FT-UGM. Tim Le-Mesind dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang beranggotakan Erick Saputra Rawung, Michelle Carissa Purnama, dan Samuel Lie berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Di bawah bimbingan dosen pendamping Dr. Akmal Irfan Majid, tim kolaborasi mahasiswa Teknik Mesin dan Teknik Industri ini sukses menyabet gelar Juara Utama (Juara 1) sekaligus penghargaan bergengsi Best Presentation dalam babak final ajang Sustainable Innovation and New Energy Competition (SINEC 2026) yang diselenggarakan pada Sabtu (16/5).
Prestasi luar biasa ini diraih berkat pemaparan inovasi teknologi mutakhir bernama CAKRA-N (Cavitation & Acoustic Reaction for Nyamplung). CAKRA-N merupakan sebuah ekosistem transformasi sirkular komprehensif yang memproses biji nyamplung pesisir—sebagai komoditas tanaman non-pangan di lahan marjinal menjadi produk bio-booster biodiesel berkualitas superior. Inovasi ini hadir di tengah ketatnya persaingan sebagai solusi konkret untuk mengakselerasi target Mandatori B50 nasional tanpa mengganggu stabilitas bahan pangan maupun mengorbankan pasokan minyak goreng rakyat, sekaligus memecahkan dilema ekologis akibat ekspansi kelapa sawit.
Keunggulan utama teknologi reaktor CAKRA-N terletak pada integrasi kavitasi ultrasonik berfrekuensi 20–40 kHz dengan penggunaan eco-catalyst CaO padat yang diproduksi secara mandiri dari limbah cangkang kerang pesisir. Metode getaran kavitasi ini mampu mempercepat kinetika reaksi transesterifikasi hingga lebih dari 80%, memangkas durasi proses konvensional yang semula membutuhkan waktu 1 hingga 3 jam menjadi hanya 15 hingga 30 menit saja, dengan efisiensi konversi mencapai 98%.
Sistem CAKRA-N juga mengadopsi konsep sirkular zero waste, di mana seluruh limbah sampingan diolah kembali, termasuk mengonversi ampas bungkil nyamplung menjadi briket bioarang yang berfungsi sebagai energi termal mandiri untuk tanur kalsinasi kerang. “Kemenangan ini adalah buah dari kerja keras seluruh anggota tim serta bimbingan yang sangat intensif. Kami bersyukur dewan juri mengapresiasi tinggi CAKRA-N, bukan hanya karena keunggulan teknologinya yang instan, tetapi karena kami menawarkan cetak biru bisnis desentralisasi modular berskala BUMDes yang sangat siap diimplementasikan secara nyata di desa-desa pesisir Indonesia demi kemandirian energi nasional,” ungkap Erick Saputra Rawung selaku Ketua Tim Le-Mesind UGM.
Performa presentasi yang dibawakan secara taktis dan tajam oleh Tim Le-Mesind sukses mengunci penilaian tertinggi dari dewan juri. Tim berhasil membedah secara rinci analisis teknis mulai dari neraca massa berkapasitas produksi 7.200 liter per tahun, kelayakan finansial investasi, hingga keunggulan lingkungan di mana emisi karbon netto CAKRA-N terbukti hanya sebesar 0,57 kg CO2 per liter, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan solar fosil yang mencapai 2,68 kg CO2 per liter.
Dosen pembimbing tim, Dr. Akmal Irfan Majid, turut menyampaikan apresiasinya. “Inovasi ini memiliki dasar payung sains yang sangat kuat karena terintegrasi langsung dengan proyek riset aktif departemen. Fondasi rekayasa mesin, efisiensi termodinamika daur ulang metanol, serta kelayakan tekno-ekonominya telah divalidasi. Kami berharap CAKRA-N dapat segera melangkah ke fase purwarupa fisik pada peta jalan tahun 2027 sebagai kontribusi nyata UGM bagi percepatan target Net Zero Emission Indonesia 2060,” tegasnya. [penulis : Erick Saputra Rawung]