Upaya mengatasi keterbatasan air bersih di Padukuhan Pengos, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, diwujudkan melalui HydroConnect Project. Program yang diinisiasi oleh mahasiswa Teknik Kimia dan Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menghadirkan sistem penampungan air hujan berkapasitas lebih dari 30.000 liter yang dilengkapi teknologi filtrasi pintar berbasis Internet of Things (IoT) dan panel surya.
Peresmian HydroConnect Project pada Sabtu (28/3) menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi tersebut oleh masyarakat setempat. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur penampungan air, tetapi juga pada edukasi dan pendampingan masyarakat agar fasilitas yang dibangun dapat dikelola secara berkelanjutan.
Sistem yang dikembangkan mengintegrasikan teknologi filtrasi air dengan IoT untuk memantau kualitas air secara real-time melalui dasbor digital. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kondisi air dan menjadikannya sebagai salah satu acuan untuk menentukan kebutuhan perawatan sistem filtrasi. Sementara itu, panel surya dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk mendukung operasional sistem dengan lebih ramah lingkungan.
Kepala Padukuhan Pengos, Bayu Ratno Murti, menyampaikan apresiasinya kepada PT Telkom Indonesia sebagai sponsor utama, Departemen Teknik Kimia, dan Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi UGM atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat.
“Dengan tangki penampungan ini, kebutuhan air di dukuh kami dapat tercukupi. Semoga ke depannya fasilitas ini dapat membantu mengatasi permasalahan kebutuhan air di Padukuhan Pengos,” ujarnya.
Selain menghadirkan infrastruktur, HydroConnect Project turut membekali masyarakat dengan pengetahuan mengenai pentingnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, khususnya konsumsi dan sanitasi. Warga juga mendapatkan pendampingan mengenai pemeliharaan sistem filtrasi dan panel surya, serta pengenalan aplikasi digital untuk memantau kualitas air.
Duta Lingkungan Indonesia 2025, Antonia Elena, menilai pemanfaatan teknologi dalam HydroConnect Project menjadi salah satu upaya untuk menjawab keterbatasan air sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
“Dengan menghadirkan tangki penampungan air hujan, proyek ini menjadi jawaban atas keresahan masyarakat dan keterbatasan air di Padukuhan Pengos. Menurut saya, hal ini merupakan wujud sinergi antara warga, UGM, dan PT Telkom Indonesia untuk mewujudkan transformasi yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim HydroConnect juga mendorong pembentukan local heroes, yaitu warga setempat yang akan berperan dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas. Keterlibatan masyarakat diharapkan dapat menjaga fungsi infrastruktur sehingga manfaatnya tidak berhenti setelah peresmian.
Project Director HydroConnect Project, Agatha Thea Athalia, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berhasil dibangun, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri.
“Bersama HydroConnect, kami tidak hanya membangun infrastruktur fisik, melainkan juga membangun masyarakat yang berdaya. Kami percaya bahwa kolaborasi antara inovasi teknologi tepat guna dan masyarakat yang berdaya adalah kunci untuk mengubah tantangan menjadi harapan,” tuturnya.
Melalui HydroConnect Project, mahasiswa UGM bersama masyarakat dan PT Telkom Indonesia berupaya menghubungkan inovasi teknologi dengan kebutuhan nyata di lingkungan masyarakat. Perpaduan pemanfaatan air hujan, teknologi pemantauan, energi surya, dan pemberdayaan warga menjadi bagian dari upaya membangun sistem penyediaan air yang lebih berkelanjutan di Padukuhan Pengos.
Data & Dokumentasi: Tim HydroConnect