Yogyakarta, 3 November 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi lokasi pelaksanaan peletakan batu pertama rencana pembangunan Monumen Nasional Arie F. Lasut. Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam mewujudkan monumen sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa serta perjuangan Arie Frederick Lasut, seorang geologiwan sekaligus Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang memiliki peran penting dalam sejarah pertambangan dan geologi Indonesia. Kehadiran monumen tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus penguatan nilai nasionalisme, integritas, dan tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya alam.

Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Utama MIND ID, Maroef Syamsoeddin; Kepala Badan Geologi, Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si.; Ketua Pengurus Pusat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (PP IAGI), STJ Budi Santoso, S.T., M.Econ.Geol.; Direktur Utama Eksplorasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE); Direktur Utama J Resources; Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik UGM; Ketua Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM; serta sejumlah tamu undangan. Diawali Laporan Ketua IAGI Pengda DIY-Dr. Ir. Sutarto, M.T., dilanjutkan dengan sambutan Ketua PP IAGI-STJ Budi Santoso, S.T., M.Econ.Geol, kemudian sambutan Dekan FT UGM yang diwakili oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FT UGM – Prof. Sugeng Sapto Surjono, dan Kepala Badan Geologi – Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si.
Prosesi Peletakan batu pertama dilaksanakan melalui kolaborasi IAGI, Departemen Teknik Geologi FT UGM, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), dan Universitas AKPRIND Indonesia. Prosesi tersebut dilakukan oleh Direktur Utama MIND ID Maroef Syamsoeddin, Kepala Badan Geologi Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si., Ketua Pengurus Pusat IAGI STJ Budi Santoso, S.T., M.Econ.Geol., Wakil Dekan Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan FT UGM Prof. Sugeng Sapto Surjono, dan Ketua IAGI Pengurus Daerah DIY Dr. Ir. Sutarto, M.T., serta disaksikan oleh tamu undangan. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan ini mencerminkan komitmen bersama untuk mengabadikan kontribusi A.F. Lasut sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat terhadap sejarah perkembangan ilmu kebumian Indonesia.Rencana pembangunan Monumen Nasional Arie F. Lasut merupakan inisiatif Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) bersama Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY), Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), dan Universitas AKPRIND Indonesia. Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen bersama komunitas geologi dan institusi pendidikan tinggi dalam mengenang serta mengabadikan kontribusi tokoh yang telah meletakkan fondasi penting bagi perkembangan geologi dan pertambangan nasional.
Arie Frederick Lasut lahir di Tondano, Sulawesi Utara, pada 6 Mei 1914. Ia menempuh pendidikan di bidang geologi dan memulai kariernya sebagai geologiwan pada 12 Februari 1940. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, A.F. Lasut turut berjuang mengambil alih dan mempertahankan kantor pemerintahan pertambangan dan geologi dari kekuasaan Jepang. Ia kemudian memimpin Pusat Djawatan Tambang dan Geologi serta berperan besar dalam menjaga keberlangsungan lembaga tersebut selama masa Perang Kemerdekaan Indonesia.
Di tengah situasi perang dan pengungsian, A.F. Lasut tetap menunjukkan dedikasi besar terhadap pengembangan bidang pertambangan dan geologi Indonesia. Berbagai upaya dilakukannya, mulai dari menyelamatkan dokumen-dokumen penting pertambangan dan geologi, mengembangkan pendidikan melalui pendirian Sekolah Pertambangan dan Geologi Tinggi, membuka kantor cabang Pusat Djawatan di Bukittinggi, hingga melaksanakan penyelidikan geologi di sejumlah wilayah.

Perjuangan A.F. Lasut berakhir pada 7 Mei 1949 setelah ia diculik dan ditembak oleh tentara Belanda di kawasan Jalan Pakem, Yogyakarta. Atas jasa dan pengorbanannya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 012/TK/Tahun 1969 tertanggal 20 Mei 1969. Penghargaan tersebut menegaskan kedudukan Lasut sebagai tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan sekaligus memberikan kontribusi bagi pembentukan dan keberlanjutan kelembagaan geologi serta pertambangan nasional.
Melalui pembangunan Monumen Nasional Arie F. Lasut, FT UGM bersama para mitra berharap dapat menghadirkan sarana pembelajaran sejarah yang tidak hanya mengenang jasa seorang pahlawan, tetapi juga menanamkan nilai integritas, nasionalisme, keberanian, dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan. Monumen ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa, akademisi, profesional geologi, dan masyarakat untuk meneruskan semangat pengabdian A.F. Lasut melalui riset, inovasi, pendidikan, serta pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penjaga memori kolektif bangsa dan penggerak pembangunan berbasis ilmu pengetahuan untuk masa depan Indonesia.
(kontributor: Maya Kristine Kusumaningtyas, editor: Franky Argus Adiwena)