Moskwa, Rusia — Dua delegasi Indonesia dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Nisma Islami Maharani dan Wahyu Amalia Nurbaiti, memperkuat kapasitas sumber daya manusia Indonesia di bidang radiokimia, teknologi nuklir, dan transisi energi melalui International Summer School on Radiochemistry (ISSR) 2026 di Lomonosov Moscow State University (MSU), Moskwa. Selama program intensif 10 hari yang diselenggarakan MSU bersama ROSATOM, keduanya bergabung dengan lebih dari 40 peneliti, profesor, dan spesialis dari berbagai negara untuk mempelajari aplikasi nuklir melalui kuliah teknis, praktik laboratorium, diskusi ilmiah, serta kunjungan ke fasilitas riset strategis.
Program tersebut menghadirkan peserta dari Afrika, Asia, dan Eropa serta mempertemukan mereka dengan akademisi dan pakar dari MSU, ROSATOM, A.I. Burnasyan State Research Center, National Research Centre “Kurchatov Institute”, International Atomic Energy Agency (IAEA), dan Imperial College London. Melalui pembelajaran teori dan praktik, peserta mendalami radiopharmacy dan kedokteran nuklir, sintesis berbasis radiasi, sterilisasi dan dekontaminasi, spektrometri, teknologi antariksa, hingga pemanfaatan radionuklida untuk pelestarian warisan budaya dan ilmu forensik.
Partisipasi Indonesia menjadi penting karena penguasaan teknologi nuklir tidak lagi terbatas pada pembangkitan listrik, tetapi juga menyentuh sektor kesehatan, pangan, industri, material maju, dan keselamatan. Dalam program tersebut, peserta memperoleh akses pembelajaran langsung di National Research Centre “Kurchatov Institute”, termasuk paparan terhadap reaktor riset, fasilitas radiasi sinkrotron, dan lini produksi isotop. Pengalaman ini memperluas pemahaman peserta mengenai ekosistem penelitian nuklir, budaya keselamatan, serta infrastruktur riset yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi berisiko tinggi secara bertanggung jawab.
Nisma Islami Maharani sebagai Vice Coordinator Activity and Business PJCI, membawa perspektif transisi energi dan integrasi teknologi melalui pengalamannya sebagai peneliti di Renewable Energy System and Planning Laboratory, Fakultas Teknik UGM, dibawah bimbingan Dr. Ahmad Agus Setiawan, serta keterlibatannya dalam pengembangan smart grid dan tata kelola energi. Dalam forum tersebut, ia mengangkat kebutuhan integrasi energi nuklir dengan jaringan listrik masa depan sekaligus peluang teknologi nuklir nonlistrik, mulai dari iradiasi pangan dan pemuliaan tanaman hingga produksi radioisotop untuk pelayanan kesehatan. Ia juga menekankan pentingnya budaya keselamatan, pengelolaan limbah, serta kolaborasi lintas negara dalam pembangunan kapasitas nuklir Indonesia.
Sementara itu, Wahyu Amalia Nurbaiti memperkuat dimensi keahlian teknis Indonesia. Lulusan Teknik Nuklir UGM tersebut menyelesaikan program magister Nuclear Physics and Technology di National Research Nuclear University MEPhI, Rusia, dan memperoleh IAEA Marie Sklodowska-Curie Fellowship Programme 2025. Keahliannya mencakup fisika medis, analisis keselamatan reaktor, pengelolaan siklus bahan bakar, kimia radiasi, serta material maju. Kompetensi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem nuklir nasional memerlukan investasi jangka panjang pada peneliti yang mampu menjembatani ilmu dasar, rekayasa, keselamatan, dan kebutuhan masyarakat.
Pengembangan kompetensi itu juga ditempatkan dalam kerangka diplomasi ilmu pengetahuan. Kedua delegasi Indonesia terlibat dalam pertukaran budaya dan jejaring internasional bersama peserta dari berbagai negara. Kepala Program Pendidikan ROSATOM, Valery Karezin, menjelaskan bahwa ISSR merupakan bagian awal dari rangkaian pendidikan yang ditujukan untuk menyiapkan spesialis masa depan yang mampu mengelola pusat nuklir dan teknologi tinggi dengan dukungan sumber daya manusia, kemampuan riset, dan teknologi produksi mutakhir. Dengan demikian, program ini tidak hanya memperkuat transfer pengetahuan, tetapi juga membuka ruang pembentukan jejaring profesional yang dapat berkembang menjadi kolaborasi pendidikan, penelitian, dan teknologi lintas negara.
Kelulusan kedua delegasi dari ISSR 2026 menjadi momentum untuk menghubungkan keunggulan sumber daya manusia, riset radiokimia, smart grid, diplomasi sains, dan agenda energi bersih Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan dan jejaring global tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas penelitian, pendidikan nuklir, layanan kesehatan, teknologi pangan, keselamatan radiasi, serta perencanaan energi yang berbasis bukti. Dalam konteks itu, kontribusi talenta UGM di panggung internasional menunjukkan bahwa universitas dapat memainkan peran strategis bukan sekadar sebagai penyedia pendidikan, tetapi sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan energi, teknologi, dan kerja sama global menuju pembangunan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan. (Tim Humas FT UGM)

