Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (FT UGM) di kancah internasional. Prestasi ini datang dari tim mahasiswa Program Magister Teknik Sistem (MeTSi) yang berhasil meraih Juara 1 dalam Graduate Student Paper Competition pada ajang 7th Asia Pacific IEOM Conference 2026. Kompetisi ini merupakan bagian dari konferensi yang diselenggarakan oleh IEOM Society International di Bangkok pada 25–27 Maret 2026. Dengan partisipasi dari 56 negara, ajang ini menjadi salah satu forum paling kompetitif di bidang teknik industri dan manajemen operasi.
Tim yang terdiri dari Arham, La Ode Masri Ande Kolewora, Muhammad Taufiq, Saiful M., dan Virtuous Ikmal Wicaksono ini mengangkat karya ilmiah berjudul “The Mid-Term Forecast of South Sulawesi’s Renewable Energy Supply and Demand: An Application of Long-Range Energy Alternatives Planning.” Di bawah bimbingan Ahmad Agus Setiawan, penelitian ini mengusung pendekatan Long-Range Energy Alternatives Planning (LEAP), sebuah model perencanaan energi berbasis sistem yang digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan dan pasokan energi secara komprehensif.
Fokus mereka tertuju pada Sulawesi Selatan, wilayah dengan potensi energi terbarukan yang melimpah, mulai dari tenaga air, angin, panas bumi, biomassa, hingga surya. “Di antara semua potensi tersebut, yang paling besar adalah tenaga air karena banyaknya sungai dan anak sungai yang dapat dimanfaatkan,” ungkap Arham. Hal ini selaras dengan arah kebijakan dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Sulawesi Selatan yang menempatkan pembangkit listrik tenaga air sebagai prioritas utama, disusul energi surya sebagai alternatif strategis.
Namun, tantangan tidak berhenti pada potensi. Sejak 2015, permintaan listrik di Sulawesi Selatan terus meningkat signifikan di berbagai sektor. Menjawab dinamika ini, tim MeTSi merancang dua skenario transisi energi. Skenario pertama menawarkan pendekatan ambisius: 100% energi terbarukan dengan eliminasi energi fosil. Sementara itu, skenario kedua mengusulkan pendekatan yang lebih realistis dalam jangka menengah, yaitu kombinasi energi terbarukan dan fosil dengan komposisi seimbang.
“Dalam jangka menengah, pendekatan kombinasi lebih realistis, misalnya dengan komposisi 50% energi terbarukan dan 50% energi fosil,” jelas Arham.
Tim berharap hasil kajian mereka untuk dikembangkan menjadi policy brief yang dapat diajukan kepada pemangku kepentingan, mulai dari DPR, Kementerian ESDM, hingga pemerintah daerah. Bagi mereka, perencanaan energi bukan hanya soal angka, tetapi tentang memastikan arah pembangunan yang berkelanjutan dan tepat sasaran.