Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada dari lintas bidang mengembangkan PolPay, sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari yang memungkinkan pengguna melakukan transaksi tanpa kartu perbankan maupun telepon genggam. Tim PolPay terdiri atas Tiara Ramadhani dan M. Rakhma Aifil Indira dari Ilmu Aktuaria, Al Farabi Obiansyah dari Teknik Mesin, Marcelino Budi Prakasya dari Ilmu Komputer, serta Muhammad Fakhri Ghonim Setyanda dari Elektronika dan Instrumentasi.
Pengembangan PolPay dilatarbelakangi oleh sejumlah kendala dalam penggunaan metode pembayaran digital. Salah satunya adalah ketergantungan pembayaran berbasis kode QR terhadap koneksi internet yang stabil. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan ketika digunakan di wilayah dengan kualitas jaringan yang belum merata. Di sisi lain, penggunaan kartu fisik juga memiliki risiko keamanan, salah satunya skimming.
PolPay dikembangkan dengan mengintegrasikan sensor sidik jari ke perangkat Electronic Data Capture (EDC). Dalam penggunaannya, konsumen terlebih dahulu mendaftarkan satu rekening bank dan dua sidik jari dengan urutan tertentu. Saat melakukan transaksi, pengguna menempelkan kedua jari pada alat pemindai secara berurutan sebelum pembayaran diproses.
Sistem tersebut juga dirancang dengan pendekatan edge computing, yaitu pemrosesan data sedekat mungkin dengan perangkat dan pengguna. Pendekatan ini digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemrosesan pada server sekaligus mendukung proses transaksi yang lebih cepat.
Dari sisi perlindungan data, informasi biometrik pengguna tidak disimpan dalam bentuk gambar sidik jari secara langsung. Data tersebut dikonversi menjadi template dan dienkripsi menggunakan Advanced Encryption Standard (AES) 256-bit. Komunikasi data antara perangkat dan server juga menggunakan protokol SSL/TLS.
Selain verifikasi melalui dua sidik jari dengan urutan tertentu, PolPay memiliki lapisan autentikasi tambahan berupa PIN dinamis harian yang dikirimkan ke telepon seluler pengguna. Mekanisme tersebut dirancang untuk menambah tahapan verifikasi dalam proses transaksi.
Tim juga mengembangkan perangkat PolPay dengan mempertimbangkan aspek biaya. Purwarupa perangkat yang menggunakan teknologi cetak 3D berbahan PLA tersebut dikembangkan dengan biaya sekitar Rp2 juta. Biaya ini menjadi salah satu aspek yang diperhatikan tim dalam mengembangkan sistem pembayaran biometrik yang dapat dibuat dengan perangkat keras berbiaya relatif rendah.
Pengembangan PolPay saat ini diarahkan agar dapat mendukung perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia dan selaras dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang dicanangkan Bank Indonesia.
Setelah memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta, Tim PolPay melanjutkan pengembangan inovasinya untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) yang akan diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada November 2026. Tim PolPay akan mewakili UGM dalam ajang tersebut.