Indonesia tengah menghadapi transformasi sistem ketenagalistrikan sebagai agenda penting dalam mendukung ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan litrik, penetrasi energi terbarukan, dan tantangan perubahan iklim. Kondisi inilah yang mengakibatkan keandalan sistem saja dinilai tidak memadai kebutuhan di masa depan.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Ketenagalistrikan mengadakan Webinar Beyond Reliability: Membangun Sistem Kelistrikan Indonesia Modern yang Andal, Tangguh, dan Berkelanjutan merupakan bagian dari ENMA Webinar Series pada Selasa (28/7). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pakar dari berbagai institusi, termasuk Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar; CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa; Guru Besar Sistem Tenaga dan Energi Universitas Gadjah Mada, Prof. Tumiran; serta Kepala Pusat Riset Teknologi Ketenagalistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, yang berbagi perspektif mengenai transformasi sistem ketenagalistrikan Indonesia.
Dalam webinar ini, Guru Besar Sistem Tenaga dan Energi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar energi, Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., menyoroti peran penting transformasi sistem ketenagalistrikan Indonesia dan tidak hanya mengejar keandalan menuju sistem yang lebih tangguh, fleksibel, keberlanjutan, dan perencanaan yang terintegrasi. Tranformasi tersebut perlu didukung dengan pengembangan teknologi dan penciptaan permintaan listrik yang produktif sebagai bagian dari agenda pengembangan sistem kelistrikan pada periode tahun 2027–2035. Ia menilai perubahan lanskap energi menuntut kesiapan sistem yang lebih baik. Menurut Prof. Tumiran, munculnya pertanyaan mendasar mengenai kesiapan sistem kelistrikan nasional dalam menghadapi tantangan di masa depan. “Sistem seolah-olah tidak siap,” ungkapnya saat menjelaskan urgensi transformasi sistem ketenagalistrikan di Indonesia.
Prof. Tumiran menjelaskan pentingnya pembangunan pembangkit (Generation Expansion Planning/ GEP) dan jaringan taransimisi (Transmission Expansion Planning/TEP) yang saling terintegrasi dengan tujuan pengembangan sistem kelistrikan dapat berlangsung secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. Selain itu, Ia menjelaskan pengembangan permintaan (demand formation) berperan penting dalam penentuan arah pertumbuhan sistem kelinstrikan. Menurutnya, permintaan listrik yang produktif akan menentukan waktu dan sejauh mana sistem mampu melayani petumbuhan ekonomi serta kebutuhan masyarakat.
Prof. Tumiran menutup paparannya dengan menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya cukup dengan membangun sistem ketenagalistrikan dalam kapasitas yang lebih besar. Bagian terpenting adalah membangun sistem yang makin tangguh, fleksibel, digital, produktif, berkelanjutan, dan mandiri. “Listrik bukan sekadar komoditas kWh. Listrik adalah infrastruktur strategis untuk membangun ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat industri nasional, dan menjaga kedaulatan energi Indonesia,” tutupnya.
Penulis: Rasya Swarnasta