Karimunjawa dikenal sebagai surga wisata bahari. Namun di balik laut birunya, tersimpan persoalan sampah yang terus menumpuk. Pulau kecil dengan arus wisatawan yang tinggi itu menghasilkan limbah setiap hari. Sayangnya, sistem pengelolaan sampah di pulau tersebut belum sepenuhnya optimal.
Berangkat dari gagasan tersebut, Adnan Ghalib mahasiswa Teknik Mesin 2022 membawa program kerja Pembuatan Incinerator Skala Rumah Tangga sebagai Proyek Pilot Percontohan. Program kerja itu ia bawa selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN)-nya di Desa Karimun, Kecamatan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.
“Di Karimun salah satu permasalahan utamanya adalah sampah. Karimun pulau kecil, sedangkan wisatawannya tinggi. Padahal setiap orang bawa sampah. Mau dibawa ke mana sampahnya?” jelas Ghalib ketika ditanya mengenai latar belakang program kerjanya (13/2/2026).
Ghalib juga menjelaskan bahwa sebetulnya sudah ada fasilitas pengolahan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), seperti mesin pirolisis, alat pembuat pupuk, hingga insinerator skala besar. Namun, ketika ia berbincang dengan perangkat desa, Ghalib menemukan fakta bahwa insinerator tersebut tidak lagi berjalan efektif.
“Di sana ada insinerator besar yang ‘high level’, tapi nggak dioperasikan dan hanya dijalankan selama dua tahun, kurang efektif kalau kata perangkat desanya” tambah Ghalib.
Untuk menangani hal tersebut, Ghalib memilih pendekatan sederhana, yaitu membangun insinerator skala rumah tangga sebagai proyek percontohan yang bisa dibuat dan diimplementasikan oleh semua orang.
Keraguan, Keterbatasan, dan Tekanan Waktu
Saat proses perancangan dimulai, Ghalib mengakui bahwa ia tidak langsung memiliki kepercayaan diri penuh terhadap gagasannya.
“Saat itu posisi aku juga belum punya pengetahuan yang cukup.”
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh jadwal Ghalib yang sangat padat selama masa persiapan KKN. Menjelang keberangkatan, Ghalib harus mempersiapkan final lomba yang berlangsung di Padang. Setelah ia kembali ke Yogyakarta, ia langsung dihantam Ujian Akhir Semester (UAS) dan capstone. Begitu seluruh rangkaian itu selesai, Ghalib segera berangkat ke lokasi KKN di Karimun tanpa jeda persiapan yang panjang.
Tak hanya keterbatasan waktu persiapan, Ghalib juga mengakui bahwa dana program kerja yang tersedia sangat terbatas. Setiap mahasiswa hanya memperoleh alokasi sekitar tiga ratus ribu rupiah, sementara setiap mahasiswa memiliki kewajiban melaksanakan lima program kerja.
“Artinya, kalau anggaran biaya insinerator ini lebih (dari 300 ribu) aku harus nombok. Jadi, aku usahain rancang bagaimana caranya budget insinerator masih dalam jangkauanku” jelas Ghalib.
Diskusi Panjang dan Ekspektasi Besar Masyarakat
Dalam pertemuan awal dengan perangkat desa, berbagai usulan teknis bermunculan. Ada yang mengusulkan penambahan blower atas-bawah, ada pula yang menyarankan penggunaan kompor alih-alih kayu bakar. Namun, setelah ditinjau oleh Ghalib, secara teknis dan finansial, usulan tersebut tidak realistis. Tantangan lain muncul dari persoalan lahan. Permukiman di Karimunjawa yang cukup padat membuat pencarian lokasi pembangunan tidak mudah.
Di tengah berbagai pertimbangan tersebut, perangkat desa juga memberikan berbagai dukungan. Mereka bersedia membuka lahan untuk pembuatan insinerator itu. Awalnya Ghalib hanya membutuhkan area sekitar 2×2 meter, tetapi ternyata lahan yang disiapkan ternyata jauh lebih luas dari perkiraannya. Di momen itulah ia merasakan besarnya ekspektasi sekaligus kepercayaan perangkat desa terhadap insinerator rancangannya.
“Di situ aku paparin lagi insinerator rancanganku dan singgung terkait keterbatasan dana,” cerita Ghalib.
Setelah diskusi lanjutan, perangkat desa tidak lagi sekadar memberi saran, melainkan memberikan mandat penuh.
“Yasudah mas, buktikan. Tidak usah khawatir biayanya,” ujar perangkat desa kepada Ghalib.
Kalimat singkat itu menjadi titik balik. Jika sebelumnya biaya sempat menjadi kekhawatiran utama, maka setelah pernyataan tersebut, persoalan biaya bukan lagi hambatan.
Dua Pekan Penentuan, Proses Menuju “Api Pertama”
Lampu hijau pembangunan baru Ghalib peroleh ketika masa KKN tersisa dua minggu. Kondisi tersebut membuat seluruh tahapan harus diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas. Ghalib menggunakan hari Rabu untuk melakukan survei akhir dan finalisasi teknis. Kemudian, ia dan tim memanfaatkan hari Sabtu untuk melaksanakan pembangunan fisik.
“Ngerjainnya benar-benar seharian dan dibantu sama semua cowok (Mahasiswa KKN) yang ada di Karimun,” kenang Ghalib.
Saat Ghalib melaksanakan uji coba pada hari Senin. Sampah yang dimasukkan ke dalam insinerator terbakar habis dalam waktu sekitar empat menit. Hasil ini sangat bagus, apabila dibandingkan dengan metode konvensional.
“Saat trial sampah 4 menit habis, jadi zero waste di hari itu. PR-nya cuma di nyalain api. Jadi, total proses hanya satu jam,” jelas Ghalib.
Ghalib dan tim melanjutkan kegiatan dengan sosialisasi kepada warga pada hari Selasa. Ghalib menjelaskan cara penggunaan, kapasitas pembakaran, serta langkah perawatan insinerator kepada warga dan perangkat desa. Warga menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap hasil uji coba tersebut. Perangkat desa bahkan menyampaikan keinginan untuk mengembangkan desain dengan kapasitas yang lebih besar.
Ghalib menyerahkan logbook lengkap sebelum masa KKN berakhir. Logbook tersebut berisi gambar teknik, visualisasi 3D, daftar material, langkah pembuatan, serta panduan operasional dan perawatan. Hal ini menjadi langkah keberlanjutan Ghalib terhadap program kerja ini.
Lima puluh hari di Karimunjawa menjadi pengalaman pertama Ghalib tinggal jauh dari rumah. Rasa ragu, keterbatasan dana, dan tekanan waktu menjadi bagian dari proses yang harus ia lewati sebelum akhirnya melihat hasil nyata dari apa yang ia rancang.
“Gausah takut KKN, gausah takut nggak kenal siapa-siapa, gausah takut,” pesan Ghalib pada mahasiswa lain yang hendak melaksanakan KKN. Pesan ini datang dari pengalaman pribadi Ghalib di Karimun, sebuah tempat asing yang telah menjadi ‘keluarga baru’ baginya. (Humas FT: Erry).