Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur – Fakultas Teknik UGM terus berkontribusi dalam upaya pemulihan pascabencana gempa Flores 2026 melalui program pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Salah satu fokus kegiatan tersebut adalah memperkuat kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam melakukan penilaian awal kerusakan bangunan dan infrastruktur secara cepat, terukur, dan berbasis data. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan penggunaan Rapid Assessment Kerusakan Bangunan di sejumlah wilayah terdampak, yaitu Borong, Dampek, dan Pota. Kegiatan ini ditujukan untuk mendukung percepatan identifikasi kondisi bangunan dan infrastruktur setelah gempa sekaligus membantu pemerintah daerah dalam menentukan prioritas penanganan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Dampek dan Pota merupakan dua kawasan di Manggarai Timur yang mengalami dampak kerusakan cukup signifikan akibat gempa yang melanda Flores pada Agustus 2026. Selain bangunan permukiman, sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur dasar turut mengalami gangguan sehingga diperlukan proses pendataan dan penilaian kondisi secara cepat untuk mendukung proses pemulihan. Sementara itu, pelatihan yang dilaksanakan di Kota Borong diikuti sekitar 100 peserta yang berasal dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO), serta sejumlah instansi terkait yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan aset dan fasilitas publik. Keterlibatan berbagai perangkat daerah tersebut menunjukkan pentingnya ketersediaan data kondisi bangunan sebagai bagian dari sistem penanganan pascabencana.
Memperkenalkan Metode Rapid Assessment dan ATC-20
Pelatihan dipandu oleh Dr. Ashar Saputra dan Dr. Ardhya Nareswari, yang memberikan pembekalan mengenai prinsip-prinsip dasar penilaian kerusakan bangunan pascagempa. Peserta diperkenalkan pada perilaku struktur ketika menerima beban gempa, komponen-komponen bangunan yang berperan dalam menjaga stabilitas struktur, serta berbagai jenis kerusakan yang dapat ditemukan pada elemen struktural maupun nonstruktural. Dalam pelatihan di Borong, materi juga mengacu pada konsep Applied Technology Council ATC-20, yaitu pedoman penilaian cepat keamanan bangunan pascagempa. Pendekatan tersebut memungkinkan bangunan diklasifikasikan berdasarkan tingkat keamanan dan kelayakannya untuk digunakan kembali setelah mengalami guncangan gempa. Selain memberikan pemahaman mengenai metode penilaian bangunan, Fakultas Teknik UGM memperkenalkan platform digital Rapid Assessment yang dapat diakses melalui aplikasi maupun website rapid.cemapp.com. Sistem tersebut dirancang untuk membantu petugas melakukan pendataan kerusakan secara sederhana, cepat, sistematis, dan terstandarisasi. Pengguna dapat melakukan registrasi, mengisi data bangunan, mendokumentasikan kerusakan, serta melakukan penilaian berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan. Aplikasi juga dapat digunakan melalui komputer maupun telepon genggam. Data yang dikumpulkan tersimpan dalam basis data terpusat sehingga dapat dipantau dan digunakan untuk proses monitoring serta pelaporan secara real time. Pada sesi praktik, peserta diberikan kesempatan untuk mencoba langsung pengisian formulir digital, melakukan simulasi identifikasi kerusakan, mendokumentasikan kondisi bangunan, serta memahami mekanisme penentuan tingkat kerusakan berdasarkan kondisi lapangan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan diskusi antara peserta dan narasumber. Berbagai pertanyaan muncul, antara lain mengenai klasifikasi tingkat kerusakan, validitas hasil penilaian, penerapan metode ATC-20 pada bangunan pemerintah, integrasi data hasil inspeksi dengan sistem informasi daerah, hingga strategi pelaksanaan survei cepat ketika jumlah bangunan terdampak sangat besar. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap sistem pendataan yang praktis dan mudah diterapkan dalam kondisi pascabencana. Bagi pemerintah daerah, ketersediaan data yang cepat, akurat, dan terdokumentasi dengan baik menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas penanganan serta menyusun program pemulihan infrastruktur.
Data sebagai Dasar Pemulihan dan Peningkatan Ketahanan Infrastruktur
Menurut tim Fakultas Teknik UGM, penggunaan metode penilaian yang terstandarisasi dan didukung sistem digital berpotensi mempercepat proses pengambilan keputusan setelah bencana. Data yang dihimpun tidak hanya dapat dimanfaatkan pada fase tanggap darurat, tetapi juga menjadi dasar dalam penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi serta peningkatan ketahanan infrastruktur di masa mendatang. Melalui rangkaian pelatihan tersebut, Fakultas Teknik UGM berharap pemerintah daerah dan masyarakat di Manggarai Timur memiliki kapasitas yang semakin baik dalam melakukan penilaian awal kerusakan bangunan secara mandiri dan terukur. Ketersediaan sistem pendataan berbasis digital diharapkan dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih efektif dan berbasis data. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud peran Fakultas Teknik UGM dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membantu masyarakat terdampak bencana. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat untuk membangun sistem manajemen infrastruktur yang lebih tangguh, responsif, dan mampu menghadapi risiko bencana di masa mendatang (Penulis: Angga Trisna Yudhistira/ Editor: Mega).