Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada lintas fakultas berhasil mengembangkan PRIME (Phantom Realistic Instruction Model for Extraction), sebuah simulator latihan pencabutan gigi berbasis dental phantom yang dilengkapi sistem tahanan elektromagnetik terkontrol. Produk ini menjadi solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan media latihan preklinik yang selama ini belum mampu menghadirkan sensasi pencabutan menyerupai kondisi klinis nyata.
Kelima mahasiswa tersebut tergabung dalam Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI), terdiri atas Davin Izhrel Ngilamele, Dimas Nada Saputra, dan Nafisa Afnan Syahira dari Program Studi Kedokteran Gigi (Fakultas Kedokteran Gigi), Gary Christian Wijaya dari Program Studi Teknologi Informasi (Fakultas Teknik), serta Luthfan Chaerul Zafran dari Program Studi Elektronika dan Instrumentasi (Fakultas MIPA), di bawah bimbingan Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes. (Fakultas Kedokteran Gigi).
Ketua tim, Davin Izhrel Ngilamele, menjelaskan bahwa gagasan PRIME berawal dari keresahan terhadap keterbatasan media latihan pencabutan gigi di pendidikan preklinik. Sebagian besar phantom konvensional bersifat statis dan hanya berfungsi sebagai media visual, tanpa mampu memberikan umpan balik gaya selama proses pencabutan. “Kondisi ini membuat mahasiswa belum sepenuhnya terlatih mengendalikan gaya dan arah pencabutan, padahal keduanya sangat menentukan keberhasilan tindakan pada pasien. PRIME hadir agar mahasiswa dapat berlatih secara aman, berulang, dan terukur,” ujar Davin.
Secara mekanis, PRIME memanfaatkan dua unit elektromagnet berkapasitas tinggi yang dipasang pada rahang atas dan rahang bawah phantom. Setiap gigi tiruan dilengkapi sisipan feromagnetik pada bagian akarnya, sehingga besarnya gaya tahan dapat diatur secara elektronik menyesuaikan jenis dan jumlah akar gigi. “Kami merancang sistem ini agar tingkat kesulitan dapat berubah dari insisivus hingga molar dalam satu alat yang sama, tanpa perlu mengganti phantom secara keseluruhan,” jelas Luthfan Chaerul Zafran, yang menangani perancangan sistem elektronika.
Dari sisi kendali dan perangkat lunak, Gary Christian Wijaya menjelaskan bahwa PRIME dioperasikan sepenuhnya melalui antarmuka web yang dilayani langsung oleh mikrokontroler ESP32. Sistem ini dirancang untuk dua peran pengguna sekaligus, yaitu penguji dan mahasiswa, yang masing-masing mengakses halaman berbeda melalui ponsel pintar. “Penguji cukup memilih jenis gigi yang akan diujikan, lalu sistem otomatis mengaktifkan tahanan elektromagnetik sesuai target gaya gigi tersebut. Seluruh proses berjalan pada jaringan lokal, sehingga alat tetap andal dioperasikan di laboratorium mana pun,” ujarnya.
Salah satu hal yang membedakan PRIME dari media latihan sejenis adalah perannya yang dapat berubah dari ruang berlatih menjadi ruang ujian. Dengan antarmuka digital terpisah bagi penguji dan mahasiswa, dosen cukup menentukan gigi yang harus dicabut melalui perangkatnya, lalu instruksi tersebut diteruskan kepada mahasiswa yang akan menjalankan prosedur. Seluruh rangkaian sesi terekam secara digital, menghadirkan penilaian keterampilan yang lebih objektif dibandingkan pengamatan manual.
Sementara itu, Nafisa Afnan Syahira menjelaskan bahwa pengembangan PRIME senantiasa mengacu pada kebutuhan pembelajaran klinis yang sesungguhnya. Penentuan besar gaya tahan untuk setiap kategori gigi disusun berdasarkan kajian literatur mengenai gaya pencabutan pada kondisi klinis, kemudian diterjemahkan menjadi parameter yang dapat dikendalikan oleh sistem. Adapun Dimas Nada Saputra menambahkan bahwa sifat modular dan reusable pada PRIME membuatnya ekonomis untuk penggunaan jangka panjang, karena gigi tiruan dan komponen magnetiknya dapat diganti dengan mudah.
Dosen pendamping tim, Prof. Dr. drg. Archadian Nuryanti, M.Kes., menyampaikan harapan agar PRIME dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai media pembelajaran yang mendukung peningkatan kompetensi mahasiswa. “Melalui pengembangan teknologi dan desain yang inovatif, alat ini diharapkan dapat membantu mahasiswa meningkatkan koordinasi tangan, memahami anatomi gigi, serta mengasah keterampilan teknis sebelum memasuki tahap pelayanan kepada pasien,” tuturnya.
Tim PKM-KI PRIME juga telah melakukan publikasi produk melalui media sosial resmi seperti Instagram, YouTube, dan TikTok, serta tengah mempersiapkan pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk perlindungan desain industrinya.
Dengan hadirnya inovasi ini, PRIME diharapkan menjadi bukti nyata bahwa keilmuan teknik memiliki peran strategis dalam menjawab persoalan di bidang kesehatan. Melalui perpaduan rekayasa sistem kendali, pemrograman, dan instrumentasi elektronika, mahasiswa Fakultas Teknik menunjukkan kontribusinya dalam menghadirkan alat pendidikan kesehatan buatan dalam negeri yang lebih terjangkau dan tepat guna. (Penulis: Tim Prime)