Semangat belajar, rasa ingin tahu terhadap teknologi, dan tekad untuk terus berkembang mengantarkan Rasha Putra Permata menjadi mahasiswa baru Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Bagi Rasha, perjalanan menuju bangku kuliah bukan hanya tentang diterima di perguruan tinggi impian, tetapi juga tentang membuktikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh dan meraih cita-citanya.
Rasha merupakan penyandang disabilitas daksa dengan kondisi spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai bekal penting untuk masa depan. Ayahnya, Harsa Permata, merupakan dosen honorer di salah satu perguruan tinggi swasta, sementara ibunya, Triani Priliastuti, mendampingi dan mendukung perjalanan pendidikan Rasha dari rumah.
Keinginan untuk berkuliah di UGM telah hadir sejak lama. Berbagai kunjungan ke kawasan Bulaksumur membuatnya merasa dekat dengan suasana akademik kampus dan semakin yakin untuk melanjutkan pendidikan di sana.
“Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini,” ujarnya.
Ketertarikan Rasha terhadap dunia teknologi mulai tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Ia aktif mempelajari dasar-dasar robotika dan pemrograman melalui berbagai kegiatan sekolah. Kreativitasnya juga berkembang melalui kegemarannya membuat komik digital di platform Webtoon serta mengikuti kompetisi pengembangan gim dan lomba komik.
Minat tersebut kemudian membawanya memilih Teknik Fisika UGM sebagai tujuan studi. Sebelum menentukan pilihan, Rasha sempat mengenal lebih dekat sejumlah departemen di Fakultas Teknik UGM, mulai dari Teknik Elektro hingga Teknik Industri. Teknik Fisika akhirnya menjadi pilihan karena dinilai memberikan ruang yang luas untuk mengembangkan kemampuan di bidang rekayasa, komputasi, dan teknologi.
“Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah,” katanya.
Perjalanan menuju bangku kuliah tidak selalu berjalan mudah. Selama mempersiapkan diri menghadapi SNBT, Rasha belajar secara mandiri karena sebagian besar lembaga bimbingan belajar belum memiliki akses yang memadai bagi pengguna kursi roda. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Ia mengumpulkan berbagai soal latihan dari teman-temannya dan mempelajarinya hingga larut malam untuk mempersiapkan ujian.
“Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi,” tutur Triani.
Menurut Rasha, materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) menjadi tantangan terbesar selama masa persiapan ujian. Berbagai latihan soal ia kerjakan berulang kali untuk memahami pola dan strategi penyelesaiannya.
“Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya,” ungkapnya.
Selain aktif dalam bidang akademik, Rasha juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi selama bersekolah di SMA Negeri 3 Yogyakarta. Ia bergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai pengurus bidang internal multimedia yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan materi visual sekolah. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni serta terlibat dalam berbagai kegiatan kepanitiaan lainnya.
“Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia. Saya juga pernah menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni di sekolah, serta terlibat sebagai asisten koordinator di beberapa kegiatan lainnya,” jelasnya.
Di balik perjalanan tersebut, terdapat dukungan penuh dari kedua orang tua yang terus memberikan keyakinan kepada Rasha untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
“Dari dulu saya selalu bilang kepada ayahnya, kita sedang membesarkan emas. Di mana pun emas berada, dia akan tetap bersinar. Begitu juga Rasha. Kami percaya dia akan menemukan jalannya untuk terus berkembang,” ujar Triani.
Kisah Rasha menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan yang inklusif dan aksesibel memiliki peran penting dalam membuka kesempatan bagi setiap individu untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi. Harsa dan Triani berharap UGM dapat terus memperkuat komitmennya sebagai kampus inklusif melalui penyediaan fasilitas dan layanan yang semakin ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
“Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang,” pungkas Harsa.
Diolah dan disunting dari artikel yang ditulis oleh Cyntia Noviana, Editor oleh Anggita Noviana Rizki.