Tim PKM-PI SIPROTEX Universitas Gadjah Mada melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penerapan Iptek (PKM-PI) berhasil merancang inovasi dan mengimplementasikan ALAT SIPROTEX (Sistem Integrasi Proses dan Roll Textile) di Sentra Batik Sutari, Desa Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Inovasi ini dirancang untuk mengintegrasikan tiga tahapan produksi batik, meliputi pewarnaan, pelorotan malam, dan pemerasan kain dalam satu alat untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas proses produksi batik.
Tim yang beranggotakan Marshall Gibran Wisnujati, Halim Kusuma Putra, Amalisa Putri Defita, Tsabita Afidati, dan Rafif Hauzan mengembangkan inovasi alat didampingi oleh dosen pendamping, yaitu Ir. Maun Budiyanto, S. T., M. T., IPU. Melalui penelitian berjudul “Implementasi Alat Siprotex pada Sentra Batik Sutari di Desa Wirun, Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah”, tim menghadirkan alat yang mengintegrasikan unit celup/bak dan roller. Unit celup digunakan untuk proses pewarnaan ndan pelorotan malam dengan dilengkapi sistem pemanas berbasis LPG. Sementara itu, roller berfungsi untuk mengurangi kadar cairan pada kain setelah melalui proses pewarnaan dan pelorotan. Siprotex juga dilengkapi dengan Variable Frequency Drive (VFD) dan tombol emergency untuk mendukung pengoperasian alat secara aman.
Marshall Gibran Wisnujati, ketua tim PKM SIPROTEX menjelaskan bahwa alat ini dihadirkan sebagai solusi terhadap proses produksi batik yang masih dilakukan secara manual. “Dengan SIPROTEX, proses pewarnaan, pelorotan, dan pemerasan dapat dilakukan secara terintegrasi sehingga proses menjadi lebih praktis dan sistematis dalam satu alat. Selain mempercepat proses produksi, cairan pewarna hasil pewarnaan dan pemerasan dapat ditampung untuk digunakan kembali oleh mitra,” ujar Marshall.
Pengembangan SIPROTEX didasarkan pada kondisi mitra, yaitu Sentra Batik Sutari yang masih menghadapi keterbatasan waktu dan tenaga dalam memenuhi permintaan konsumen. Usaha batik cap yang telah dijalankan sejak 2005 tersebut mampu menghasilkan 100 potong atau 200 meter kain batik dalam seminggu. Namun, tahapan produksi yang dilakukan secara manual dan berulang membuat satu siklus produksi membutuhkan waktu hingga empat hari. Keterbatasan tersebut turut menyebabkan mitra belum dapat memenuhi seluruh permintaan, khususnya permintaan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat.
Penerapan SIPROTEX tidak hanya membuat tahap produksi menjadi lebih terintegrasi, tetapi juga memberikan peluang efisiensi pada penggunaan bahan dan tenaga kerja. Unit celup pada alat memungkinkan cairan pewarna yang pada kain tertampung sehingga dapat digunakan untuk proses selanjutnya. Sementara roller dapat membantu proses pemerasan secara optimal sehingga mempersingkat roses penjemuran. Oleh karena itu, melalui penerapan SIPROTEX maka waktu produksi berpotensi berkurang menjadi tiga hari untuk satu siklus. Melalui penerapan teknologi ini, Sentra Batik Sutari diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kemampuan dalam memenuhi permintaan pasar. (Penulis: Tim SIPROTEX)