terbarukan seperti tenaga air dan panas bumi banyak tersebar di wilayah lain. Kondisi tersebut kembali menempatkan transmisi sebagai bagian penting dari transformasi sistem ketenagalistrikan.
Selain supergrid, perkembangan teknologi juga mendorong hadirnya smart grid, penyimpanan energi, kendaraan listrik, hidrogen, hingga keamanan siber. Sistem kelistrikan yang semakin terdigitalisasi membuat cyber security tidak lagi menjadi isu yang hanya relevan bagi perusahaan teknologi informasi.
Perubahan tersebut juga berdampak pada kebutuhan talenta. Nurdin mendorong mahasiswa untuk memperluas kompetensi di luar bidang utama yang dipelajari di bangku kuliah, termasuk memahami aspek keuangan, pemasaran, teknologi digital, dan bidang lain yang berkaitan dengan ekosistem energi.
“No transition without transmission. No transformation without talent,” ujar Nurdin
Ketika Transisi Energi Membutuhkan Banyak Disiplin
Kebutuhan akan talenta multidisiplin tersebut kemudian menemukan relevansinya dalam paparan Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof. Sarjiya. Menurutnya, persoalan energi tidak dapat diselesaikan hanya dari perspektif teknis.
Dalam kajian pengembangan energi, aspek teknik diperlukan untuk melihat kelayakan teknologi. Namun, keputusan untuk mengembangkan sebuah proyek juga perlu mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan hukum.
Dari sisi ekonomi, misalnya, sebuah proyek dapat terlihat mahal jika hanya dibandingkan berdasarkan biaya pembangkitan. Namun, perhitungan dapat berubah ketika dampak ekonomi yang lebih luas turut diperhitungkan, seperti pertumbuhan industri, penciptaan lapangan pekerjaan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, aspek sosial menjadi penting terutama dalam pengembangan proyek energi yang membutuhkan lahan dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Penerimaan masyarakat, komunikasi publik, serta pemahaman terhadap kondisi sosial di sekitar proyek menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pembangunan energi.
Karena itu, PSE UGM mengembangkan kajian dengan melibatkan berbagai bidang keilmuan, mulai dari teknik, ekonomi, sosial politik, hingga hukum.
“Bergaullah dengan teman-teman nonteknik,” ujar Prof. Sarjiya kepada mahasiswa.
Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin akan semakin penting ketika hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi hendak diterapkan menjadi kebijakan maupun proyek nyata.
Menyiapkan Talenta untuk Ekosistem Energi Masa Depan
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa transformasi ketenagalistrikan tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak pembangkit yang harus dibangun atau berapa besar kapasitas listrik yang harus tersedia. Di baliknya terdapat kebutuhan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan teknologi, transmisi, kebijakan, pembiayaan, lingkungan, masyarakat, dan sumber daya manusia.
Bagi perguruan tinggi, perubahan itu sekaligus menghadirkan ruang kontribusi yang semakin luas. Penelitian mengenai penyimpanan energi, supergrid, smart grid, hidrogen, keamanan siber, maupun teknologi energi terbarukan dapat dikembangkan sejalan dengan kebutuhan sistem ketenagalistrikan.
Pada saat yang sama, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Penguasaan fondasi keilmuan tetap menjadi dasar, tetapi kemampuan beradaptasi dan bekerja lintas disiplin menjadi semakin penting ketika batas antara teknologi, energi, ekonomi, dan kebijakan semakin beririsan.
Pada akhirnya, masa depan ketenagalistrikan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh teknologi yang dikembangkan, tetapi juga oleh orang-orang yang mampu mengembangkan, mengintegrasikan, dan menjalankannya. Transisi membutuhkan jaringan yang terhubung, tetapi transformasi membutuhkan talenta yang siap menggerakkannya.