Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menggelar diskusi mengenai pembangunan Giant Sea Wall (GSW) sebagai upaya memperkuat perlindungan kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) dari ancaman banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah (land subsidence).
Diskusi yang berlangsung pada Jumat (28/8) tersebut dihadiri oleh Prof. Ir. Ali Awaludin, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama FT UGM, bersama dosen dan peneliti FT UGM. Dari Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan hadir Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan Pangan Dr. Suraji, S.P., M.Si., beserta tim; Dr. Ir. Prakosa Hadi Takariyanto, M.T., M.M., Tenaga Ahli Utama Bidang Infrastruktur dan Sumber Daya Pesisir Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), beserta tim; serta perwakilan industri dari WIKA Beton.
Dalam diskusi, land subsidence menjadi salah satu isu utama yang perlu mendapatkan perhatian serius. Sejumlah kawasan Pantura, khususnya Semarang, Sayung, dan Pekalongan, mengalami penurunan muka tanah yang signifikan. Kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan desain dan sistem perlindungan pesisir yang mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Penerapan konsep Giant Sea Wall dan living protection dengan memanfaatkan ekosistem mangrove, ruang terbuka hijau, tambak, serta berbagai solusi berbasis alam (nature-based solutions) juga menjadi usulan dari para peneliti. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan perlindungan terhadap kawasan pesisir, tetapi juga menjaga fungsi ekologis dan mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir, termasuk nelayan.
Aspek material konstruksi turut menjadi perhatian, khususnya peluang pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA), slag, dan material alternatif lainnya untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih ramah lingkungan. Dari sisi energi, diskusi juga membahas peluang pemanfaatan energi terbarukan serta perlunya kajian jangka panjang terhadap kebutuhan dan sumber energi dalam pengelolaan kawasan pesisir.
Diskusi menekankan pentingnya kajian yang terintegrasi melalui pendekatan multidisiplin dan scenario-based planning. Data geologi, geodesi, hidrologi, oseanografi, lingkungan, sosial, dan ekonomi perlu dikonsolidasikan untuk menghasilkan rekomendasi pembangunan yang berbasis data dan fakta ilmiah.
Ke depan, BOPPJ dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dengan UGM untuk melakukan pendalaman kajian pembangunan GSW. Konsep GSW idealnya dikembangkan sebagai sistem yang adaptif dan berlapis, dengan melibatkan lebih banyak diskusi interaktif dan berbagai pemangku kepentingan.
Kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi juga dinilai penting untuk memastikan pembangunan GSW tidak hanya berorientasi pada perlindungan kawasan, tetapi tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan. “Jangan sampai dalam upaya melindungi lingkungan, kita justru menimbulkan kerusakan lingkungan,” menjadi salah satu prinsip yang mengemuka dalam diskusi (Penulis: Aci Prima Sari).