“Mulai dari awal itu penting banget. Kalau dari kuliah udah nyicil pengalaman, nanti pas lulus lebih siap dan lebih percaya diri,” ujar Dewi Sintia Reka, alumni Teknik Geologi 2017.
Alih-alih menunggu lulus untuk merasa siap, Dewi justru memulai lebih awal dengan terlibat dalam proyek-proyek dosen sejak semester enam, khususnya di bidang geologi minyak bumi. Dari sana, ia tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga mulai membaca arah industri dan menemukan minatnya. Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia kerja.
Kesadaran untuk mempersiapkan diri sejak dini mendorong Dewi aktif mencari peluang magang melalui berbagai cara, mulai dari LinkedIn, komunitas Kageogama (Keluarga Alumni Teknik Geologi Gadjah Mada), hingga mengirim proposal magang secara mandiri. Upaya tersebut membuahkan hasil pada pengalaman magang pertamanya yang justru mengarahkan minatnya ke bidang petrofisika.
“Dari magang pertama itu, aku mulai tertarik ke petrofisis,” ujarnya.
Setelah lulus, Dewi sempat bergabung dengan Pertamina Hulu Indonesia. Namun, ia tidak berhenti pada satu titik. Ia tetap membuka diri terhadap berbagai peluang dan terus mengeksplorasi kemungkinan lain. Dalam prosesnya, ia memahami perbedaan mendasar antara wireline dan petrofisika, dua bidang yang sempat ia minati. Wireline berfokus pada pengambilan data di lapangan, sementara petrofisika yang menitikberatkan pada pengolahan serta interpretasi data. Pilihan Dewi akhirnya jatuh pada petrofisika karena sesuai dengan minatnya pada analisis.
“Karena suka analisis, dan bidang ini juga yang bawa saya bisa kerja overseas. Tapi tetap, jangan kaku di satu bidang, stay fleksibel, keep learning, dan jangan takut explore hal baru,” tuturnya.
Salah satu pengalaman menarik Dewi adalah mengikuti student exchange di Lakehead University, Kanada. Ia mengambil tiga mata kuliah setara dua belas SKS dan berhasil meraih IPK 4. Namun, yang paling berkesan baginya adalah budaya belajar di mana dosen lebih terbuka dengan pertanyaan mahasiswa. Budaya belajar tersebut mendorongnya untuk lebih aktif bertanya dan berdiskusi.
Di akhir ceritanya, Dewi berpesan, “CV yang dilirik itu bukan yang paling ramai, tetapi yang punya cerita dan vibes yang berbeda.” Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menambah pengalaman melalui pelatihan, organisasi, maupun proyek yang relevan.