Yogyakarta, 30 Oktober 2025 — Suasana antusias memenuhi Meeting Room 1 Smart and Green Learning Center (SGLC) Lantai 3 FT UGM saat sebanyak lebih dari 100 tenaga kependidikan (tendik) dan mahasiswa paruh waktu bidang kehumasan berkumpul dalam Workshop dan Pelatihan Kehumasan bertajuk “Sinergi Kehumasan FT UGM: Optimalisasi Peran Humas dalam Mengangkat Citra Jenama Positif FT UGM.” Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat kapasitas kehumasan di lingkungan fakultas, seiring dengan perkembangan lanskap komunikasi digital yang semakin dinamis dan kompetitif.
Fakultas Teknik UGM
Selasa, 28 Oktober 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) mengukuhkan Prof. Ir. Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU, ACPE sebagai Guru Besar dalam bidang Material dan Teknologi Teknik Sipil Berkelanjutan di Fakultas Teknik. Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Kayu sebagai Material Konstruksi Berkelanjutan,” Prof. Ali menyoroti potensi besar kayu tropis Indonesia sebagai bahan bangunan masa depan yang ramah lingkungan.
Panji Dewandaru, mahasiswa Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), berkesempatan menjadi presenter dalam ajang internasional The 8th International Energy Conference ASTECHNOVA 2025. Konferensi dua tahunan ini mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi energi dari berbagai negara untuk membahas isu-isu terkini seputar energi berkelanjutan.
Sepanjang tahun 2025, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) telah melaksanakan lebih dari 633 kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Capaian ini menunjukkan komitmen FT UGM dalam menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan di lapangan dengan mengintegrasikan keilmuan teknik dan kebutuhan masyarakat.
Banjir kembali menjadi isu yang tak pernah absen setiap musim hujan. Dari Jakarta, Bali, hingga kota-kota besar lain di Indonesia, banjir kerap merugikan masyarakat, melumpuhkan aktivitas, bahkan menimbulkan korban jiwa. Lalu, mengapa masalah yang sama terus berulang?
Indonesia tengah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbunan sampah nasional mencapai 33,9 juta ton per tahun, dengan lebih dari 50 persennya berasal dari sampah organik rumah tangga. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Tim SOLAQUA Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) berhasil merancang inovasi sistem aerasi bertenaga surya yang dilengkapi pemantauan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini dirancang untuk menjaga kadar oksigen dan kualitas air pada budidaya lele sistem bioflok secara otomatis, sekaligus menekan biaya listrik dan mendukung keberlanjutan lingkungan.
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan Glycemia Breath Analyzer (Glyra), sebuah purwarupa alat deteksi dini dan pemantauan gula darah non-invasif. Inovasi ini menjawab tantangan kesehatan nasional terkait diabetes melitus yang saat ini menempatkan Indonesia di peringkat kelima dunia dengan prevalensi tinggi.
Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sebuah sistem terintegrasi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sistem yang dinamai Sustainable Integrated Kitchen System (SIKE) ini dirancang untuk mengatasi sejumlah tantangan dalam implementasi MBG, seperti ketidaksesuaian menu dengan selera anak, potensi food waste, dan manajemen rantai pasok yang belum optimal.
Retinoblastoma merupakan salah satu kanker anak paling umum di dunia, dengan insidensi sekitar 1 dari 16.000 hingga 28.000 kelahiran. Di negara maju, angka kesembuhan dapat mencapai 99%, berkat diagnosis dini dan intervensi medis yang cepat. Sebaliknya, di negara dengan infrastruktur kesehatan terbatas seperti Indonesia, keterlambatan deteksi kerap berujung pada kebutaan atau kematian, bahkan 40–70% pasien mengalami dampak klinis berat akibat diagnosis yang terlambat. Realitas ini menyoroti kebutuhan mendesak terhadap metode skrining yang efisien, mudah dijangkau, dan akurat, khususnya untuk layanan kesehatan tingkat pertama.