Di tengah urgensi krisis iklim, data dan statistik gas rumah kaca (GRK) nasional memegang peran krusial sebagai dasar penyusunan kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Tanpa metodologi yang kuat dan seragam, upaya mitigasi perubahan iklim akan kehilangan arah dan akurasi.
Dalam konteks inilah, Ir. Hanifrahmawan Sudibyo, S.T., M.Eng., M.S., Ph.D., IPM, dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (FT UGM), menunjukkan perannya di panggung global. Ia dipercaya sebagai Lead Author dalam penyusunan IPCC Methodology Report tentang teknologi Penghilangan Karbon Dioksida, Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Penunjukan tersebut dilakukan langsung oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), badan internasional di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menjadi rujukan utama dunia dalam isu perubahan iklim.
Menurut Ir. Hanifrahmawan, peran sebagai Lead Author dalam penyusunan laporan metodologi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bukan sekadar capaian akademik, melainkan sebuah amanah ilmiah dengan tanggung jawab global yang besar. Ia menegaskan bahwa dalam penyusunan laporan ini, fokus utamanya adalah memastikan metodologi yang dirumuskan konsisten secara ilmiah dan dapat diterapkan di berbagai konteks negara.
“Laporan metodologi digunakan sebagai referensi oleh berbagai negara untuk pelaporan inventarisasi gas rumah kaca sehingga konsistensi dan kejelasan ilmiahnya sangat diperlukan,” ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (9/2/2026).
Dalam laporan tersebut, Ir. Hanifrahmawan dipercaya menangani topik Soils-based Carbon Dioxide Removal (CDR) pada sektor pertanian, kehutanan, dan pemanfaatan lahan lainnya. Topik ini dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim, khususnya dalam meningkatkan serapan karbon melalui pengelolaan tanah dan tata guna lahan yang berkelanjutan.
“Pendekatan Soils-based CDR ini sangat bergantung pada praktik pengelolaan lahan, pertanian, dan kehutanan yang berbeda-beda di tiap negara,” tambah Ir. Hanifrahmawan.
Untuk dapat menduduki posisi Lead Author, Ir. Hanifrahmawan harus melalui proses seleksi yang ketat oleh IPCC Task Force on National Greenhouse Gas Inventories (TFI). Proses tersebut mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari keahlian ilmiah, rekam jejak penelitian, pengalaman internasional, hingga keseimbangan geografis dan gender. Seleksi ini memastikan bahwa tim penyusun laporan metodologi IPCC terdiri atas para pakar dengan kompetensi tinggi dan representasi global yang proporsional.
Keterlibatan Ir. Hanifrahmawan sebagai Lead Author pada IPCC Methodology Report tidak hanya mencerminkan pengakuan internasional atas kapasitas ilmiahnya, tetapi juga menegaskan komitmen FT UGM dalam menangani isu perubahan iklim.
Artikel ini disadur dari pemberitaan di laman resmi Universitas Gadjah Mada.