Penyakit periodontal masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi penyakit periodontal di Indonesia mencapai 74,1 persen. Kondisi tersebut bahkan banyak ditemukan pada kelompok usia remaja.
Menjawab kebutuhan deteksi dini, tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karya Cipta (PKM-KC) mengembangkan Periotect, perangkat skrining periodontal non-invasif yang mengintegrasikan teknologi Near-Infrared (NIR), microcamera, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan Internet of Things (IoT).
Ketua tim Periotect, Aziz Nofikri, mengatakan inovasi tersebut dikembangkan untuk menghadirkan teknologi skrining kondisi gusi yang lebih praktis dan berbasis data.
“Kami ingin menghadirkan teknologi yang dapat membantu skrining kondisi gusi secara lebih praktis dan berbasis data. Periotect menjadi pengalaman bagi kami untuk mengintegrasikan kebutuhan medis dengan teknologi,” ujarnya.
Periotect bekerja dengan memanfaatkan cahaya merah dan near-infrared untuk membaca karakteristik optik jaringan gusi. Data yang diperoleh kemudian diolah secara digital dan dianalisis menggunakan kecerdasan buatan untuk menghasilkan informasi mengenai risiko inflamasi pada jaringan periodontal.
Selain data optik, perangkat ini juga dilengkapi mikrokamera dengan polarized filter untuk menangkap citra jaringan gusi. Kedua jenis data tersebut kemudian dianalisis secara terintegrasi untuk mendukung proses skrining.
Nafatan Firmansyah dari Program Studi Teknik Fisika menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pengembangan perangkat adalah menerjemahkan interaksi cahaya dengan jaringan menjadi data yang dapat dianalisis.
“Kami mencoba menerjemahkan karakteristik optik jaringan gusi menjadi data kuantitatif yang kemudian dianalisis dengan kecerdasan buatan,” jelasnya.
Periotect juga dirancang sebagai perangkat portabel yang dapat terhubung dengan sistem digital. Melalui integrasi IoT, data hasil pengukuran dapat disimpan dan ditampilkan kembali sehingga memungkinkan pemantauan kondisi gusi secara berkala.
Dari perspektif kedokteran gigi, anggota tim Naila Evelyna Difani Putri menegaskan bahwa Periotect dikembangkan sebagai alat bantu skrining awal dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan maupun diagnosis oleh dokter gigi.
“Deteksi kondisi periodontal sejak awal sangat penting. Periotect kami kembangkan sebagai alat bantu skrining untuk membantu mengidentifikasi kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan untuk menggantikan dokter gigi,” katanya.
Pengembangan Periotect melibatkan kolaborasi mahasiswa dari berbagai bidang, meliputi Teknik Fisika, Teknik Mesin, Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, Teknologi Rekayasa Internet, serta Kedokteran Gigi. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan perangkat keras, kajian biomedis, pengolahan data berbasis AI, hingga sistem digital.
Dosen pembimbing Periotect, Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA (K), menilai inovasi tersebut menunjukkan potensi kolaborasi multidisiplin dalam menjawab kebutuhan teknologi kesehatan.
“Periotect menunjukkan bagaimana ilmu kedokteran gigi, teknologi optik, rekayasa, kecerdasan buatan, dan sistem digital dapat dikolaborasikan untuk menjawab kebutuhan skrining periodontal,” ujarnya.
Saat ini, Periotect masih berada pada tahap pengembangan dan pengujian prototipe. Hasil yang diberikan bersifat indikatif untuk mendukung skrining awal dan belum dapat menggantikan diagnosis profesional. Tim masih memerlukan pengujian dan validasi klinis lebih lanjut untuk mengevaluasi akurasi, keamanan, dan keandalan perangkat sebelum dapat diterapkan secara lebih luas.
Melalui Periotect, tim mahasiswa UGM berharap teknologi optik dan kecerdasan buatan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung skrining periodontal yang lebih praktis, non-invasif, dan berbasis data, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan jaringan pendukungnya. (Penulis: Tim Periotect/Editor: Humas FT)
