Groningen, Belanda – Muhammad Hanif Yusriansyah, mahasiswa International Undergraduate Program Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada angkatan 2023, mengikuti program pertukaran pelajar di University of Groningen, Belanda, pada Januari hingga Juni 2026. Melalui program Spring Semester di Faculty of Spatial Sciences, Hanif memperdalam pengetahuan tentang mobilitas berkelanjutan, perumahan, ketahanan banjir, pelayanan pangan, dan pengambilan keputusan tata ruang melalui perkuliahan, survei masyarakat, observasi lapangan, analisis spasial, serta simulasi antarpemangku kepentingan.
Selama enam bulan di Groningen, Hanif mengikuti mata kuliah Planning Dynamics, Spatial Problems and Spatial Policies: The Dutch Experience, Rural Geography, serta Environment and Planning bersama mahasiswa dari berbagai negara. Sistem pembelajaran yang menekankan kemandirian membaca literatur, penyusunan argumentasi, kritik kebijakan, dan pemecahan masalah berbasis kondisi lapangan tersebut membantunya memahami bagaimana teori perencanaan diterapkan untuk menjawab persoalan perkotaan dan perdesaan secara kontekstual.
Salah satu kajian lapangan dilakukan di Reitdiephaven, kawasan permukiman tepi air di Kota Groningen. Hanif bersama kelompoknya menilai kualitas bangunan, ruang publik, aksesibilitas, kebersihan, keamanan, dan kenyamanan melalui observasi, survei, serta wawancara dengan penghuni. Hasilnya menunjukkan bahwa keberhasilan kawasan hunian tidak hanya ditentukan oleh daya tarik arsitektur dan kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kemudahan mobilitas, hubungan sosial, rasa aman, kepuasan masyarakat, dan pengaruh desain kawasan terhadap kesejahteraan penghuninya.
Pemahaman mengenai mobilitas berkelanjutan diperoleh melalui perjalanan lapangan dengan sepeda ke sejumlah kawasan di Groningen. Hanif mengamati jalur sepeda, persimpangan, parkir, ruang jalan, jaringan transportasi publik, serta keterhubungan antara permukiman dan pusat kegiatan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tingginya penggunaan sepeda tidak semata-mata terbentuk dari budaya masyarakat, tetapi didukung oleh infrastruktur yang aman, nyaman, konsisten, dan terintegrasi. Temuan ini relevan bagi kota-kota di Indonesia yang sedang berupaya mengurangi kemacetan dan emisi melalui pengembangan transportasi publik, jalur pejalan kaki, dan jaringan sepeda.
Hanif juga mempelajari pengelolaan air dan ketahanan kota melalui kunjungan ke Rotterdam serta tugas perbandingan integrasi risiko banjir dalam perencanaan spasial Rotterdam dan Jakarta. Kajian tersebut menunjukkan bahwa ketahanan banjir tidak cukup bergantung pada tanggul, pompa, atau infrastruktur teknis. Koordinasi antarlembaga, pengendalian pemanfaatan ruang, konsistensi kebijakan, dan kemampuan pemerintah menerapkan rencana juga menentukan keberhasilannya. Dalam kajian lain berjudul Towards Adequate and Efficient Housing: Integrating Quality and Allocation in Indonesian Urban Planning, Hanif menekankan pentingnya keterjangkauan, kualitas bangunan, akses pelayanan dasar, kedekatan dengan lapangan kerja, dan ketepatan distribusi dalam penyediaan perumahan.
Pembelajaran berbasis data dilanjutkan melalui kuliah lapangan Rural Geography di Aurich, Jerman. Hanif dan kelompoknya memetakan penggunaan lahan, kepadatan penduduk, jaringan jalan, pasar, supermarket, serta jangkauan pelayanan pangan selama 5, 10, dan 15 menit dengan berjalan kaki, bersepeda, dan mobil. Analisis tersebut memperlihatkan hubungan erat antara pola permukiman, jaringan transportasi, lokasi pusat pelayanan, dan ketahanan pangan regional. Hanif juga berperan sebagai International Jury dalam simulasi relokasi kegiatan hortikultura ke Eemshaven yang mempertemukan kepentingan masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha. Simulasi itu menegaskan bahwa keputusan perencanaan memerlukan bukti, negosiasi, pertimbangan sosial-politik, dan akuntabilitas.
Di luar kegiatan akademik, Hanif terlibat dalam kepanitiaan GroensCup XXV, ajang olahraga diaspora Indonesia di Eropa, serta mengamati karakter kota-kota di Belanda dan negara lain, termasuk Rotterdam, Amsterdam, Vienna, Prague, Hamburg, Barcelona, dan Paris. Pengalaman tersebut memperkuat kemampuan beradaptasi, bekerja dalam lingkungan multikultural, dan membaca kota melalui pola mobilitas, ruang publik, sejarah, aktivitas ekonomi, serta hubungan masyarakat dengan lingkungannya. Hanif menilai praktik baik dari Eropa tidak dapat diterapkan di Indonesia melalui penyalinan langsung. Prinsip keberhasilannya perlu dipahami dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, kapasitas kelembagaan, kondisi sosial-ekonomi, serta karakter spasial setiap wilayah. (Muhammad Hanif Yusriansyah, Editor: Franky Argus Adiwena)

