Tiga mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sistem (MeTSi) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa inovasi berbasis teknologi dapat menjadi bagian dari solusi nyata. Laode Masri Ande Kolewora, Arham, dan Saiful. M berhasil meraih medali perunggu dalam ajang International Student Summit (ISS) 2026 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 14–15 Februari 2026.
Bagi Masri, selaku ketua tim, kompetisi ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan ruang bertemunya ide-ide progresif dari berbagai penjuru dunia.
“ISS mengangkat tema Building a Sustainable and Inclusive Future dengan delapan subtema, mulai dari Agriculture hingga Tourism and Culture,” ujarnya (14/2).
Lewat karya berjudul AI-Based Climate Village Monitoring System (Proklim), tim ini menawarkan pendekatan baru dalam memantau adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat desa. Sistem yang mereka kembangkan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghadirkan monitoring secara real-time, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data. Di tengah banyaknya program berbasis komunitas yang kerap terkendala pada aspek evaluasi, inovasi ini hadir sebagai jembatan antara teknologi dan kebutuhan lapangan.
“ISS 2026 bertujuan memberikan wadah bagi mahasiswa internasional untuk berbagi ide, hasil penelitian, serta inovasi kreatif dalam menghadapi tantangan sosial dan ilmiah secara global,” tambah Masri. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa kompetisi ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi juga tentang kolaborasi dan pertukaran gagasan lintas negara.
Perjalanan mereka di ISS dimulai sejak 13 Februari 2026 dengan registrasi peserta di Alamis City Hotel, Kuala Lumpur. Hari berikutnya diisi dengan rangkaian kegiatan inti, mulai dari pembukaan resmi, pameran poster, hingga presentasi dan penilaian karya. Puncaknya, pada sesi penghargaan, nama tim MeTSi UGM diumumkan sebagai peraih medali perunggu—sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menegaskan kualitas riset mahasiswa Indonesia di kancah internasional.
Tak berhenti pada kompetisi, kegiatan ditutup dengan field trip ke berbagai destinasi ikonik Malaysia seperti Menara Kembar Petronas, KLCC, Dataran Merdeka, Batu Caves, dan Pasar Seni. Namun lebih dari sekadar kunjungan wisata, pengalaman ini memperkaya perspektif global para peserta—bahwa isu keberlanjutan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan aspek budaya, ekonomi, dan sosial.
Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak harus menunggu menjadi “ahli” untuk mulai berkontribusi. Justru dari ruang-ruang akademik seperti inilah lahir gagasan-gagasan segar yang berpotensi menjawab tantangan dunia.