Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitas vulkaniknya yang tinggi menyebabkan perubahan geomorfologi yang sangat dinamis, khususnya pada sistem sungai di lerengnya. Perubahan kecil pada dasar sungai dapat berdampak besar terhadap potensi aliran lahar yang mengancam kawasan permukiman di hilir. Oleh karena itu, pemantauan kondisi sungai di kawasan Merapi perlu dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis data jangka panjang.
Berangkat dari urgensi tersebut, Universitas Gadjah Mada bersama dua universitas dari Jepang, yaitu Niigata University dan Shinshu University, melaksanakan kunjungan lapangan dan diskusi riset bersama pada 20–22 Februari 2026.
Delegasi Jepang yang dipimpin oleh Prof. Yutaka Gonda dan Prof. Daizo Tsutsumi melakukan observasi untuk mengkaji perubahan alur serta dasar sungai pada hulu-hulu sungai di lereng Merapi. Hasil pengamatan lapangan ini nantinya akan dibandingkan dengan data pemantauan pada tahun-tahun sebelumnya guna mengidentifikasi perubahan morfologi sungai secara lebih akurat.
Pada hari pertama, rombongan melakukan observasi lapangan di Sabodam Nglumut, Automatic Water Level Recorder (AWLR) Sungai Krasak, serta Museum Gunung Merapi. Kegiatan ini didampingi oleh Dheka Shara Pratiwi (mahasiswa S3), Santosa Sandi Putra, Ph.D. dari Balai Teknik Sabo, M. Sulaiman, D.Eng., serta Dr.sc.tech. Adhy Kurniawan dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Observasi difokuskan pada pengamatan kondisi morfologi sungai, peran sabo dam dalam mengendalikan pergerakan sedimen, serta keandalan instrumen pemantauan debit dan muka air.
Tim kemudian melanjutkan kegiatan pada hari kedua dengan observasi ke Sabodam Taman Nasional Merapi Jurang Jero, Sabodam Ngablak PU D2, Sabo Dam Bronggang, serta Kali Putih. Serangkaian kunjungan ini memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai distribusi sedimen serta perubahan morfologi dasar sungai pascaerupsi Merapi.
Diskusi riset yang diselenggarakan di kampus Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan (DTSL) FT UGM (22/2/2026) menjadi penutup rangkaian panjang kunjungan lapangan tersebut. Beberapa dosen DTSL FT UGM yang ikut hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Prof. Adam Pamudji Rahardjo, Neil Andika, Ph.D., Vempi Satriya, Ph.D., dan Rachmad Jayadi, Ph.D. Tidak hanya dihadiri oleh dosen ataupun pakar dari UGM, tetapi juga dari luar UGM, seperti Jazaul Ikhsan, Ph.D. dan Dr. Ani Hairani dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Melalui kerja sama ini, para peneliti sepakat untuk melanjutkan kolaborasi riset yang berfokus pada pemantauan perubahan morfologi sungai di lereng Merapi serta pengembangan sistem mitigasi bencana berbasis data yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Artikel ini disadur dari laman resmi Universitas Gadjah Mada.