Salah satu tantangan terbesar dalam pemodelan kota terletak pada skala pekerjaannya. Memodelkan ribuan hingga jutaan bangunan secara manual bukan hanya tidak efisien, tetapi juga sangat rentan terhadap kesalahan.
Menjawab tantangan tersebut, Calvin Wijaya, S.T., M.Eng., dosen Teknik Geodesi UGM, mengembangkan DREAM 3D City (Digital Reconstruction Editing and Modelling 3D City). Dikembangkan di bawah naungan grup riset GEO AI Twin Verse, aplikasi ini hadir sebagai terobosan dalam teknologi pemodelan kota 3D yang lebih cepat dan efisien.
“Aplikasi ini kami rancang untuk memotong proses tersebut (waktu dan tenaga) secara drastis,” ungkap Calvin.
DREAM 3D City telah menunjukkan kinerja yang signifikan dengan kemampuan merekonstruksi hingga 1.400 bangunan per menit, mencerminkan peningkatan efisiensi yang substansial dibandingkan metode konvensional.
Keunggulan ini didukung oleh pemanfaatan dua jenis data utama, yaitu point cloud dan shapefile/GeoJSON. Point cloud mampu menyajikan informasi spasial yang detail, sedangkan shapefile merepresentasikan batas dan tapak bangunan.
Sinergi kedua data ini memungkinkan sistem untuk secara otomatis menghasilkan model kota 3D hingga Level of Detail 2 (LOD 2), yaitu tingkat detail yang sudah mampu merepresentasikan bentuk atap dan struktur dasar bangunan secara realistis. Meski demikian, kualitas hasil akhir tetap sangat bergantung pada kualitas data point cloud.
“Semakin baik dan padat data point cloud yang kita miliki, semakin presisi dan akurat model 3D yang dihasilkan,” tambah Calvin.
Ke depan, Calvin dan tim meyakini bahwa DREAM 3D City dapat menjadi fondasi penting dalam membangun model kota tiga dimensi Indonesia yang lengkap dan akurat. Inovasi ini diharapkan mampu membuka jalan menuju terwujudnya Indonesia Digital Twin, sebuah ekosistem kota cerdas yang terintegrasi, adaptif, dan berbasis data.
Artikel ini disadur dari Konten 3 Minutes Talks dalam youtube resmi FT UGM
