Wonosobo, 10 Oktober 2025 — Wonosobo kaya akan sumber daya alam, salah satunya adalah tanaman bambu. Tanaman bambu tumbuh subur di berbagai wilayah Wonosobo, salah satunya di Kecamatan Sapuran. Namun, pemanfaatannya masih menghadapi berbagai kendala, diantaranya daya tahan yang rendah terhadap hama dan pelapukan, keterbatasan akses teknologi pengawetan, serta rendahnya nilai ekonomi produk bambu. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya pengembangan industri berbasis bambu yang berkelanjutan dan menurunkan daya saing produk bambu di pasar.
Teknologi Dari Kampus Untuk Masyarakat
Sebagai upaya untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti bambu UGM yang beranggotakan peneliti dari Fakultas Teknik, Fakultas Kehutanan, dan Sekolah Vokasi UGM, mengembangkan teknologi pengawetan bambu dengan metode pengasapan belerang dan menerapkan hasilnya di masyarakat melalui program pengabdian kepada masyartakat di Kelurahan Sapuran, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Dr. Ir. Inggar Septhia Irawati, S.T., M.T., IPM. menjelaskan bahwa penerapan teknologi pengasapan belerang diharapkan dapat memperpanjang umur pakai bambu serta meningkatkan daya saing produk bambu lokal di pasar. “Melalui program ini, masyarakat Sapuran diharapkan mampu menerapkan teknologi pengasapan belerang secara mandiri, mengurangi kerusakan akibat hama bubuk dan pelapukan, serta meningkatkan kualitas produk bambu untuk industri bangunan dan kerajinan” ujar Inggar.
Pelatihan Intensif dan Transfer Teknologi
Kegiatan pelatihan oleh tim peneliti bambu sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam Asta Cita, khususnya agenda memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, dan teknologi. Melalui transfer teknologi ini, UGM sekaligus mendorong terciptanya pembangunan hijau dan berkelanjutan serta memperkuat desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.
Dengan menghadirkan praktisi bambu yang juga merupakan pengusaha bambu laminasi, peserta diberikan penjelasan terkait pengawetan bambu dengan metode pengasapan belerang. “Metode ini adalah yang paling sederhana, murah, dan tidak menimbulkan limbah yang esktrem.” terang Afif Hariyawan.
Pelatihan pengoperasian, pemeliharaan, dan standardisasi instalasi pengasapan belerang ini tidak hanya bertujuan meningkatkan keterampilan teknis masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat ekonomi hijau (green economy) di daerah pedesaan. Melalui kegiatan ini diharapkan tercipta dampak ganda, yakni peningkatan daya saing produk bambu sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat Sapuran secara berkelanjutan. (Humas FT: Eko H, disunting oleh: radaevaerrisyasyam, foto: Eko H)