FT-UGM. Tim mahasiswa Carbolight berhasil meraih Juara 3 (Bronze Medal) pada ajang International Student Competition (ISC) 2026 bertema Global Synergy for Sustainable Development yang diselenggarakan oleh Universiti Putra Malaysia (UPM) bekerja sama dengan International Student Competition. Kompetisi internasional tersebut berlangsung pada 13–16 Februari 2026 di Alamis City Hotel Ballroom, Kuala Lumpur, dan diikuti mahasiswa dari berbagai negara Asia Tenggara.
Tim Carbolight terdiri dari Reva Arma Jala Antariksa, Muhamad Daffa Raditya Widyadana, Arief Putra Pratama, Nugroho Ibrahim, dan Naufal Fabianito Assariy. Dalam pelaksanaan kompetisi, tim diwakili secara langsung oleh Arief Putra Pratama, Muhamad Daffa Raditya Widyadana, dan Naufal Fabianito Assariy. Mereka berkompetisi pada topik Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui inovasi bertajuk “CARBOLIGHT System”, sebuah integrasi teknologi yang mengubah emisi karbon industri dan limbah biomassa menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Kompetisi diawali dengan sesi Poster Exhibition dan tanya jawab selama tujuh menit bersama dewan juri internasional. Tim yang memperoleh nilai tinggi kemudian berkesempatan melanjutkan ke tahap presentasi lanjutan di hadapan panel juri. Melalui pendekatan berbasis dekarbonisasi dan ekonomi sirkular, Carbolight menawarkan solusi terhadap tingginya emisi karbon sekaligus kebutuhan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Menurut Arief Putra Pratama, perwakilan tim, pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi dan persiapan panjang. “Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan global, khususnya transisi energi dan pengurangan emisi di sektor aviasi,” ujarnya seusai awarding ceremony.
Inovasi CARBOLIGHT mengintegrasikan teknologi carbon capture, gasifikasi biomassa, hingga proses sintesis bahan bakar berbasis Fischer–Tropsch untuk menghasilkan Sustainable Aviation Fuel. Pendekatan ini dinilai juri memiliki potensi implementasi karena memanfaatkan sumber daya lokal sekaligus mendukung target net zero emission.
Muhamad Daffa Raditya Widyadana menambahkan bahwa pengalaman kompetisi internasional memberikan pembelajaran penting di luar aspek teknis. “Diskusi langsung dengan akademisi dan praktisi global membuka perspektif baru tentang bagaimana riset mahasiswa dapat dikembangkan menjadi solusi industri,” katanya.
Ajang ISC 2026 tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga ruang pertukaran gagasan melalui seminar internasional, pameran inovasi, dan kegiatan networking lintas negara. Keberhasilan meraih Bronze Medal menjadi bukti kontribusi mahasiswa Indonesia dalam pengembangan teknologi energi berkelanjutan di tingkat global.
Dengan capaian ini, Tim Carbolight berharap inovasi mereka dapat dikembangkan lebih lanjut menuju tahap riset lanjutan dan kolaborasi internasional, sekaligus mendorong percepatan penggunaan bahan bakar penerbangan rendah emisi di masa depan. [Penulis : Reva Arma Jala Antariksa]