Yogyakarta, 14 Juli 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) kembali melantik ratusan insinyur baru melalui Pelantikan Insinyur Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Periode I Tahun 2026 yang diselenggarakan di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta. Sebanyak 482 insinyur resmi dilantik pada periode ini, terdiri atas 387 lulusan jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan 95 lulusan jalur reguler. Dengan penambahan tersebut, jumlah alumni insinyur Fakultas Teknik UGM kini mencapai 6.384 orang yang berkiprah di berbagai sektor pembangunan di Indonesia maupun dunia.
Pelantikan ini menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk mengemban peran sebagai profesional yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga integritas dan tanggung jawab dalam menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
Adapun capaian dan profil lulusan pada periode ini adalah sebagai berikut:
- IPK tertinggi jalur reguler: 4,00 yang diraih oleh 29 lulusan
- IPK tertinggi jalur RPL: 3,98 yang diraih oleh Isyrofi Susianto
- Lulusan termuda jalur reguler: Reza Haidar Irfani (22 tahun 11 bulan)
- Lulusan tersenior jalur reguler: Dadi Lestiyardi (53 tahun 4 bulan)
- Lulusan termuda jalur RPL: Argani Ruth De La Rosa Tanjung (24 tahun 9 bulan)
- Lulusan tersenior jalur RPL: Isti Surjandari Prajitno (62 tahun 8 bulan)
Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FT UGM, Prof. Dr. Ir. Sugeng Sapto Surjono S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dalam sambutannya menekankan bahwa profesi insinyur menuntut integritas yang tinggi, terlebih bagi para lulusan Universitas Gadjah Mada yang telah mengucapkan sumpah insinyur.

Menurutnya, di tengah berbagai tantangan dan fenomena degradasi moral yang terjadi saat ini, seorang insinyur dituntut untuk senantiasa menjunjung tinggi etika profesi dan tanggung jawab moral dalam setiap praktik keinsinyuran yang dijalankan.
“Sebagai alumni UGM dan seorang insinyur, Saudara telah mengucapkan sumpah insinyur. Oleh karena itu, Saudara harus menjunjung tinggi integritas dan tanggung jawab moral dalam menjalankan profesi sebagai insinyur,” pesannya kepada para lulusan.

Ucapan selamat juga disampaikan oleh Deputi Ketua Umum Bidang Pengembangan Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ir. Priyatno Bambang Hernowo, ST., MM., MPU., IPU., ASEAN Eng, menyampaikan sambutan dari Ketua Umum PII, Dr.-Ing. Ir. Ilham Akbar Habibie, MBA., IPU, ASEAN Eng. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa gelar insinyur bukan sekadar tambahan gelar di belakang nama, melainkan simbol kompetensi dan kesiapan profesional.
“Saya menyampaikan selamat kepada para insinyur baru. Gelar insinyur tidak hanya merupakan tambahan gelar, tetapi juga mencerminkan kompetensi, tanggung jawab, integritas, dan kesiapan dalam menjalankan praktik keinsinyuran secara profesional,” ujarnya.
Sementara itu, mewakili para insinyur yang dilantik, Ir. Gerry Utama menyampaikan refleksinya mengenai peran strategis insinyur dalam menentukan arah pembangunan bangsa di tengah berbagai tantangan global. Ia mengangkat prinsip trust but verify sebagai semangat yang harus dimiliki setiap insinyur, yakni kemampuan untuk membangun kepercayaan sekaligus menjunjung tinggi proses verifikasi, pembuktian, dan pengambilan keputusan berdasarkan data dan fakta.

Menurut Gerry, kualitas insinyur Indonesia tidak kalah dalam persaingan global. Bahkan, ia menyebut bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia di bidang teknik yang mampu bersaing dengan para insinyur terbaik dunia.
“Insinyur Indonesia bukan kaleng-kaleng, tetapi bisa membuat dunia geleng-geleng,” ujarnya disambut tepuk tangan para peserta pelantikan.
Ia menyinggung pengalaman bangsa Indonesia yang telah berhasil melahirkan peneliti dan insinyur yang mampu berkontribusi dalam berbagai penelitian dan inovasi bertaraf internasional. Hal tersebut menjadi bukti bahwa insan teknik Indonesia memiliki kapasitas untuk berkiprah di tingkat global.
Gerry juga menyoroti tantangan besar yang tengah dihadapi Indonesia, mulai dari perubahan iklim, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga keterbatasan energi. Menurutnya, Indonesia membutuhkan arah pembangunan yang jelas untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, dan di sinilah peran insinyur menjadi semakin penting.
“Peta bukan sekadar gambar. Peta mengantarkan kita memahami bagaimana kita berproses dan berjalan ke arah yang benar,” ungkapnya.
Ia berharap para insinyur baru dapat menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan bangsa serta berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang semakin maju, berkembang, dan berdaya saing.
“Semoga Indonesia menjadi negara yang lebih berwarna, berkembang, dengan ekonomi yang semakin bertumbuh, dan mampu bersaing di kancah dunia,” tuturnya.
Pelantikan ini sekaligus menegaskan komitmen FT UGM dalam mencetak insinyur yang unggul secara akademik, profesional dalam praktik keinsinyuran, serta memiliki integritas dan tanggung jawab sosial. Seiring meningkatnya kompleksitas tantangan global, para insinyur diharapkan mampu menjadi penggerak inovasi dan pembangunan menuju Indonesia yang maju, tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat dunia. (Anggita Noviana Rizki, Editor: Franky Argus Adiwena)

