Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) kembali mengadakan Valedictory Lecture Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D. pada Selasa (28/07/2026) di Gedung SGLC FT UGM. Kegiatan Valedictory Lecture bertujuan untuk merayakan legacy yang telah didedikasikan Prof. Wiendu selama lebih dari empat dekade di bidang arsitektur, kebudayaan, dan pariwisata Indonesia. Valedictory Lecture dihadiri oleh Dekan Fakultas Teknik Prof. Selo, Ketua Senat Fakultas Teknik, Prof. Alva Edy Tontowi, Ketua OIKN Dr. Basuki Hadimuljono, Kanjeng Gusti Pangeran Harya Panembahan Agung Tedjo Wulan, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusuma, Prof. Dr. H. Sapta Nirwandar, S.E., Ketua Wamen Club yang hadir bersama 10 Wamen era Presiden SBY, Prof Tumiran, Prof Baiquni, Prof. Wening, dan tamu undangan lainnya.
Acara dimulai dengan membacakan latar belakang Prof. Wiendu yang menempuh pendidikan S1 di Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, lalu melanjutkan pendidikan S2 di University of Wisconsin Amerika Serikat dan École Spéciale d’Architecture Paris, hingga meraih gelar doktor di University of Surrey dan Bournemouth, Inggris. Karirnya terus menanjak seiring kontribusinya dalam bidang pendidikan dengan menjadi Guru Besar Arsitektur dan Perencanaan Pariwisata FT UGM selama hampir 20 tahun. Selain itu, beliau menggeluti dunia arsitektur, budaya dan pariwisata lebih dari 40 tahun, menghasilkan lebih dari 150 karya desain. Ketika menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Republik Indonesia Kabinet Indonesia Bersatu (2011-2014). Beliau menerima penghargaan Bintang Maha Putra Utama, Piagam Tanda Kehormatan dari Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono.
Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Selo. Dalam pidatonya, Prof. Selo menunjukkan kekagumannya pada Prof. Wiendu yang konsisten memperjuangkan dan mengembangkan bidang ilmu arsitektur yang dikaitkan dengan di kehidupan nyata. Prof. Wiendu mengintegrasikan keahlian keteknikan dengan pendekatan humaniora dengan kebudayaan. Kiprah Prof. Wiendu di eksekutif sebagai Wakil Menteri telah menjadi kebanggaan Fakultas Teknik. Selama berkiprah di Fakultas Teknik selama 40 tahun, Prof Wiendu telah memberikan banyak pemikiran yang disumbangkan, terakhir Prof. Wiendu menyarankan untuk mempercantik lingkungan Teknik dengan menambahkan pohon besar sebagai kenang-kenangan Prof. Wiendu kepada FT UGM. “Semoga kontribusi dan peran Beliau dalam membesarkan FT UGM dapat menjadi tauladan bagi kita semua terutama sivitas akademik FT” ucap Prof. Selo sebai penutup.
Sambutan dilanjutkan oleh Ketua Senat FT UGM, Prof. Alva Edy Tontowi. Prof. Wiendu bagaikan obor penerang bagi ribuan mahasiswa dan teladan nyata dalam bidang akademik, riset, dan pengabdian masyarakat. Kami berharap esensi ilmu yang ditinggalkan terus hidup dan menginspirasi generasi muda di FT UGM. Terima kasih untuk setiap ilmu,waktu, dan dedikasi yang telah diberikan serta selamat jalan dan terus berkarya.
Acara dilanjutkan dengan monolog Prof. Wiendu yang menceritakan tentang bagaimana pandangan Beliau mengenai rumah, cita-cita, prestasi, dan tujuan hidup Prof. Wiendu. Setelah penampilan monolog, Prof. Wiendu hadir untuk memberikan valedictory lecture bertajuk “Rekayasa Arsitektur, Budaya, dan Pariwisata”. Trilogi yang disampaikan adalah mengenai Budaya, Arsitektur, dan Pariwisata yang membentuk sistem dan saling memberi nilai tambah.Prof Wiendu menjelaskan mengenai empat rekayasa yang menjadi dasar dalam berkarya, yaitu rekayasa teknik, rekayasa naratif, rekayasa diplomasi, dan rekayasa tata kelola. Beberapa karya yang sempat dilahirkan oleh Prof. Wiendu adalah meneliti perubahan arsitektur Bali yang merevitalisasi dengan rekayasa teknik yang menjadi desa wisata yang paling menarik dan paling sukses di dunia, museum kepresidenan Balai Kirtin Istana Presiden yang menggunakan rekayasa naratif, Pavilium Borobudur Garden yang mengangkat kebudayaan Indonesia di Vatikan menggunakan rekayasa diplomatik, dan revitalisasi kawasan dan kampung seni borobudur raya yang menggunakan rekayasa tata kelola dengan menata kembali lokasi penjual dan pariwisata di sana.
Kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran Buku Secara Simbolik yang bertajuk “Borobudur dan Kita” yang diserahkan Prof. Wiendu kepada beberapa tokoh, yaitu Dekan FT UGM Prof. Dr. Selo, Kepala Otorita IKN Dr. H. M. Basuki Hadimuljono, Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia (2011-2014) Prof. Dr. H. Sapta Nirwandar Gusti Bendara Pangeran Haryo Prabukusuma, Dirut TWB-IDM Bp. Mardijono Nugroho, Ketua Senat FT UGM Prof. DR. Alva Edy Tontowi, KGPH Panembahan Agung Tedjo Wulan, perwakilan Sekolah Seneng-Seneng Larasati, Budayawan Borobudur Sucoro Setrodiharjo, Seniman Pahat Batu I Nyoman Alim Mustapha. Buku dipublikasikan dan mulai resmi beredar secara umum mulai tanggal 5 Agustus 2026 di Gramedia.
Setelah penyerahan buku dan foto bersama, penayangan video testimoni yang dikirimkan oleh kolega, sahabat, dan murid dari Prof. Wiendu. Testimoni hangat dan penuh makna dari para kolega ditutup dengan pemberian cinderamata dari Fakultas Teknik yang diberikan oleh Prof. Selo kepada Prof. Wiendu Nuryanti dibersamai dengan putranya Mas Gandewa serta sesi foto bersama dengan seluruh peserta valedictory lecture. (Humas FT: Haniifah Multivana)