Bandung, 14-16 Mei 2026—Tiga mahasiswa Teknik Kimia bernama Dafiq Ruliyono, Nadia Nur Salsabila dan Sherly Maharani Puspita Sari berhasil meraih 2 nd Runner Up di ajang BOREYES International Energy Fair 2026 cabang lomba Paper and Poster, yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Energy Student Chapter, Universitas Padjajaran dan diikuti oleh peserta dari berbagai universitas ternama. Tim Horizon’s Last Dance yang beranggotakan Dafiq Ruliyono, Nadia Nur Salsabila, dan Sherly Maharani Puspita Sari hadir dengan karya yang berjudul “From Flare to Turquoise H₂: A Pathway to Methane Abatement in Oil and Gas Field“.
Berangkat dari Masalah Nyata
Bayangkan ada api yang terus menyala di tengah ladang minyak, bukan karena kebutuhan, tapi karena tidak tahu harus diapakan gasnya. Itulah flaring, praktik membakar gas sisa produksi minyak yang sudah berlangsung lebih dari satu abad dan hingga hari ini masih terjadi di seluruh penjuru dunia. Gas flaring mengakibatkan pemborosan energi, kerugian ekonomi, dan ancaman bagi keberlanjutan lingkungan. Ironisnya, solusi untuk masalah ini sudah lama ada di atas kertas. Gas bisa diinjeksikan kembali ke dalam tanah, dikonversi menjadi LNG, atau dialirkan melalui pipa. Tapi semua opsi itu mahal, butuh infrastruktur besar, dan tidak selalu cocok untuk kondisi lapangan dengan aksesibilitas yang rendah.
“Di sinilah kami melihat celahnya,” kira-kira begitu semangat yang mendasari riset tim ini. Dari situ, Tim Horizon’s Last Dance berpikir bahwa tidak seharusnya api itu terbuang secara sia-sia, justru ia dapat dilihat sebagai peluang.
Revolusi Kecil dari Kolam Logam yang Membara, Ketika Limbah Gas Menjelma Jadi Energi Masa Depan
Tim ini menemukan jawabannya di dalam ide bernamakan turquoise hydrogen, hidrogen yang dihasilkan dari methane pyrolysis. Cara kerjanya sederhana secara konsep: gas metana dipecah pada suhu tinggi menggunakan katalis logam cair (molten metal) dan menghasilkan dua produk, yaitu gas hidrogen bersih dan karbon padat yang bisa dijual. Tidak ada CO₂ yang keluar ke udara. Tidak ada emisi langsung. Karbon yang biasanya menjadi polutan justru berubah wujud menjadi padatan yang bisa dipanen sebagai carbon black, bahan baku industri yang harganya mencapai USD 1.300 per ton di pasar global. Bandingkan dengan flaring konvensional yang melepaskan 2,7 hingga 3,0 kg CO₂ untuk setiap satu meter kubik gas yang dibakar dan gambaran dampaknya menjadi sangat jelas.
Dari Meja Keputusan hingga Layar Simulasi: Ketika Ide Menemukan Jalannya ke Kenyataan
Pertama, mereka membandingkan tiga teknologi methane pyrolysis yang ada, plasma, molten metal, dan moving bed carbon menggunakan metode pengambilan keputusan berlapis yang dikenal sebagai AHP-TOPSIS. Hasilnya: molten metal pyrolysis keluar sebagai pilihan terbaik karena paling tahan terhadap kondisi gas yang tidak stabil, paling mudah memisahkan produk karbon, dan sudah berada di tahap pilot scale.
Dalam penelitian ini, tim mengkaji sistem katalis paduan logam cair (molten binary alloy) khususnya paduan Nikel-Timah (Ni-Sn) sebagai media reaksi untuk memecah gas metana menjadi hidrogen murni dan karbon padat, tanpa menghasilkan emisi CO₂. Pendekatan ini dikenal sebagai "hidrogen turquoise", yakni jembatan transisi menuju era hidrogen hijau berbasis energi terbarukan.
Keunggulan inovasi tim ini terletak pada pemilihan sistem Ni-Sn yang lebih ekonomis dan aman dibanding sistem Ni-Bi yang selama ini mendominasi literatur. Dengan mengoptimalkan desain sparger keramik untuk menghasilkan gelembung mikro berdiameter ~0,5 mm, tim berhasil mendongkrak konversi metana dari 15% hingga mencapai 97%, angka yang kompetitif dengan teknologi terbaik saat ini, namun dengan biaya material yang jauh lebih rendah.
Selanjutnya, mereka mensimulasikan proses ini secara penuh menggunakan perangkat lunak teknik kimia profesional Aspen HYSYS, dengan kapasitas umpan flare gas sebesar 5,48 MMSCFD. Hasilnya menggembirakan: sistem ini mampu menghasilkan 0,1467 kg hidrogen dari setiap kilogram flare gas yang masuk, dengan kebutuhan energi sebesar 10,46 kWh per kg H₂, jauh lebih efisien dibanding teknologi plasma. Lalu datanglah pertanyaan yang paling krusial di dunia industri: apakah ini menguntungkan?
Ketika Efisiensi Proses dan Kelayakan Ekonomi Berbicara dalam Bahasa yang Sama
Tim mengevaluasi dua skenario bisnis. Skenario pertama adalah menjual hidrogen langsung ke produsen amonia yang berlokasi sekitar 30 km dari lapangan. Skenario kedua adalah mengekspor produk dalam bentuk amonia ke pasar Asia Timur. Hasilnya:
- Skenario langsung ke industri amonia: harga jual minimum hidrogen yang dibutuhkan hanya USD 2,33 per kg. Angka ini kompetitif dengan blue hydrogen, jenis hidrogen rendah karbon yang selama ini dianggap paling ekonomis.
- Skenario ekspor ke Asia Timur: harga jual minimum USD 3,62 per kg, masih sangat kompetitif di rentang pasar green hydrogen global yang berkisar antara USD 2,28 hingga 7,39 per kg.
Keduanya dihitung untuk mencapai IRR (tingkat pengembalian investasi) sebesar 13% selama 20 tahun operasi, angka yang wajar dan realistis untuk proyek di sektor energi.
Lebih dari Sekadar Riset
Bagi Dafiq, Nadia, dan Sherly, karya ini bukan hanya tentang menang lomba. Ini tentang membuktikan bahwa solusi untuk krisis iklim tidak harus selalu datang dari laboratorium raksasa di negara maju, ia bisa lahir dari ruang belajar mahasiswa yang mau berpikir lebih jauh dari batas mata kuliah. Di tengah dunia yang masih berjuang mencari cara untuk mengurangi emisi karbon, karya tim Horizon’s Last Dance menawarkan sesuatu yang menyegarkan: sebuah solusi yang secara teknis bisa dijalankan, secara ekonomi menguntungkan, dan secara lingkungan bermakna. Api di ujung pipa itu memang sudah terlalu lama menyala sia-sia. Dan kini, ide dari Horizon’s Last Dance siap memadamkannya dengan cara yang paling elegan: mengubahnya menjadi energi masa depan.

