FT-UGM. “Bisa sampai ke tahap Top 5 di skala internasional ini sudah jadi pencapaian yang sangat kami syukuri. Lewat kompetisi ini, kami belajar banyak cara baru dalam mengolah ide desain agar lebih relevan dengan konteks memori dan perasaan penggunanya,” ujar Adhitya Fawwaz, mahasiswa Arsitektur UGM semester 4.
Kabar membanggakan datang dari mahasiswa Departemen Arsitektur Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim yang beranggotakan Adhitya Fawwaz Wira Edbert, Naufal Wintrananda S., dan Alif Hasyim Putra berhasil menorehkan prestasi di ajang internasional Archworks X dengan meraih posisi Top 5 Finalis.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) ini mengusung tema “Designing Presence: Space, Memory, and Belonging”. Tema tersebut mengajak para peserta untuk memikirkan kembali bagaimana sebuah ruang tidak hanya berfungsi sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga mampu menyimpan kenangan, membangun keterikatan emosional, dan menciptakan rasa memiliki bagi penggunanya.
Perjalanan kompetisi dimulai sejak Februari 2026 melalui proses pendaftaran dan pengumpulan karya. Setelah bersaing dengan peserta dari berbagai latar belakang dan negara, tim UGM dengan kode AWX_077 berhasil lolos ke babak final yang diumumkan pada 15 April 2026.
Sebagai finalis, mereka diundang ke Kampus UPJ di Tangerang Selatan untuk mengikuti sesi presentasi dan penjurian secara langsung pada 25 April 2026. Di hadapan dewan juri, tim memaparkan konsep desain yang mereka kembangkan sebagai respons terhadap berbagai isu keruangan yang berkembang saat ini.
Tidak hanya mempresentasikan karya, ajang ini juga menjadi pengalaman berharga bagi mereka untuk bertemu dengan sesama mahasiswa arsitektur, melihat berbagai karya inspiratif dari peserta lain, serta mengikuti simposium dan workshop yang menjadi bagian dari rangkaian festival Archworks X.
Menurut tim, pengalaman ini membuka perspektif baru tentang bagaimana arsitektur dapat dilihat dari sisi yang lebih dekat dengan manusia. Bukan sekadar menciptakan bangunan yang menarik secara visual, tetapi juga merancang ruang yang mampu menghadirkan pengalaman, emosi, dan cerita bagi penggunanya.
Meski belum keluar sebagai juara utama, pencapaian masuk Top 5 tingkat internasional menjadi bukti bahwa mahasiswa UGM mampu bersaing dan menunjukkan kualitasnya di panggung global. Pengalaman ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus belajar, bereksperimen, dan menghasilkan karya-karya inovatif di masa mendatang.
“Buat kami, kompetisi ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga tentang proses belajar, bertukar ide, dan berkembang sebagai calon arsitek yang lebih peka terhadap kebutuhan manusia,” tutup Adhitya.