Yogyakarta, 28 September 2026 — Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menggelar seminar bertajuk “Kayu Transparan untuk Bangunan Berkelanjutan: Dari Inovasi Laboratorium Menuju Implementasi Industri” pada Senin (28/9). Kegiatan berlangsung di Meeting Room 2, Gedung SGLC Lantai 3, FT UGM.
Seminar menghadirkan empat narasumber dari latar belakang sains, rekayasa, regulasi dan pemerintahan, serta industri, yakni Ir. Agus Ngadianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D. dari Sekolah Vokasi UGM; Tri Mulyadi, S.Hut., M.P. dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta; Dr. Nur Abdillah Siddiq, S.T., IPP. dari FT UGM; serta Erwin Eka Andrianto, S.Hut. dari PT SIBALSA Indonesia. Kegiatan dimoderatori oleh Ir. Eko Prasetyo, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., Ketua Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM.
Dalam seminar tersebut, Ir. Agus Ngadianto menyampaikan materi mengenai “Teknologi Pengolahan Hasil Hutan: Kualitas Kayu dan Pengembangan Glulam Berbasis Kayu Hutan Rakyat di Indonesia.” Dalam pemaparannya, Ir. Agus menjelaskan bahwa kualitas kayu yang dibutuhkan bergantung pada tujuan penggunaan produk akhir. Kualitas yang dibutuhkan untuk kayu struktural, misalnya, berbeda dengan kayu yang digunakan untuk furnitur, pulp dan kertas, maupun arang dan kayu bakar.
Ia menjelaskan bahwa kualitas kayu dapat ditinjau melalui berbagai karakteristik, antara lain bentuk batang, cabang, struktur lingkaran pertumbuhan, kerapatan, orientasi serat, panjang serat, ketebalan dinding sel, sudut mikrofibril, serta keberadaan kayu reaksi. Karakteristik tersebut dapat memengaruhi kekuatan, penyusutan, maupun sifat kayu lainnya.
Penelitian kualitas kayu juga dilakukan melalui tahapan dari lapangan hingga laboratorium. Pengamatan dapat mencakup kondisi pohon, karakteristik pertumbuhan, serta pengambilan sampel untuk kemudian diuji berdasarkan sifat anatomi, fisika, mekanika, dan kimia kayu. Parameter yang diteliti antara lain kerapatan, penyusutan, modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), serta kekuatan tekan dan geser.
Salah satu aspek yang dibahas adalah variasi sifat kayu pada arah radial, yaitu perubahan karakteristik kayu dari bagian empulur menuju kulit. Ir. Agus menjelaskan bahwa pola perubahan tersebut tidak selalu berlangsung secara linear. Karena itu, penelitian menggunakan sejumlah pendekatan pemodelan untuk mengevaluasi variasi radial, dengan pemilihan model antara lain menggunakan Akaike Information Criterion (AIC).
Kajian tersebut juga berkaitan dengan proses pematangan xilem. Berdasarkan penelitian yang dipaparkan, pematangan xilem dapat berbeda menurut jenis pohon dan karakteristik yang diamati. Penentuan titik pematangan dapat dilakukan dengan mengukur karakteristik anatomi dan sifat kayu dari empulur hingga kulit, kemudian membandingkan model yang digunakan.
Dalam konteks pemanfaatan kayu hutan rakyat, Ir. Agus menyoroti bahwa sebagian besar kayu dari hutan rakyat berasal dari jenis pohon yang tumbuh cepat. Meskipun sering dikategorikan memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan jenis pohon yang tumbuh lambat, tidak seluruh bagian kayu dari pohon cepat tumbuh memiliki kualitas rendah. Oleh karena itu, pemanfaatan dapat dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan posisi kayu pada arah radial.
Pemanfaatan kayu hutan rakyat juga dibahas melalui pengembangan glulam (glued laminated timber). Ir. Agus menjelaskan dua pendekatan pembuatan glulam, yaitu menggunakan lamina dari satu spesies kayu dan menggunakan lamina dari beberapa spesies kayu. Dalam prosesnya, lamina dapat dikelompokkan berdasarkan nilai dynamic modulus of elasticity (DMOE) untuk menentukan konfigurasi laminasi. Hasil simulasi yang dipaparkan menunjukkan bahwa Glulam grade memiliki nilai DMOE lebih tinggi dibandingkan Glulam random.
Sementara itu, dari perspektif industri, Erwin Eka Andrianto dari PT SIBALSA Indonesia membahas potensi kayu balsa untuk industri komposit dan penelitian kayu transparan. Materi tersebut menyebutkan karakteristik balsa yang memiliki densitas sekitar 150 kg/m³ dan umur tebang industri sekitar tiga hingga empat tahun pada lahan yang sesuai.
Kayu balsa juga berpotensi digunakan sebagai core pada material komposit untuk menghasilkan material yang ringan dan kuat. Pemanfaatannya dapat mencakup industri energi terbarukan, maritim, dirgantara, otomotif, hingga konstruksi.
Dalam pengembangan kayu transparan, struktur sel balsa yang menyerupai honeycomb disebut membuat material ini lebih mudah ditembus cahaya. Untuk penggunaan konstruksi, balsa perlu diperkuat menjadi sandwich composite menggunakan serat dan resin agar mampu memenuhi kebutuhan kekuatan.
Melalui seminar ini, pembahasan kayu transparan ditempatkan tidak hanya sebagai inovasi material di tingkat laboratorium, tetapi juga dalam konteks karakteristik bahan baku, pengolahan, pemanfaatan, serta peluang penerapannya di industri. Materi Ir. Agus menekankan bahwa penelitian kualitas kayu dapat menjadi penghubung antara material biologis dan material industri sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya kayu secara lebih efektif.