Yogyakarta, 10 Juli 2026—Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) melaksanakan kegiatan Valedictory Lecture Prod. Sudaryono yang bertajuk: “Pertanggungjawaban Aksiologis Ilmu-Ilmu Teknik di Hadapan Peradaban Manusia dan Semesta”. Kegiatan dilakukan untuk menghormati jasa-jasa Prof Sudaryono sebagai Guru Besar di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Departemen Teknik Arsitektur dan Perecanaan (DTAP). Kegiatan dimulai dengan pembukaan dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada.
Acara dimulai dengan sambutan oleh Dekan Fakultas Teknik, Prof. Selo yang mengungkapkan kekagumannya pada Prof. Sudaryono. Sebagai Dekan, Prof Selo banyak terbantu oleh Prof. Sudaryono yang menjabat sebagai Ketua Senat yang selalu mengingatkannya dalam pengambilan keputusan. “Prinsip Prof. Sudaryono yang saya kagumi adalah elengke, elokke, dan eman. Hal inilah yang saya bawa untuk menerapkan SHE (Safety, health, and enviroment), apabila terdapat civitas akademik yang melanggar peraturan patut diingatkan terlebih dahulu, bila tidak mempan maka harus diberi teguran atau peringatan. Hal inilah yang menggambarkan bahwa FT UGM “eman” kepada setiap anggotanya” ujar Prof Selo. Selama menjabat sebagai Dekan, Prof Selo mendapatkan arahan dan bimbingan dari Prof. Sudaryono yang sedang menjabat sebagai ketua senat. Ibarat setiap kebijakan Prof. Selo yang selalu “gas” terus, Prof. Sudaryon menjadi “rem” yang akan menjaga keseimbangan. Pak Dekan mengucapkan banyak terima kasih karena Prof. Sudaryono turut membesarkan Fakultas Teknik dan menjadi motivasi untuk pengurus berikutnya.
Acara dilanjutkan dengan paparan oleh Prof. Sudaryono yang berisikan pengertian dan hakikat ilmu yang bertujuan untuk membantu masyarakat luas. Ilmu harus didasari pada pikiran, hati, dan tindakan yang baik. Prof. Sudaryono merasa terhormat mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjumpaan dengan mitra sesama dosen, mahasiswa, dan masyarakat. Ilmu termasuk dalam kategori dua dimensi (2D), yaitu sebagai pilihan yang kita ambil karena ketertarikan kita terhadap sesuatu dan sebagai perpanjangan tangan untuk terus menyebarkan keilmuan ke khayalak luas. Prof. Sudaryono berharap kepada dosen muda untuk terus membangun identitas keilmuan yang menyangkut ilmu kepada setiap lapisan masyarakat untuk mencapai nilai yang ditujukan untuk apa dan siapa.
Testimoni pertama diberikan oleh rekan dosen di Departemen Teknik Arsitektur dan Perecanaan, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D. Dalam paparannya, purna tugas bukan akhir perjalanan melainkan merupakan jejak langkah untuk generasi berikutnya. Bagi rekan, Prof. Sudaryono tidak hanya senior atau guru bear melainkan panutan akademik yang selalu konsisten. Jejak akademik tidak hanya berupa karya penelitian tetapi juga anak akademik yang menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Paparan testimoni berikutnya diberikan oleh Hartono, S.IP, Tendik dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan (DTAP). Hartono memaparkan kebaikan Prof. Sudaryono semasa bekerja sebagai rekan dalam tim. Pribadi Prof. Sudaryono yang santun akan memberikan panutan bagi setiap orang yang mengenalnya.
Testimoni berikutnya diberikan oleh perwakilan alumni, Dr. Dermawati. Beliau belajar banyak dari Prof. Sudaryono selama menempuh S3 karena mendapatkan banyak pemahaman dan ilmu yang berguna selama pembelajaran. Prof. Sudaryono bagaikan lentera yang menyinari segala permasalahan dan membantu menyelesaikan benang kusut dalam permasalaha di lingkungan kota. Dr. Dermawati menyampaikan terima kasihnya pada Prof. Sudaryono atas segala ilmu yang telah diberikan.
Testimoni selanjutnya diberikan oleh Wiwid Diniati, M. U. R. P. yang telah mendapatkan bimbingan dari Prof. Sudaryono. Wiwid mendapatkan ilmu bahwa perencanaan harus memikirkan secara kompleks atas apa yang kita rancang. Melalui Prof. Sudaryono, pikiran Wiwid tercerahkan bahwa ketika perencanaan pemukiman harus melihat dalam setiap roh dan kebudayaan di wilayah tersebut. Ciri khas pemukiman, penghuni, dan kebudayaan tidak boleh dihilangkan karena telah menjadi identitas. Sikap dan prinsip inilah yang menjadi pegangan Wiwid dalam bekerja membangun dan merencanakan sebuah kawasan.
Testimoni terakhir diberikan oleh Prof. Sutaryo kolega dari Prof. Sudaryono. Prof. Sutaryo menerapkan konsep Ngerti, ngersakne, lan ngelakoni yang telah didapatnya dari Prof. Sudaryono. Ilmu yang diberikan harus dapat memahami, merasakan, dan menjalani dengan sepenuh hati. Prof. Sutaryo mengatakan bahwa Prof. Sudaryono meneruskan cita-cita pendiri bangsa yang terus melanjutkan dunia pendidikan seperti layaknya Ki Hajar Dewantara.
Acara dilanjutkan dengan memberikan cenderamata dari Fakultas Teknik kepada Prof. Sudaryono. Penutupan dilanjutkan dengan foto bersama dan kenang-kenangan dan makan siang bersama. (Humas FT: Haniifah Multivana)
