“…, Karena mungkin, empat tahun di universitas memang tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita mengetahui seluruh jawaban. Akan tetapi, universitas mengajarkan kita bagaimana cara mencari jawabannya,” ujar Kayla Zahra Ramadhany dalam pidato kelulusannya di Grha Sabha Pramana UGM, Rabu (20/8/2026).
Di balik sosok yang mewakili wisudawan dan wisudawati Fakultas Teknik pada Wisuda Periode IV Tahun Akademik 2025/2026, terdapat seorang mahasiswi Teknik Elektro yang aktif mengambil berbagai peran. Selama kuliah, Kayla aktif berorganisasi, mengikuti berbagai kompetisi, menjalani pekerjaan part-time di bidang content creating dan liputan, hingga menjadi awardee Beasiswa Indonesia Maju (BIM).
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Kayla terjadi saat awal masa perkuliahan ketika ia menjadi Co-fasilitator PPSMB Pionir Gadjah Mada—yang saat ini telah berganti nama menjadi Pionir Gadjah Mada. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik yang mendorongnya untuk lebih berani keluar dari zona nyaman.
“Pengalaman ini membuat saya lebih berani untuk kenal orang baru, melatih skill komunikasi, dan berani mencoba berbagai tantangan yang ada selama kuliah,” ungkap Kayla.
Keberanian untuk mencoba kemudian menjadi bekal Kayla dalam menjalani berbagai peran. Termasuk untuk menjalani part-time di bidang content creating dan liputan. Alih-alih menjadi beban, aktivitas tersebut justru menjadi ruang untuk menyegarkan diri dari rutinitas perkuliahan.
“Melakukan kegiatan content creating, liputan, itu menyenangkan untuk saya lakukan. Makanya, bukannya menjadi beban, tapi jadi ajang refreshing di tengah kuliah yang cukup memusingkan,” tuturnya.
Melalui pekerjaan tersebut, Kayla tidak hanya belajar membagi waktu, tetapi juga mengenal lebih jauh dunia kehumasan di lingkungan universitas. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan mewawancarai sejumlah tokoh, di antaranya Anies Baswedan, Mahfud MD, dan Airlangga Hartarto.
Kesibukan di berbagai bidang tidak lantas membuat Kayla mengesampingkan bidang akademik. Ia tetap berupaya menjaga performa studinya hingga berhasil menyelesaikan pendidikan di Teknik Elektro dengan predikat cumlaude.
Memadukan Engineering, Leadership, dan Komunikasi
Perjalanan Kayla tidak berhenti pada kegiatan akademik dan organisasi. Pada 2026, ia berhasil meraih juara pertama University Category dalam IOC Forum & AI/ML Hackathon Hulu Migas 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Kayla berperan sebagai engineer untuk mengidentifikasi root cause dari kejadian failure di sektor hulu migas. Meskipun tidak terlibat secara langsung dalam pengembangan machine learning, pengalaman tersebut memberinya wawasan mengenai semakin pentingnya teknologi AI/ML dalam berbagai sektor industri.
“Pada hackathon ini, saya berperan sebagai engineer untuk mengidentifikasi root cause terkait kejadian failure di hulu migas. Meskipun tidak terlibat langsung dalam developing machine learning-nya, pengalaman ini cukup memberikan saya insight tentang pentingnya teknologi AI/ML di zaman yang serba modern ini, bahkan dalam industri lain, seperti pada industri migas,” ujarnya.
Menurut Kayla, perkembangan teknologi juga menunjukkan bahwa dunia kerja semakin membutuhkan kolaborasi lintas bidang. Kemampuan memahami persoalan secara teknis perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berkomunikasi dan bekerja bersama orang lain.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam pengalaman Kayla sebagai Mbak Wonosobo 2026. Sebagai putri asli Wonosobo, ia mengambil tantangan baru di luar lingkungan akademik dan teknik. Baginya, kedua dunia tersebut justru dapat saling melengkapi.
“Latar belakang engineering mengajarkan saya untuk berpikir secara sistematis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berdasarkan data. Sementara itu, kemampuan komunikasi dan leadership mengajarkan saya bagaimana menyampaikan gagasan, memahami perspektif orang lain, dan mengajak orang lain untuk bergerak bersama,” jelasnya.
Bagi Kayla, kemampuan tersebut merupakan bekal penting bagi seorang engineer. Seorang insinyur tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan persoalan secara teknis, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan solusi kepada berbagai pihak.
“Bagi saya, seorang engineer tidak hanya dituntut untuk mampu menyelesaikan persoalan secara teknis, tetapi juga harus mampu mengomunikasikan solusi tersebut kepada berbagai pihak,” tambahnya.
Belajar Melangkah, Satu Per Satu
Menjalani berbagai aktivitas sekaligus tentu tidak selalu mudah. Kayla mengakui bahwa ia pernah berada pada fase ketika berbagai tanggung jawab terasa terlalu berat. Dalam kondisi tersebut, ia memilih untuk memperlambat langkah dan memecah persoalan besar menjadi bagian-bagian kecil.
“Slow down. Hal besar di-breakdown menjadi hal-hal kecil yang bisa dilalui step by step,” katanya.
Prinsip tersebut menjadi cara Kayla menghadapi berbagai tantangan yang hadir selama masa perkuliahan. Baginya, tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus. Ada kalanya seseorang perlu berhenti sejenak, menentukan prioritas, kemudian kembali melangkah satu per satu.
Pemikiran tersebut pula yang ingin Kayla bagikan kepada teman-teman sejawatnya yang baru menyelesaikan pendidikan di UGM. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru yang mungkin belum memiliki arah yang sepenuhnya pasti.
“Hari wisuda bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan kita masing-masing. Kita mungkin belum tahu akan berjalan ke mana atau belum memiliki semua jawabannya, dan itu tidak apa-apa. Yang penting, kita terus mau belajar, beradaptasi, dan memberikan yang terbaik di setiap prosesnya. Karena dunia akan terus berubah, tetapi saya percaya bekal yang kita dapatkan di UGM akan membantu kita untuk terus bertumbuh dan menghadapi perubahan tersebut. Semoga di mana pun kita berada nantinya, kita bisa membawa ilmu yang kita punya untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” tutur Kayla. (Penulis: Radaeva)
Sumber: Wawancara dengan Kayla Zahra R.

