Kota Bima, 24 Juni 2026 — Akademisi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Prof. Arifudin Idrus, menegaskan pentingnya tata kelola tambang yang adil dan berkelanjutan dalam kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Bima. Ia berbicara tentang pengelolaan potensi geologi NTB agar sumber daya alam tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi jalan peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah.
Prof. Arifudin menyampaikan gagasan tersebut di Aula Kampus II UM Bima melalui tema “Mengelola Potensi Geologi Menuju Nilai Tambah Daerah: Perspektif Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan di Era Industri 4.0 dan Society 5.0”. Ia menilai pemerintah, perusahaan, kampus, dan masyarakat perlu bekerja bersama agar potensi emas kelas dunia di NTB dikelola secara profesional, berpihak kepada warga lokal, dan menjaga lingkungan.
Menurut Prof. Arifudin, NTB memiliki kekayaan geologi yang besar. Kekayaan itu harus diikuti kemauan politik yang kuat. Ia menegaskan bahwa tambang harus memberi manfaat luas bagi masyarakat, bukan hanya memberi keuntungan bagi kelompok tertentu.
“NTB memiliki cadangan emas kelas dunia. Ini harus direspons dengan political will yang kuat agar tambang benar-benar menjadi sumber kesejahteraan masyarakat lokal, bukan hanya menguntungkan segelintir pihak,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pertambangan tidak boleh dipahami sebagai kegiatan eksploitasi semata. Pemerintah dan perusahaan harus membangun tata kelola yang jelas. Masyarakat lokal juga harus mendapat ruang dalam rantai nilai pertambangan.
“Tambang itu perlu dikelola dengan baik. Harus ada sinergi antara pemerintah dan perusahaan. Orientasi utamanya bukan hanya keuntungan, tetapi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Prof. Arifudin menilai penguatan sumber daya manusia lokal menjadi kunci utama. Warga daerah tambang tidak boleh hanya berada pada posisi pekerja tingkat bawah. Mereka perlu disiapkan menjadi tenaga ahli, pengelola, peneliti, dan pengambil keputusan.
“SDM lokal harus dipersiapkan secara serius. Jangan hanya menjadi buruh kasar di tanah sendiri. Mereka harus menjadi ahli, pengelola, bahkan penentu arah kebijakan di sektor pertambangan,” katanya.
Pesan tersebut memperlihatkan kontribusi FT UGM dalam mendorong pendidikan teknik yang berdampak langsung bagi daerah. Kehadiran akademisi FT UGM tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa UM Bima, tetapi juga memperkuat peran kampus dalam menjawab isu pembangunan, industri, dan lingkungan.
Dalam aspek keberlanjutan, Prof. Arifudin mengingatkan bahwa ekstraksi sumber daya harus berjalan bersama konservasi. Ia menilai tanggung jawab lingkungan harus jelas sejak tahap perencanaan, operasi, hingga pascatambang.
“Ekstraksi memang perlu, tetapi konservasi tidak boleh diabaikan. Harus ada kejelasan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan,” tambahnya.
Ia juga mendorong mahasiswa agar berani membangun cita-cita besar. Menurutnya, keberanian bermimpi menjadi langkah awal untuk masuk ke ruang ilmu, profesi, dan kepemimpinan.
“Jangan pernah takut bermimpi. Mimpi besar tidak akan membuatmu gila, justru akan mendorongmu menjadi orang besar,” pesannya.
Kuliah tamu ini memberi dampak positif bagi penguatan jejaring akademik FT UGM dengan perguruan tinggi di daerah. Forum ini juga membuka ruang transfer pengetahuan tentang geologi, pertambangan, nilai tambah daerah, kesiapan SDM, dan tanggung jawab lingkungan. Dengan pendekatan tersebut, ilmu teknik dapat hadir sebagai bagian dari solusi pembangunan yang adil dan berkelanjutan. (Buya)
Sumber:
https://suaramandiribima.com/prof-arifudin-idrus-ntb-punya-cadangan-emas-kelas-dunia/
https://geologi.ugm.ac.id/prof-arifudin-idrus-ntb-punya-cadangan-emas-kelas-dunia/