Yogyakarta, 16 Juli 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk menjajaki penguatan kerja sama di bidang riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia melalui pertemuan yang digelar di FT UGM. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan dan pengelolaan jalan tol yang lebih aman, efisien, berbasis data, dan berkelanjutan melalui penelitian bersama, pengembangan aplikasi, program magang, rekrutmen, serta pendidikan profesi insinyur.
Dekan FT UGM Prof. Selo bersama Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan A. Purwantono dan jajaran kedua institusi memetakan sejumlah peluang kolaborasi dalam pertemuan tersebut. Kerja sama dirancang untuk menjawab kebutuhan pengelolaan transportasi masa depan melalui keterlibatan bidang teknik sipil, teknik fisika, teknologi informasi, dan rencana studi di Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) FT UGM. Rivan A. Purwantono tercatat masih menjabat sebagai Direktur Utama Jasa Marga pada 2026.

Prof. Selo mengatakan FT UGM memiliki keilmuan dan sumber daya yang dapat mendukung berbagai aspek pengembangan jalan tol. Bidang teknik sipil dapat berkontribusi pada pengembangan konstruksi, teknologi perkerasan, pemeliharaan, dan peningkatan kualitas infrastruktur jalan. “FT UGM akan mencari peluang kerja sama yang lebih luas, terutama dalam pengembangan jalan tol, teknologi pengukuran kendaraan, dan pengelolaan data berbasis digital,” kata Prof. Selo.
Bidang teknik fisika, lanjut Prof. Selo, dapat mendukung pengembangan teknologi sensor untuk mengukur berat atau tonase kendaraan, kondisi jalan, dan parameter teknis lainnya. Teknologi tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas infrastruktur sekaligus mengurangi risiko kerusakan jalan akibat kendaraan dengan muatan berlebih.
Sementara itu, bidang teknologi informasi dapat berkontribusi melalui pengembangan sistem pendataan kendaraan, pengelolaan basis data, analisis statistik lalu lintas harian, serta aplikasi interaktif. Data tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kepadatan lalu lintas, merencanakan pemeliharaan, meningkatkan keselamatan, dan mendukung pengambilan keputusan secara cepat.

Rivan A. Purwantono mengatakan pengelolaan jalan tol pada masa mendatang harus didukung oleh pencatatan otomatis dan sistem yang saling terhubung. Pencatatan manual tidak lagi memadai karena jumlah kendaraan, transaksi, kamera, sensor, dan data operasional terus meningkat. “Seluruh transaksi dan pergerakan kendaraan perlu terdata dengan baik. Sistem tiket, data kendaraan, kamera, radar, dan pengaturan server harus terintegrasi agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan,” ujar Rivan.
Jasa Marga telah mengembangkan Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC) sebagai pusat pengelolaan informasi dan pengendalian operasional jalan tol. Perusahaan juga mengembangkan aplikasi Travoy sebagai ekosistem digital yang menyediakan informasi perjalanan secara waktu nyata, termasuk kondisi lalu lintas, tarif tol, fasilitas tempat istirahat, layanan kendaraan, dan akses terhadap lebih dari 3.500 kamera pengawas atau CCTV.
Pemanfaatan teknologi tersebut membuka peluang pengembangan riset bersama di bidang kecerdasan buatan, analisis data, Internet of Things, sistem sensor, pemrosesan citra, keamanan siber, dan pengembangan aplikasi. Jasa Marga juga membutuhkan semakin banyak pengembang teknologi informasi untuk memperkuat sistem digital dan layanan interaktif bagi pengguna jalan.
Selain digitalisasi, kedua institusi membahas peluang penelitian mengenai teknologi perkerasan jalan. Kajian dapat mencakup pemanfaatan material lokal, pengembangan formula berbasis aspal Buton, peningkatan daya tahan jalan, efisiensi biaya pemeliharaan, dan penggunaan material yang lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi tersebut juga dapat diperluas pada pengelolaan infrastruktur setelah jalan selesai dibangun. Pengembangan jalan tol tidak hanya mencakup pekerjaan konstruksi, tetapi juga membutuhkan sistem operasi, perawatan, keselamatan, pelayanan pengguna, dan pengelolaan aset dalam jangka panjang.
Rivan menjelaskan bahwa transformasi Jasa Marga diarahkan dari pendekatan infra as structure menuju infra as culture. Infrastruktur tidak hanya dipandang sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari budaya mobilitas, keselamatan, pelayanan, teknologi, dan kehidupan masyarakat. Arah transformasi tersebut juga disampaikan Jasa Marga dalam peringatan ulang tahun perusahaan pada Maret 2026.
Dalam pengembangan sumber daya manusia, FT UGM dan Jasa Marga berpeluang menyelenggarakan program magang mahasiswa, penelitian tugas akhir, proyek berbasis industri, kuliah praktisi, rekrutmen lulusan, serta peningkatan kompetensi pegawai. Skema tersebut diharapkan mempertemukan kebutuhan nyata industri dengan kemampuan akademik mahasiswa dan peneliti.
FT UGM juga menawarkan kesempatan kepada tenaga profesional Jasa Marga untuk mengikuti PSPPI. Program tersebut dapat memperkuat kompetensi, etika profesi, dan pengakuan keinsinyuran bagi tenaga ahli yang terlibat dalam pembangunan serta pengelolaan infrastruktur transportasi.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman menyelesaikan persoalan industri secara langsung. Jasa Marga juga berpeluang memperoleh hasil penelitian, prototipe teknologi, dan talenta yang sesuai dengan kebutuhan transformasi perusahaan. Kedua institusi selanjutnya akan mendetailkan ruang lingkup kerja sama, termasuk tema penelitian, kebutuhan teknologi, mekanisme magang, pengembangan kompetensi, dan peluang rekrutmen. FT UGM dan Jasa Marga juga menyatakan kesiapan untuk melanjutkan serta memperpanjang kerja sama agar menghasilkan program yang terukur dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sinergi perguruan tinggi dan industri tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi pengelolaan jalan tol nasional. Kolaborasi ini juga diharapkan meningkatkan keselamatan perjalanan, kualitas pelayanan publik, efisiensi operasional, kapasitas sumber daya manusia, dan keberlanjutan infrastruktur transportasi Indonesia. (Tim Humas FT UGM)
