Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) mengawali pekan ini dengan menyelenggarakan Seminar Nasional Keinsinyuran Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) di Smart and Green Learning Center (SGLC) FT UGM, Senin (19/10). Kegiatan ini menjadi forum bagi para peserta untuk memahami peran insinyur dalam pengembangan produk industri, penguatan kemampuan manufaktur, serta peningkatan daya saing Indonesia.
Dalam sambutannya, Dekan FT UGM, Prof. Sugeng Sapto Surjono, menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang telah memilih PSPPI UGM sebagai tempat untuk menempuh pendidikan profesi insinyur. Ia juga menyampaikan bahwa keluarga besar alumni PSPPI UGM telah berjumlah lebih dari 6.000 orang.
“Sebentar lagi Bapak dan Ibu akan menjadi bagian dari keluarga besar alumni PSPPI, yang jumlahnya mencapai lebih dari 6.000,” ujarnya.
Seminar ini diikuti oleh 76 peserta dari berbagai bidang keilmuan, salah satunya Teknik Sipil, Teknologi Informasi, dan Teknik Mesin. Prof. Ir. Tumiran, M.Eng., Ph.D., IPU., Ketua Majelis Wali Amanat UGM, hadir sebagai keynote speaker untuk menyampaikan materi mengenai peran insinyur dalam pembangunan industri dan penguatan kemandirian teknologi nasional.
Dalam pemaparannya, Prof. Tumiran menekankan bahwa keunggulan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuannya mengolah sumber daya tersebut menjadi produk bernilai tambah. Insinyur memiliki peran penting dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah, kebutuhan pengguna, dan kemampuan manufaktur agar teknologi dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat.
Ia mencontohkan perkembangan industri China yang menunjukkan pentingnya penguasaan teknologi dalam mendorong kemajuan suatu negara. Dalam beberapa dekade terakhir, China memperkuat kemampuan pengembangan dan produksi teknologinya, termasuk peralatan kendali berbasis cip. Proses tersebut melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pembuatan prototipe hingga pengujian untuk memastikan keamanan dan keandalan produk.
Menurut Prof. Tumiran, insinyur perlu memiliki pemahaman mendalam mengenai teknologi yang dikembangkan, bukan sekadar kemampuan mengoperasikan peralatan.
“Bapak dan Ibu sebagai insinyur harus punya knowledge, jadi Bapak/Ibu punya added value,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Tumiran menjelaskan bahwa pengembangan produk industri berlangsung melalui beberapa tahapan yang saling berkaitan, mulai dari pembentukan teknologi, pembuktian produk, hingga industrialisasi. Proses tersebut mencakup perumusan kebutuhan dan spesifikasi, riset dan pengembangan, pembuatan prototipe, pengujian kinerja dan keselamatan, hingga persiapan produksi. Setelah memenuhi persyaratan teknis, produk perlu didukung oleh kemampuan manufaktur, pengendalian mutu, dan strategi komersialisasi agar dapat diproduksi secara berkelanjutan.
Kesiapan teknologi saja, menurutnya, belum cukup untuk menjamin keberhasilan suatu inovasi. Kesiapan manufaktur dan kelayakan pasar juga perlu diperhatikan sejak awal pengembangan. Teknologi yang telah berhasil dikembangkan berisiko tidak berlanjut ke tahap produksi apabila tidak ada pasar yang membutuhkan produk tersebut. Oleh karena itu, insinyur perlu memahami kebutuhan masyarakat dan industri agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat dimanfaatkan secara nyata.
