Perkembangan teknologi yang pesat tak lepas dari peran manusia di dalamnya. Hadir robot humanoid yang diprogram dapat berjalan, bergerak, hingga melaksanakan aktivitas normal layaknya manusia mulai menimbulkan ancaman. Ketakutan akan tergesernya manusia dalam lingkup pekerjaan profesional semakin meningkat seiring dengan pertambahan fitur pada robot humanoid.
Menyoroti fenomena robot humanoid, Dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri FT UGM, Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D, menegaskan bahwa inovasi teknologi yang ada pada saat ini bukan merupakan hasil instan yang selesai dalam satu malam. Butuh proses panjang dan banyak penyesuaian secara bertahap dari pengembangan teknologi mesin. Menurut Ardi, mesin merupakan alat yang dimanfaatkan manusia untuk membantu meraih tujuan, sedangkan robot yang kita kenal merupakan turunan dari mesin yang diotomatisasi untuk menjalankan tugas secara berulang dalam jumlah besar. “Mesin itu adalah alat yang dipakai untuk membantu kita mencapai sesuatu. Nah, robot sendiri merupakan mesin yang diotomatisasi guna membantu kita untuk mencapai sesuatu tadi dengan jumlah banyak,” jelasnya.
Ketakutan akan tergantinya manusia dengan robot humanoid bergantung pada bidang dan industrinya. Ardi menegaskan bahwa robot tidak serta-merta menghilangkan peran manusia karena memiliki banyak keterbatasan yang ada pada robot seperti adanya lag atau keterlambatan respons serta pemanggilan keputusan. Teknologi robot humanoid juga memerlukan pemeliharaan berkala, perbaikan, hingga koreksi sistem yang tentunya dijalankan oleh manusia. “Kalau masih ada lag, responnya tidak akan secepat manusia dan pengambilan keputusan belum bisa secepat kita. Sebenarnya, produksi robot itu tergantung pada kebutuhan, kondisi, dan kebutuhan industri,” ungkapnya.
Terdapat risiko teknis pada robot humanoid yang menggantungkan kualitas sensor pada sistem pemrogramannya. Ardi menegaskan bahwa masalah utama dalam pengembangan robot berada pada keterbatasan sensor. Dengan kombinasi sensor yang optimal dan pemrograman yang tepat, para ahli meminimalisir risiko kesalahan yang membahayakan lingkungan sekitar. “Tergantung ke sensor dan fungsi dari pemrogramannya. Jadi, memang perlu diperiksa dulu apakah sensor yang dipakai berbahaya atau tidak,” ungkapnya.
Lebih lanjut lagi, Ardi menekankan bahwa teknologi saat ini berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia di berbagai aspek kehidupan. Robot banyak digunakan pada kegiatan industri untuk meningkatkan produksi secara massal sehingga dapat menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas produk.
Pada akhir sesi diskusi, Ardi menegaskan bahwa peran akadmisi dan generasi muda dalam perkembangan teknologi robot adalah dengan memahami sistem bagaimana robot bekerja dan penerapannya dalam suatu bidang. Banyakanya keterbatasan robot ini menjadikan peran manusia masih relevan di berbagai bidang pekerjaan. Tidak semua pekerjaan dapat digantikan robot, tetapi robot dapat dimanfaatkan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan manusia. Beberapa pekerjaan masih membutuhkan interaksi sesama manusia secara langsung, terutama di level yang lebih maju dan sulit digantikan oleh robot. “Paling utama adalah kita harus sebisa mungkin beradaptasi dengan apapun jenis teknologinya,” tutupnya. (Humas FT: Haniifah Multivana)
Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/tidak-semua-pekerjaan-bisa-digantikan-oleh-robot/