Tim OSTOSENSE Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) berhasil merancang inovasi sistem deteksi dini kebocoran kantong stoma yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI) dan mampu berjalan secara lokal pada perangkat tanpa bergantung pada internet. Inovasi ini dirancang untuk membantu pasien stoma mendeteksi kebocoran sebelum benar-benar terjadi, sekaligus memberikan notifikasi kebocoran aktual secara real-time melalui pemantauan jarak jauh.
Tim yang beranggotakan Putri Eka Desintha, Hamzah Abdul Aziz, Markus Adytama Wisnumaya Nugraha Jati, Rasyadwa Arsya Irnantyanto, dan Marcellinus Dinoglide Yoga Prakoso ini bekerja di bawah bimbingan dosen pendamping Ir. Ridwan Wicaksono, S.T, M.Eng, Ph.D., IPM. Melalui PKM-KC yang berjudul “OSTOSENSE: SISTEM CYBER-PHYSICAL MEDICAL WEARABLE DENGAN EDGE-NATIVE ORDINAL INTELLIGENCE UNTUK STRATIFIKASI RISIKO KEBOCORAN OSTOMI BERBASIS SENSOR LIG DAN DETEKSI KAPASITIF”, tim memanfaatkan mikrokontroler ESP32-S3 yang terintegrasi dengan sensor resistif, sensor kapasitif, dan model Ordinal Logistic Regression untuk mengklasifikasikan tingkat risiko kebocoran ke dalam empat kategori berurutan: Safe, Monitor, Caution, dan Urgent.
Putri Eka Desintha, ketua tim PKM-KC OSTOSENSE, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang dengan pendekatan dua jalur yang saling melengkapi. “OSTOSENSE menggabungkan jalur prediktif berbasis sensor kapasitif dan AI untuk mengenali pola risiko sebelum kebocoran terjadi, dengan jalur fail-safe berbasis sensor resistif LIG yang tetap dapat mendeteksi kebocoran aktual meskipun model AI mengalami kegagalan. Dengan begitu, pasien tetap mendapatkan rasa aman dalam beraktivitas sehari-hari,” ujar Putri.
OSTOSENSE hadir sebagai jawaban atas permasalahan utama yang terus membayangi para penderita stoma, yakni insiden kebocoran kantong kolostomi dan ketidaknyamanan ekstrem yang menyertainya. Kebocoran ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan memicu iritasi kulit parah di sekitar area stoma, bau tidak sedap, dan trauma psikologis yang membatasi mobilitas serta interaksi sosial pasien. Sebuah tinjauan literatur internasional melaporkan bahwa 18 hingga 76 persen pasien yang hidup dengan stoma mengalami kebocoran, dengan 37 persen di antaranya mengalami kebocoran setidaknya sekali per minggu. Studi lain bahkan mencatat prevalensi kebocoran sebesar 19 persen pada 214 pasien yang menjalani operasi stoma selama masa rawat di fase akut.
Untuk memastikan OSTOSENSE benar-benar akurat dan menjawab kebutuhan nyata di lapangan, tim telah berdiskusi langsung dengan Indaryati, S.Kep., Ners., RN, WOC(ET)N, selaku owner, founder, sekaligus CEO Griya Puspa Wound Care Yogyakarta—pusat perawatan luka, stoma, dan inkontinensia pertama di wilayah tersebut, yang juga mendirikan Jogja Nursing Center. Dalam kunjungan ke fasilitas di Caturharjo, Sleman, Yogyakarta ini, tim membahas langsung prototipe yang sedang dikembangkan bersama perawat spesialis yang akrab disapa Ners Iin tersebut. “Masalah paling krusial bagi pasien kolostomi adalah kebocoran yang tidak bisa diprediksi, yang menyebabkan ketidaknyamanan fisik akibat iritasi dan rasa cemas terus-menerus. Jika ada alat seperti OSTOSENSE yang bisa memberikan peringatan sebelum kebocoran menembus baseplate, pasien tentu bisa segera melakukan tindakan pencegahan dan merasa jauh lebih aman beraktivitas,” ujar Ners Iin.
Selain mendeteksi risiko secara dini, OSTOSENSE dirancang agar data hasil pemrosesan sensor dan AI dapat dipantau secara jarak jauh melalui website dan aplikasi mobile, berkat integrasi protokol MQTT dan sinkronisasi data ke Supabase. Dengan begitu, pasien maupun tenaga kesehatan dapat memantau kondisi kantong stoma secara real-time dan mengambil tindakan pencegahan sebelum kebocoran benar-benar terjadi.
Saat ini, tim OSTOSENSE tengah menyelesaikan tahap pelatihan dan validasi model AI menggunakan dataset sensor. Ke depannya, teknologi ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut agar dapat digunakan secara luas oleh pasien stoma di Indonesia, sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas hidup dan kemandirian pasien dalam mengelola perawatan stoma sehari-hari. (Penulis: Tim OSTOSENSE)
