Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya air yang melimpah. Namun, besarnya potensi tersebut belum otomatis menjamin ketahanan air bagi masyarakat. Founder Indonesia Water Warriors sekaligus Dosen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Neil Andika, menilai tantangan Indonesia kini bukan sekadar memiliki air, tetapi memastikan air tersedia dalam jumlah dan kualitas yang baik. Hal tersebut disampaikan Neil dalam wawancaranya bersama Republika Official.
“Badan air kita, isu utamanya bukanlah tentang kuantitas, tetapi ternyata kualitas airnya yang kurang,” ujar Neil.
Berdasarkan data Dewan Sumber Daya Air Nasional, Indonesia memiliki potensi sumber daya air sekitar 1,8 triliun meter kubik per tahun, jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan nasional yang berada pada kisaran 170–180 miliar meter kubik per tahun. Sekitar 80 persen kebutuhan tersebut digunakan untuk irigasi.
Meski demikian, Neil menegaskan bahwa swasembada air bukan berarti memiliki air sebanyak-banyaknya. Ketahanan air justru terletak pada kemampuan mengelola sumber daya tersebut agar dapat dirasakan masyarakat secara merata, baik dari sisi waktu maupun wilayah, dengan tetap menjaga kuantitas dan kualitasnya.
“Ketahanan air itu bukannya kita memiliki air yang sebanyak mungkin, tetapi sebagaimana kita bisa mengelola air semaksimal mungkin supaya secara spasial dan temporal itu bisa dirasakan oleh semua orang,” jelasnya.
Menurut Neil, tekanan pertumbuhan penduduk dan pembangunan membuat pengelolaan air semakin kompleks. Karena itu, pembangunan infrastruktur perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas masyarakat agar infrastruktur yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat. Setiap pihak memiliki peran dalam memastikan kebijakan, riset, investasi, hingga edukasi benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
“Akademisi tadi juga harus bisa melakukan riset, edukasi, dan aksi lapangan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan,” katanya.
Komitmen Neil terhadap isu air juga diwujudkan melalui Indonesia Water Warriors, yang menjadi wadah edukasi dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap sumber daya air. Salah satunya melalui Young Water Sustainability Leaders (YWSL), program bootcamp yang mendorong generasi muda memahami persoalan air sekaligus mengembangkan solusi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Bagi Neil, keterlibatan dalam menjaga air tidak harus menunggu seseorang menjadi ahli.
“Sebagai pemuda jangan menunggu menjadi ahli dulu untuk ikut berkontribusi dalam penyelesaian permasalahan sumber daya air,” tegasnya.
Menurutnya, Indonesia boleh memiliki potensi air yang besar, tetapi tanpa pengelolaan yang bijak, potensi tersebut dapat menjadi sia-sia. Menjaga air, karena itu, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan sumber daya tersebut tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Disadur dari video wawancara Republika Online