Yogyakarta (UGM) – Jalalludin Mukhtafi, mahasiswa program sarjana Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM), berkesempatan menjadi perwakilan Indonesia sekaligus pembicara pada ajang The 4th African Conference of Fundamental and Applied Physics (ACP 2025). Konferensi ini merupakan kegiatan internasional yang diinisiasi oleh The African School of Fundamental Physics and Application (ASP) bekerja sama dengan University of Lomé, Togo, dan diselenggarakan secara hybrid pada 14–20 September 2025.
SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan serta relasi internasional, Office of International Affairs, Fakultas Teknik UGM mengadakan sharing session bertajuk “Unlock Your Global Engineering Journey with the UGM-UoG Double Degree & LPDP Scholarship” pada hari Selasa, 21 Oktober 2025 di Meeting Room 1, Gedung SGLC. Forum ini diselenggarakan dalam rangka memberikan eksposur lebih luas kepada mahasiswa FT UGM untuk menilik peluang kuliah pascasarjana level master di UGM dan University of Glasgow, United Kingdom dengan dua gelar sekaligus. Forum berlangsung dengan sangat hangat dan penuh antusiasme dari puluhan peserta yang hadir.
Tim Reactics Chem-E-Car Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional. Dalam ajang Indonesian Chemical Reaction Car Development Challenge (ICHEDECE) 2025, tim Aswatama Reactics Chem-E-Car UGM berhasil meraih Juara 1 Race Competition. Kompetisi bergengsi ini berlangsung pada 3–4 Oktober 2025 di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, dan diikuti oleh belasan tim dari berbagai universitas di seluruh Indonesia.
Semarang, 17 Oktober 2025 — Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada terus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan industri dalam mencetak generasi insinyur yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Melalui program Kunjungan Teknologi 2025, yang diselenggarakan oleh BSO Lembaga Penelitian dan Kajian Teknik Aplikatif (LPKTA), sebanyak 49 mahasiswa berkesempatan mengunjungi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. di Bergas, Kabupaten Semarang.
Perwakilan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), Radista Saga (Mahasiswa Program Sarjana Teknik Geologi), menjadi salah satu delegasi dalam tim yang berkesempatan mempresentasikan penelitian bertajuk “Multi-Criteria Decision Analysis of Sumatra’s Development Potential for the ASEAN Power Grid South Sub-System” dalam ajang ASEAN Energy Business Forum (AEBF) 2025 yang diselenggarakan oleh ASEAN Centre for Energy (ACE) di Kuala Lumpur, Malaysia.
Sepanjang tahun 2025, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) telah melaksanakan lebih dari 633 kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Capaian ini menunjukkan komitmen FT UGM dalam menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan di lapangan dengan mengintegrasikan keilmuan teknik dan kebutuhan masyarakat.
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan perangkat pemantauan domba otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang diberi nama Sheepherd. Inovasi ini diimplementasikan di Koperasi Domba Makmur Indonesia, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) tahun 2025.
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan Glycemia Breath Analyzer (Glyra), sebuah purwarupa alat deteksi dini dan pemantauan gula darah non-invasif. Inovasi ini menjawab tantangan kesehatan nasional terkait diabetes melitus yang saat ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dengan prevalensi tinggi.
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sebuah sistem terintegrasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem yang dinamai Sustainable Integrated Kitchen System (SIKE) ini dirancang untuk mengatasi sejumlah tantangan dalam implementasi MBG, seperti ketidaksesuaian menu dengan selera anak, potensi food waste, dan manajemen rantai pasok yang belum optimal.
Retinoblastoma merupakan salah satu kanker anak paling umum di dunia, dengan insidensi sekitar 1 dari 16.000 hingga 28.000 kelahiran. Di negara maju, angka kesembuhan dapat mencapai 99%, berkat diagnosis dini dan intervensi medis yang cepat. Sebaliknya, di negara dengan infrastruktur kesehatan terbatas seperti Indonesia, keterlambatan deteksi kerap berujung pada kebutaan atau kematian, bahkan 40–70% pasien mengalami dampak klinis berat akibat diagnosis yang terlambat. Realitas ini menyoroti kebutuhan mendesak terhadap metode skrining yang efisien, mudah dijangkau, dan akurat, khususnya untuk layanan kesehatan tingkat pertama.