Yogyakarta, 30 September 2026 – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) memperkuat transformasi menuju kampus hijau melalui Workshop Penerapan Green Building untuk Departemen di Lingkungan Fakultas Teknik UGM. Kegiatan yang diikuti sekitar 50 tenaga kependidikan bidang pengelolaan dan pemeliharaan gedung tersebut membekali peserta dengan pemahaman serta keterampilan menerapkan prinsip Green Building Management pada delapan departemen yang memiliki karakteristik dan kondisi bangunan berbeda.
Workshop tersebut diselenggarakan sebagai respons terhadap tantangan pengelolaan bangunan eksisting di FT UGM, dibuka oleh Prof. Muslikhin Hidayat selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FT UGM, dengan Narasumber Dr. Sentagi Sesotya Utami, terutama terkait efisiensi energi, konservasi air, kualitas lingkungan dalam ruang, penggunaan material, serta pengelolaan gedung secara berkelanjutan. Melalui pengenalan standar GREENSHIP dari Green Building Council Indonesia (GBCI), peserta mempelajari cara mengidentifikasi kondisi gedung, melakukan asesmen awal, berbagi praktik yang telah berjalan, serta menyusun langkah perbaikan yang dapat diterapkan sesuai karakteristik masing-masing departemen.
Penerapan konsep bangunan hijau menjadi penting karena sebagian gedung departemen FT UGM merupakan bangunan lama yang memerlukan pendekatan pengelolaan adaptif. Upaya menuju kampus berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan gedung baru, tetapi dapat dilakukan melalui optimalisasi operasional gedung eksisting, antara lain penghematan energi dan air, peningkatan kenyamanan ruang, pengelolaan material, serta penguatan sistem pemeliharaan bangunan.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan pada enam kategori utama GREENSHIP, yaitu Appropriate Site Development (ASD), Energy Efficiency and Conservation (EEC), Water Conservation (WAC), Material Resources and Cycle (MRC), Indoor Health and Comfort (IHC), serta Building and Environment Management (BEM). Kerangka tersebut menjadi acuan untuk membantu unit kerja melihat kinerja gedung secara lebih menyeluruh, mulai dari pemanfaatan tapak hingga tata kelola lingkungan bangunan.
Kegiatan juga memberikan ruang bagi setiap departemen untuk mempresentasikan penerapan green building yang telah dilakukan. Pertukaran pengalaman ini diharapkan dapat mempercepat replikasi praktik yang efektif antardepartemen, sekaligus membantu mengidentifikasi peluang quick win yang realistis, terukur, dan dapat dilaksanakan tanpa menunggu perubahan infrastruktur berskala besar. Pendekatan tersebut menempatkan tenaga kependidikan pengelola gedung sebagai bagian penting dalam perubahan perilaku dan tata kelola fasilitas kampus.
F
T UGM selanjutnya mendorong terbentuknya Green Team Departemen sebagai agen perubahan di setiap unit. Tim tersebut diharapkan mampu melakukan self-assessment, menentukan prioritas perbaikan, menyusun action plan, serta mengawal penerapan prinsip bangunan hijau secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelolaan lingkungan kampus tidak hanya bertumpu pada unit sarana dan prasarana fakultas, tetapi berkembang menjadi tanggung jawab bersama yang terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penerapan GREENSHIP secara bertahap, FT UGM menegaskan kontribusinya terhadap pengembangan kampus yang lebih efisien, sehat, nyaman, dan berkelanjutan. Langkah ini juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai laboratorium hidup (living laboratory) bagi praktik pembangunan berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan energi, air, sumber daya, lingkungan kerja, dan tata kelola institusi yang lebih bertanggung jawab. (Tim Humas FT UGM)