Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik (FT) UGM, melakukan audiensi dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) di Kantor BAPETEN, Yogyakarta, Senin (21/9). Pertemuan ini menjadi ruang untuk membahas penguatan pendidikan ketenaganukliran, pemahaman regulasi, serta kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung perkembangan pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.
Audiensi dihadiri oleh Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika FT UGM Prof. Faridah, Dosen Senior Sihana, Sekretaris Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Widya Rosita, serta Ketua Program Studi S1 Teknik Nuklir Nunung Prabaningrum.
Sementara itu, BAPETEN diwakili oleh Deputi Bidang Perizinan dan Inspeksi Zainal Arifin, Sekretaris Utama Mohammad Ridwan, Deputi Bidang Pengkajian Keselamatan Nuklir Haendra Subekti, Direktur Perizinan Instalasi dan Bahan Nuklir Wiryono, Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Ishak, serta jajaran terkait.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pentingnya pendidikan dan pelatihan ketenaganukliran bagi mahasiswa sebagai calon tenaga profesional. Pemanfaatan teknologi nuklir, khususnya untuk kepentingan pendidikan dan penelitian, tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis, tetapi juga pemahaman terhadap regulasi serta etika dalam pengelolaan bahan radioaktif.
Aspek tersebut menjadi penting seiring dengan berkembangnya pemanfaatan teknologi nuklir di berbagai bidang. BAPETEN turut menyoroti kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman menyeluruh mengenai aspek teknis dan regulasi ketenaganukliran.
Deputi Bidang Perizinan dan Inspeksi BAPETEN Zainal Arifin menyampaikan bahwa penguatan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari pemetaan potensi Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET), kesiapan regulasi dan pengawasan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), manajemen limbah radioaktif, hingga keamanan dan kesiapsiagaan nuklir.
“BAPETEN juga sudah memiliki kesiapan dalam menjalankan fungsi pengawasan ketenaganukliran, termasuk dalam mengantisipasi pengembangan PLTN di Indonesia.”
Zainal menambahkan bahwa PLTN menjadi salah satu bagian dari strategi dekarbonisasi menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060 sebagaimana tercantum dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Kondisi tersebut, menurutnya, semakin menegaskan pentingnya penguatan pendidikan dan pelatihan bagi calon fisikawan medis serta ahli teknik nuklir lainnya.
Dalam audiensi, BAPETEN juga menjelaskan salah satu opsi pengembangan PLTN yang tengah menjadi perhatian, yaitu Small Modular Reactor (SMR). Pengembangan teknologi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan pemahaman yang memadai mengenai aspek ketenaganukliran.
Ketua Program Studi S1 Teknik Nuklir FT UGM Nunung Prabaningrum menyampaikan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam penguatan pembelajaran ketenaganukliran dan regulasi.
“Para mahasiswa diharapkan turut serta dalam proses penguatan pembelajaran ketenaganukliran dan regulasi guna terciptanya sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan pembangunan PLTN pertama di Indonesia.”
Melalui audiensi ini, UGM dan BAPETEN diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam mendukung pendidikan ketenaganukliran. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang memahami aspek teknis, regulasi, keselamatan, dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi nuklir di Indonesia.