“Jadi kadang kita buat teknologi, tapi marketnya nggak ada, ya.. masuk lembah kematian. Karena tidak ada yang mau produksi,” tambah Prof. Tumiran
Dalam proses tersebut, Prof. Tumiran turut menyoroti pentingnya dukungan politik untuk mengembangkan inovasi keinsinyuran hingga dapat diterapkan. Kemampuan teknis insinyur perlu didukung oleh kebijakan yang memungkinkan hasil pengembangan teknologi diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Insinyur tidak bisa deliver tanpa peran politik,” jelas Prof. Tumiran. Ia menekankan bahwa sinergi antara insinyur dan pengambil kebijakan diperlukan untuk mendukung penguasaan teknologi serta mewujudkan kemandirian nasional. Hal tersebut turut tercermin dalam pengalamannya berdiskusi dengan sejumlah pemangku kebijakan, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan jajaran direksi PT PLN (Persero).
Selain dukungan kebijakan, Prof. Tumiran menekankan pentingnya jejaring dan komunikasi dalam profesi keinsinyuran. Menurutnya, insinyur tidak dapat bekerja hanya dalam lingkup keahliannya sendiri, tetapi perlu membangun hubungan dan bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan pelaku industri.
“Insinyur jangan merasa kerja di dunia sendiri. Harus ada jejaring, harus ada network,” ujarnya.
Pembahasan kemudian mengarah pada peran insinyur dalam mendukung transisi dan kemandirian energi nasional. Prof. Tumiran mengaitkan penguasaan teknologi dengan kemampuan suatu negara mengembangkan industri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar negeri. Dalam konteks ini, penguatan kapasitas manufaktur menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan produktivitas nasional.
Data perbandingan konsumsi listrik per kapita yang dipaparkan dalam seminar menunjukkan bahwa Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara Asia, termasuk Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks untuk membahas tantangan produktivitas dan industrialisasi Indonesia. Meskipun konsumsi listrik per kapita bukan satu-satunya indikator kemajuan industri, data tersebut dapat digunakan untuk melihat perbedaan skala aktivitas ekonomi dan pemanfaatan energi antarnegara.
Melalui pemaparannya, Prof. Tumiran menekankan bahwa penguatan industri nasional membutuhkan keterkaitan antara kompetensi insinyur, penguasaan teknologi, kesiapan manufaktur, dukungan kebijakan, dan pembentukan pasar. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar inovasi tidak hanya berhasil dikembangkan, tetapi juga dapat diproduksi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rangkaian seminar dilanjutkan dengan sesi presentasi paralel yang berlangsung pada pagi dan siang hari. Kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman penerima penghargaan best presenter dan penutupan seminar pada sore hari.
Adapun penerima penghargaan best presenter dari tujuh ruang presentasi adalah sebagai berikut.
- Eka Septian Putra Mahardika, dengan paper berjudul Perbandingan Biaya dan Waktu Pelaksanaan Metode Erection Crawler Crane dengan Metode Gantry Launcher pada Jembatan Sungai Tempus STA 41+650.
- Rahman Danil, dengan paper berjudul Penerapan Bearing Wall Precast pada Struktur Khazanah Gedung KPwBI Provinsi Jambi: Integrasi Production, Delivery, Erection, dan Joint Work.
- Huda, dengan paper berjudul Kesiapan Infrastruktur Produksi Garam Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Pulau Rote.
- Alihsan Rahmawati, dengan paper berjudul Optimasi Operasional Packed-Bed Caustic Scrubber untuk Pengendalian Emisi H2S pada Proses Reaction Flavor.
- Agung Prasetyo, dengan paper berjudul Optimalisasi Akses Dokumen Teknis melalui Digitalisasi Identitas Peralatan pada Metering and Regulating Station (MRS) Berbasis QR Code (Digibar).
- Winadya Ayu Chandra, dengan paper berjudul Analisis Penyebab dan Penanganan Longsor STA 51+150–51+200 (L) Menggunakan Plaxis 2D pada Proyek Jalan Tol Serang–Panimbang.
-
Erwhin Imarwan, dengan paper berjudul Evaluasi Multikriteria Sistem Propulsi UAV Berbasis Data Eksperimental Menggunakan Logika Fuzzy.